Yogyapos.com (BANTUL) - Untuk kesekian kalinya Bimbingan Minat Baca dan Belajar Anak (biMBA) AIUEO, sebuah lembaga pendidikan anak usia dini yang berada di bawah naungan Yayasan Lembaga Pengembangan Anak Indonesia (YPAI) menggelar pentas baca bagi siswa-siswanya. Pentas sederhana di Pendopo Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bantul, Sabtu (18/1/2020) berlangsung cukup meriah. Keriuhan serta keceriaan mewarnai suasana pentas terkadang diselingi sifat lucu dan polosnya anak-anak.
Wibisono, selaku Koordinator biMBA-AIUEO wilayah Bantul kepada yogyapos.com menuturkan, kegiatan pentas baca merupakan program rutin berkelanjutan. Setidaknya dua bulan sekali pihaknya melaksanakan kegiatan semacam ini. Pentas member kesempatan anak mengekspresikan dirinya secara individu maupun kolektif dibimbing oleh guru sebagai motivator sekaligus fasilitator.
Disamping pentas baca, pihaknya juga memprogramkan kunjungan khusus ke perpustakaan tiga bulan sekali. Tujuannya tak lain agar anak bersama orangtua terbiasa datang dan memanfaatkan perpustakaan. Di perpustakaan, agenda utamanya berupa pengenalan buku pada anak, kemudian membacakan cerita. Anak diminta memilih sendiri buku yang disukainya.
“Perpusda Bantul selalu memberikan fasilitas yang kami butuhkan. Baik dalam hal kunjungan, buku-buku anak, dantempat kegiatan pentas sejak 2018 lalu. Karena program di Perpusda Bantul ini rutin, ada orangtua siswa yang akhirnya sering keperpustakaan meskipun biMBA sedang tidak berkegiatan di perpustakaan,” terang Wibisono.
Dia memaparkan lebih jauh, dunia anak adalah dunia bermain. Kegiatan belajar kategorianak usia dini haruslah bersifat menyenangkan tidak boleh memaksa. Suatu kegiatan disebut bermain apabila dalam melakukan kegiatan itu anak merasa senang, tidak merasa terpaksa atau terbebani. Ketika anak masih merasa terbebani maka itu bukanlah bermain. Para guru dan orang tua mesti menghindarinya.
BiMBA membawa konsep bermain sambil belajar. Praktiknya mengusung suasana bermain seperti mengenalkan huruf, angka, dan kata dengan cara berdialog menggunakan bahasa biMBA. Selain itu juga memakai sarana laguse bagai pengantar.
“Lagu-lagu diperdengarkan sebagai pengenalan awal sebelum mereka mengenal symbol huruf atau angka,” kata pria bertempat tinggal di Ringinharjo Bantul.
Rumah biMBA, lanjut Wibisono, bukan semacam les atau kursus membaca. Namun sesuai namanya, biMBA dapat diartikan sebagai program minatbaca dan belajar untuk anak. BiMBA sendiri merupakan anggota Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) di bawah koordinasi Perpustakaan Nasional RI.Visinya membangun generasi pembelajar mandiri sepanjang hayat atau generasi cinta dan bahagia dengan belajar setiap saat.
“Di Rumah biMBA, anak-anak kami tumbuhkan minat baca dan belajarnya. Kami bombing mereka berbekal metode dilengkapi permainan edukatif terkait hal itu,” ujarnya saat memberikan arahan pada orangtua pendamping di tempat pentas.
Wibisono menambahkan, saatini di Indonesia ada sekitar 2760 unit Rumah biMBA yang siswanya mencapai 117.200 anak. Sedangkan di Bantul sudah berdiri 11 Rumah biMBA dengan siswa lebih dari 200 anak. Kesebelas Rumah biMBA tersebut adalah: biMBA Kabupaten Bantul 0465, biMBA Bantul 0982, biMBA Ringinharjo Deresan 1371.
Berikutnya biMBA Ngestiharjo 02 (Sumberan) 1713, biMBA Trimulyo (Karangsemut) 2255, biMBA Srihardono 2355, biMBA Argosari (Tapen) 2443, biMBA Sabdodadi 2670, biMBA Banguntapan 3238, biMBA Baturetno 3479, dan biMBA Sriharjo 3587.
“Kami berharap adanya Rumah biMBA yang sudah tersebar di Bantul akan terbentuk generasi tangguh dan kreatif. Tidak menyerah dengan keadaan serta tinggi semanga tbelajarnya,” pungkas Wibisono. (Muf)
