Yogyapos.com (BANTUL) - Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menjadi pengageng (pemimpin) upacara budaya Ngarak Siwur, di Halaman Kapanewon Imogiri, Kamis (11/7/2024).
Kirab bergerak dari titik start Kantor Kapanewon Imogiri menempuh jakar 1 kilometer dan finish di Makam Para Raja Mataram Imogiri.
Para peserta kirab ke-23 yang diadakan oleh Forum Cinta Budaya (Forcib) Imogiri kali ini, diikuti para pamong dan bregodo prajurit dari kalurahan se-Imogiri.
BACA JUGA: Pengurusan SKCK Difabel, Polres Bantul Gulirkan Program 'Kamu Daftar Saya Datang'
“Kita perlu melestarikan budaya jawa adiluhung, salah satunya ngarak siwur ini,” ucap Bupati.
Bupati dan para lurah kirab dengan naik andhong. Para bregodo unjuk kebolehan dalam berbaris dan kirab. Acara ini sebagaimana biasanya menjadi tontonan ribuan warga. Mereka berjajar di tepian jalan yang dilalui kirab.
Tombak Kiyai Giri Puspo dan Songsong (Payung) Kyai Murti Hancolo dari Pengageng Abdi Dalem Kraton Yogyakarta kepada Bupati Bantul || YP-Supardi
Pada upacara juga dilakukan penyerahan Kyai Sewur Imogiri, Tombak Kiyai Giri Puspo dan Songsong (Payung) Kyai Murti Hancolo dari Pengageng Abdi Dalem Kraton Yogyakarta kepada Bupati Bantul. Ketiga pusaka itu dilanjutkan diserahkan kepada Panewu Imogiri Slamet Santoso selanjutnya dikirabkan.
BACA JUGA: Keren Nih, 'Pandawa Mangkal' Segera Beraksi di Empat Kecamatan
Siwur setelah dikirab diserahkan kepada Pengageng Juru Kunci Makam Imogiri di Makam itu. Siwur akan digunakan untuk menguras air kong pada upacara tradisional budaya nguras kong (semacam padasan) yang ada di Makam itu. Proses nguras dilaksanakan pada Jumat (12/7) pagi. Biasanya sebagian orang mempercayai airnya membawa berkah sehingga banyak orang yang mencarinya.
“Saya gembira penyelenggaraan kirab budaya ini. Marilah kita bersama-sama dengan penuh semangat dan rasa tanggungjawab untuk melestarikan budaya Jawa Mataram adiluhung,” ajak Bupati Abdul Halim Muslih.
BACA JUGA: Lama Tak Manggung, Sunyahni Tampil Menghibur di Panggung Seni TBY
Pelestarian budaya berdasarkan dan berlandaskan dawuh (perintah) Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X.
“Perintah itu greget (semangat dan berdidikasi), nyawiji (kompak dan bersatu), golong gilig (penuh kerukunan) dan sengguh ora mingkuh (penuh tanggung jawab tanpa putus asa),” katanya.
Falsafah tersebut juga dapat diterapkqn dalam kehidupan bagi semua orang agar hidupnya meraih kesuksesan. (Spd)
