Covid-19 Di Yogya Kini: Puncak Bahaya atau Puncak Pandemi?

share on:
Wakil Walikota Yogya, Heroe Poerwadi || YP-Dok

PANDEMI Covid-19 sudah cukup lama ‘gentayangan’ hingga ke wilayah kota Yogyakarta. Bahkan telah menyusup ke tubuh-tubuh sejumlah warganya. Sekitar 50 hari masyarakat lebih memilih berada di dalam rumah sesuai anjuran pemerintah. Hingga tak pelak rasa jenuh pun meruak, sebagian besar diantaranya secara ekonomi merasa sangat terdampak.

Dalam masa-masa kelam dirundung jenuh, muncul pertanyaan kapan ‘momok’ wabah itu akan berakhir. Apakah kini telah mencapai puncaknya dan cenderung akan mengalami penurunan karena jalanan di Yogyakarta telah relatif ramai dibandingkan beberapa hari sebelumnya, atau sekaranglah masa-masa paling berbahaya. Bukankah tingkat keramaian lalu lintas beberapa hari terakhir ini justru akan memicu kembali peningkatan penularan. Adakah transmisi lokal telah terjadi sekarang. Lantas seberapa signifikan dan diindahkan imbauan agar ‘tidak mudik’ oleh masyarakat dalam rangka menangkal tuntas persebaran Covid-19?

Terhadap serangkaian pertanyaan itu, Wakil Walikota Yogya Drs Heroe Poerwadi MSi menyatakan bahwa untuk menjawabnya diperlukan pembacaan data mutakhir. Data kasus Covid-19 selama beberapa hari atau dua minggu terakhir memang cenderung stabil dan trennya menurun.

Kasus positif atau konfirm berkisar di angka 2-7. Bahkan jika dilihat lebih dalam maka yang sekarang ada yaitu 7 positif, sebenarnya berada di tiga keluarga saja. Begitu juga kasus PDP, angkanya cenderung turun terus. Bahkan sekarang di angka 8 kasus PDP. Begitu juga angka ODP. Jika dibandingkan dangan bulan Maret, yang bisa mencapai 200-300 kasus, dalam seminggu ini berkisar diantara 60-75 selalu naik turun.

“Kalau melihat kasusnya yang terlaporkan tersebut, maka bisa dikatakan dalam seminggu ini kasus Covid-19 di kota Yogyakarta cenderung stabil dan tren menurun,” ujarnya, Rabu (29/4/2020) malam.

 

Antara Data Faktual dan Tersembunyi

Meski demikian, lanjut dia, persoalannya adalah apakah data itu faktual atau data tersembunyi? Data faktual adalah bahwa angka-angka tersebut menunjukkan hal yang sebenarnya terjadi. Walau sudah dua minggu jalanan kota dan pasar-pasar tradisonal padat, angka kasusnya tidak menunjukkan peningkatan jumlahnya. Ini berarti transmisi lokal, tidak terjadi. Asumsinya jika transmisi lokal sudah terjadi, disamping kasus PDP dan konfirm positif meningkat maka angka ODPnya harusnya naik juga. Padahal, angka yang dilaporkan menunjukkan status cenderung turun. Sehingga jika data angka-angka tersebut itu faktual, maka sudah saatnya kasus di kota Yogyakarta menurun terus. Apalagi jika larangan mudik dan pemeriksaan di setiap kota efektif, tentu potensi angka kasunya akan terus menurun.

Tetapi kita harus waspada dan hati-hati, sebelum mempunyai kesimpulan bahwa kasus Covid-19 di Kota Yogya sudah melewati puncak dan cenderung menurun. Mengapa? Sebab bisa jadi data-data itu bukan faktual tapi data sebenarnya tersembunyi. Bukan dalam arti disembunyikan atau tidak diungkap ke publik. Tapi adanya perubahan perilaku masyarakat di bulan Maret dengan perilaku di bulan April itu berbeda.

“Kita masih ingat dan punya data tatkala di bulan Maret lalu, warga Yogyakarta banyak yang berbondong-bondong ke faskes seperti Puskesmas, atau Rumah Sakit terdekat, karena kepanikan atau kecemasan atas gejala demam, batuk dan sesak napas yang dialaminya. Sehingga selama bulan Maret warga Yogyakarta per hari antara 450-600 orang mengunjungi puskesmas dan rumah sakit utk periksa. Hal itu terjadi karena saat itu, menjadi penderita Covid-19 seperti menakutkan dan aib. Sehingga begitu mengalami gejala mirip Covid-19, segera mengunjungi faskes terdekat. Tinggilah angka ODP dan PDPnya,” terangnya.

Tetapi, papar Heroe, nampaknya sejak akhir Maret sampai sekarang kasusnya cenderung turun drastis. Warga yang berkunjung ke faskes tinggal 100/hari dan kini sekitar 75 orang/hari. Apalagi angka kesembuhan juga semakin meningkat, dan pemahaman terhadap Covid-19 juga semakin meningkat. Sehingga masyarakat merasakan tidak se-ngeri atau se-menakutkan pada awal Maret lalu. “Tapi bukankah itu menjadi baik? Rupanya tidak selau begitu yang bisa dipahami. Bahkan harus ekstra hati-hati,” tukasnya. 

Menurut Heroe, sikap kewaspadaan dan hati-hatian itu perlu. Sebab penurunan bisa jadi bukan karena berkurangnya kasus, melainkan karena orang malas disebut ODP dan harus mengisolasikan diri selama 14 hari. Atau masyarakat sudah tidak takut, tidak panik atau cemas lagi. Sehingga mereka tidak lagi berbondong-bondong ke faskes atau fasilitas kesehatan. Bisa juga, orang tidak lagi datang ke faskes pemerintah, tapi ke klinik umum saja. Sehingga warga yang merasa dihinggapi gejala demam, batuk atau sesak napas, langsung isolasi sendiri saja. Dan tidak terdata dalam data pemerintah. 

“Itulah maka yang bahaya adalah dalam posisi yang tidak merasa menjadi ODP atau PDP tersebut, dan orang masih tidak menerapkan jarak sosial maupun jarak fisik. Terus muter-muter interaksi dengan kelompok masyarakat lainnya,” ujarnya, mengingatkan.

Heroe menyatakan, dengan perilaku seperti itu maka angka ODP, PDP dan Positif terlihat jadi stabil dan turun. Tapi sebenarnya angka riilnya tidak begitu. Sebab kasusnya sembunyi, tidak terdeteksi dan tidak periksa.

Sebab itu, terang Heroe, jika yang terjadi adalah fenomena di masyarakat adanya kasus tersembunyi, maka kasus Covid-19 masih menjadi ancaman besar. Sebab banyak kasus, tetapi masyarakat enggan periksa atau malas melalukan isolasi 14 hari. Akibatnya kasus Covid-19 bisa bebas bekerja, dan interaksi dengan orang-orang lainnya. Ini artinya, potensi kasusnya banyak, masih besar.

“Karenanya agar kita yakin bahwa angka yang dilaporkan itu faktual, maka Pemkot Yogyakarta melakukan rapid test lebih luas lagi. Jika selama ini fokus pada tenaga medis dan beberapa kasus, dan sudah dilakukan 720 rapid test. Hasilnya, memang belum semua fasilitas kesehatan melaporkan. Tapi dari 120 rapid test yang sudah dilaporkan ada 11 hasilnya positif. Artinya, masih menunggu rapid test kedua dan PCR untuk memastikan memang kasus konfirm positif Covid-19. Artinya 11 positif rapid test itu, belum tentu konfirm positif Covid-19,” katanya.

 

Percepat Rapid Test

Maka seminggu ini dan rangka meyakinkan terhadap pertumbuhan angka-angka yang dilaporkan, pelaksanaan rapid test akan dipercepat untuk semua pasien PDP, ODP dan OTG. Termasuk di dalamnya adalah pendatang atau pemudik yang datang ke Kota Yogyakarta. Harapannya dalam minggu ini, pemkot Yogyakarta akan memperoleh gambaran data yang sifatnya faktual. Sehingga bisa digunakan untuk memprediksi sampai berapa lama kasus Covid-19 itu bisa teratasi. 

Sebab kondisi larangan mudik, liburnya moda transportasi pesawat, kereta dan bus serta pemeriksaan di perbatasan setiap kota adalah kondisi ideal utk kita bisa memutus mata rantai sebaran virus Corona, dan bisa digunakan untuk menghitung kapan pandemi Covid-19 ini berakhir. Pemeriksaan rapid test adalah jawaban untuk meyakinkan gambaran data yang dilaporkan di kota Yogyakarta. Sembari terus meningkatkan sapa warga, yaitu berkeliling di jalan-jalan utama dan kampung untuk tetap menerapkan protokol Covid-19. Melakukan jaga jarak fisik dan sosial, tidak berkerumun, selalu cuci tangan dengan sabun, pakai masker serta untuk terus tinggal di rumah saja, sampai pemerintah mengumumkan bahwa sudah aman untuk berinteraksi di luar rumah. “Selama kasusnya masih ada, kita semua harus terus menerapkan protokol Covid-19, agar kita bisa lebih cepat mengatasi kasus tersebut. Dan kasusnya semakin mereda, tidak ada lagi kasus yang muncul jika semua terdeteksi,” pungkasnya. (Met)

 


share on: