Deseminasi Pengukuran dan Publikasi Stunting Kabupaten Sleman 2022

share on:

STUNTING adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek dibanding usianya. Stunting terjadi sejak dalam kandungan ibu, yakni pada seribu hari  pertama jehidupan (1000 HPK)  sedangkan kekurangan gizi pada usia dini dapat meningkatkan angka kematian pada bayi dan anak  intervensi yang paling menentukan untuk dapat menurunkan prevenlasi stunting adalah intervansi pada masa 1000 HPK.

Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi sehingga dalam intervensinya memerlukan konvergensi lintas program dan sektornlintas sektor serta upaya sinergitas pemerintah diberbagai tingkatan. Salah satu intervensi penurunan Stunting terintegrasi yang dilaksanakan oleh Kabupaten Sleman dalam rilisnya Dinas kesehatan Sleman adalah aksi ke 7 yakni pengukuran publikasi, pengukuran dan publikasi angka stunting upaya Kabupaten Sleman untuk memperoleh  data prevalensi stunting terkini pada skala layanan pukesmas, kecamatan dan desa. Hasil pengukuran tinggi badan anak dibawa lima tahun serta publikasi angka stunting digunakan untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah dan masyarakat  dalam gerakan bersama penurunan stunting.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman sebagai penanggung jawab pengukuran status gizi terutama stunting pada balita. Pengukuran panjang badan  atau tinggi badan bersamaan dengan bulan penimbangan balita dan (distribusi kapsul vitamin A) dilakukan dua kali dalam setahun yang dikoordinasi oleh dinas Kesehatan.

Data pengukuran tinggi badan diinput dalam aplikasi elektronik pencatatan dan pelapiran gixi berbasis pada masyarakat (e- PPGBM) yang dientri oleh petugas petugas gizi dibantu oleh kader. Apabila ada data yang bermasalah gizi dilakukan konfermasi dan divalidasi oleh petugas pukesmas serta Dinas Kesehatan. 

Selain data status gizi balita serta diinput data riwayat tindakan terhadap balita yang bermasalah gizi, kenudian di analusa faktor faktor disterminan penyebab masalah gizi untuk diintervensi sesuai penyebab. Berdasarkan pengukuran status gizi balita pada bulan Agustus 2022  di Kabupaten Sleman dari sasaran balita sebanyak 57.267 anak dengan jumlah balita diukur tinggi/panjang badanya sebanyak 50.87 (88.22%) didapatkan prevalensi angka stunting pada balita sebesar 6.88 % (3499 anak) sedangkan prevalensi stunting baduta( dibawa dua tahun) sebesar 5.61 % (984 anak). Angka ini lebih rendah dibandingkan prevalensi stunting pada tahun 2021 sebesar 6.92% ( 3.445 anak). Dari 86 Kalurahan 17 Kapanewon Kabupaten Sleman, prevalensi stunting pada balita semuanya 20 % atau dibatas katagori aman (20 % kronis) yang besrti tidak memiliki masalah kesehatan masyarakat, namun tetap diwaspadai kalurahan dengan katagori sedang (prevalensi 10-20%) sebanyak 17 kalurahan (19,77%) dan 69 (80.23%) kalurahan lainnya masuk katagori rendah dengan prevalensi 2.5-10% serta tidak ada kalurahan dengan katagori sangat rendah debgan prevelansi <2.5?. Faktor determinan penyebab stunting dapat dinalisa dari tindakan atau intervensi spesifik yang akan dilakukan oleh Dunas Kesehatan serta intervensi sensitif oleh OPD terkait .

Adapun faktor determinan dari dari balita stunting di Kabupaten Sleman (3.499) balita) diketahui sebanyak 1.271 balita tidak memiliki jaminan kesehatan. 24 balita tidak ada akses air bersih ,59 balita tidak mempuyai jamban sehat 77 balita belum Imunisasi lengkap, 2.286 rumah tangga balita masih merokok, 13 pernah mengalami kecacingan, 546 ibu balita sewaktu hamil mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) 152 stunting mempunyai penyakit penyerta.

Diharapkan hasil pengukuran stunting balita di diseminasikan juga pada setiap pertemuan lintas program maupun lintas sektor OPD terkait, serta publikasi juga melalui saluran informasi media elektronik maupun media sosial baik ditingkat kabupaten, kecamatan, pukesmas dan desa yang ada di Kabupaten Sleman dapat dipakai menjadi dasar penyusunan kebijakan maupun kegiatan-kegiatan terkait penurunan stunting, serta meningkatkan komitmen  dan menggalang kerjasama berbagai pihak dalam upaya penurunan stunting terintegrasi. (*)

 


share on: