Yogyapos.com (SLEMAN) - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui Program Tumandur di Jurugsari, Joho, Kalurahan Condongcatur, Depok, Sleman.
BACA JUGA: Oknum Anggota Dewan Sleman Ditahan Kejaksaan, Ini Penyebabnya
Melalui pemanfaatan smart compost vessel, program ini mendorong pengelolaan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk berkualitas sekaligus mengoptimalkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.
BACA JUGA: Dr Gr Sri Nurhartanto: UKM Wadah Aktivitas Mahasiswa, Pembentukan Kepemimpinan dan Karakter
Sosialisasi program dilaksanakan Senin (22/6/2026) pukul 15.30–17.00 WIB dan akan berlangsung hingga pertengahan Agustus 2026. Diikuti oleh 16 anggota PKK Kampung Jurugsari dan dihadiri Ketua RW 57 Purwoko, Dukuh Joho Retnaningsih, Ketua PKK Kampung Jurugsari Rini, perwakilan Kalurahan Condongcatur Apri Nugroho, serta Tim PKM-PM Universitas Gadjah Mada. Pelaksanaan sosialisasi tersebut juga sesuai dengan undangan resmi yang diterbitkan oleh tim penyelenggara.
BACA JUGA: Pasca Didemo, Notaris Sukarno: Semoga Layanan ATR/BPN Sleman Lebih Baik
Program Tumandur merupakan inisiatif pengabdian masyarakat yang mengedepankan solusi atas persoalan sampah organik rumah tangga melalui pendekatan teknologi tepat guna dan pemberdayaan warga.
Dalam program ini, sampah organik dari dapur diolah menjadi pupuk menggunakan smart compost vessel, yakni sistem ember tumpuk yang dilengkapi sensor suhu dan pH untuk membantu memantau proses pengomposan sehingga berlangsung lebih optimal dan efisien.
BACA JUGA: Toko Kosmetik di Lumbungrejo Tempel Jadi Sasaran Pencurian, Begini Penjelasan Polisi
Ketua Tim PKM-PM UGM, Siti Nur Khasanah, menjelaskan bahwa Program Tumandur dirancang tidak hanya untuk mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya ekonomi sirkular dan pemanfaatan sumber daya lokal.
BACA JUGA: Restoran Plat B Hadir di Sleman, Sajikan Menu Tradisional Khas Indonesia Mulai Harga Rp 3 Ribu
“Kami berharap Program Tumandur dapat menjadi sarana belajar bersama bagi masyarakat dalam mengelola sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai. Melalui pemanfaatan pekarangan rumah, kami juga ingin mendorong terciptanya lingkungan yang lebih hijau sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga,” ujarnya
BACA JUGA: Danrem 072/Pmk Buka Gladi Panahan Kids dan Junior 2026, Dorong Lahirnya Atlet Berprestasi
Rangkaian sosialisasi diawali dengan pembukaan dan sambutan para pemangku kepentingan, dilanjutkan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta, pemaparan materi mengenai pengelolaan sampah organik dan penggunaan smart compost vessel, sesi diskusi interaktif, post-test, serta dokumentasi bersama. Seluruh tahapan dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sebelum memasuki fase implementasi dan pendampingan lapangan.
BACA JUGA: Kemnaker Buka Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3, Targetkan 20 Ribu Peserta
Dukuh Joho, Retna Ningsih, turut memberikan dukungan terhadap pelak sanaan program tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kalurahan, dan masyarakat merupakan modal penting dalam menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan riil di tingkat lokal.
BACA JUGA: Edward OS Hiariej: Pemkab Sleman Selangkah Lebih Maju Selaraskan Pembaruan Hukum Nasional
Senada dengan itu, Ketua PKK Kampung Jurugsari, Rini, berharap para ibu rumah tangga dapat menjadi pelopor perubahan melalui kebiasaan memilah sampah, mengolah limbah organik menjadi pupuk, dan memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan sehat bagi keluarga.
BACA JUGA: Antisipasi Musim Kemarau, Begini Kesiapan Dinas Pertanian Sleman untuk Petani
Melalui Program Tumandur, Tim PKM-PM UGM berharap Kampung Jurugsari dapat menjadi contoh praktik baik pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat yang inovatif, berkelanjutan, dan mudah direplikasi di wilayah lain.
BACA JUGA: Mediasi 41 Mantan Karyawan PT IGP Belum Ada Titik Temu
Program ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya hidup ramah lingkungan, mengurangi volume sampah rumah tangga, meningkatkan produktivitas pekarangan, serta memperkuat ketahanan pangan keluarga sebagai fondasi menuju masyarakat yang mandiri, sehat, dan berdaya. (Agn)
