SETIAP fashion desainer pasti memperlukan mood dalam menelurkan suatu karya yang epik. Jika dulu Dewi Ranaya produktif di skena batik indigo, untuk saat ini alumnus UKSW Salatiga ini cenderung bergerak di lini tenun lurik. Yogyapos.com pun berkesempatan berbincang dengan desainer muda ini di kediamannya, Namburan Kidul 64 Yogyakarta, Selasa (4/2) sore.
Gimana kabarnya Mbak Dewi, masih produktif di batik indigo?
Alhamdullilah sehat. Untuk batik sudah tidak seproduktif dulu. Sekarang tinggal habisin stok aja. Costnya untuk memproduksi batik tulis lumayan besar. Mencari SDM mumpuni untuk pembatik tulis sekarang juga sulit. Purna jualnya juga tinggi, harus pintar-pintar adjusment dengan market.
Katanya sekarang lagi getol berkutat di segmen tenun lurik? Apa yang mendasari beralih haluan?
Iya, baru 4 bulan-an ini mood saya berkarya lagi membidik segmen tenun lurik. Disamping pemain di sektor ini masih jarang, harga jual juga terjangkau, peminatnya tinggi serta saya ingin mengedukasi publik jika tenun ataupun lurik bukan sesuatu yang ketinggalan jaman. Tenun lurik pun bisa dikombinasi dengan sentuhan urban modern ala millenial saat ini. Dibubuhi sentuhan warna pastel yang smooth, karya tenun lurik akan menjadi sesuatu karya yang masterpiece. Kenapa saya beralih haluan dari batik indigo ke tenun lurik, mungkin faktor boring dan mentok ide. Ingin mengkreasi sesuatu yang baru dan segar.
Untuk produk tenun lurik apa masih memakai brand d’Ranaya atau berganti nama lain? Sementara untuk sistem produksi made by order atau masif?
Untuk batik masih d’Ranaya. Sedangkan untuk tenun memakai brand d’Ranaya Tenun. Untuk sistem produksi ada yang kustom made by order, ada juga yang masif. Untuk yang kustom biasanya family dress code, seragam kantor ataupun seragam arisan.
Sedangkan untuk pengerjaan masif yang menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dalam satu gulung motif kain yang dikerjakan selama 1 bulan bisa menghasilkan 70 meter. Atau dikisaran 35 potong baju.
Komparasi produksi antara kain dengan ready to wear, prosentasenya berapa?
Konsumen saya rata-rata lebih gemar dengan ujud kain. Tapi ada juga yang kecanduan dengan produk ready to wear. Prosentasenya untuk kain 60 persen, dan ready to wear 40 persen.
Untuk target market dilempar kemana saja? Dan apakah masih melakukan penjualan offline?
Market d’Ranaya Tenun mayoritas wanita. Ya, female icon lah. Untuk pasar, saya punya konsumen loyal di Jakarta, Bandung, Semarang dan Yogya. Aspek market offline masih kami lakukan di outlet. Tapi gerakannya tidak seefektif dan seefisien di lini marketplace online. Penjualan online memang sangat gencar. Kadang staf saya pun kewalahan melayani orderan.
Bicara soal pegawai (SDM) apakah ada treatment khusus?
Yang jelas untuk semua karyawan saya beri pelatihan di awal bekerja. Saya dampingi hingga mereka mumpuni. Untuk saat ini saya mempunyai 4 penjahit dan 4 penenun. Semua saya perlakukan seperti teman, tidak ada jarak. Namun saya kasih pemahaman tentang komitmen, jujur dan tanggung jawab. Semua proses produksi kami lakukan di workshop di Pakem Sleman.
Bicara soal tren fashion yang update di 2020, ada perspektif dari Mbak Dewi?
Untuk dinamika tren di 2020 masih seputar bermain warna pastel, smooth, tidak terlalu mencolok mata. Dengan kombinasi ambience. Ragam jenis outer (vest, jaket) akan mendominasi tren kali ini.
Apakah ada (program) fashion show dalam waktu dekat yang akan diikuti d’Ranaya Tenun?
Ini lagi mempersiapkan rancangan dan desain baru untuk ikut dalam acara Jogjakarta Fashion Festival (JFF) pada bulan Maret mendatang. Sekitar 10 potong baju dengan desain baru akan kami tampilkan.
Dari sekian lama berkecimpung di jagat fashion, achieve apa yang belum gol?
Saya pengin banget mengadakan show tunggal. Itu menjadi capaian membanggakan saya dalam berkarir di fashion. Menjadi sebuah legacy, karya saya bisa dinikmati publik. Dan semoga menginspirasi para desainer muda ataupun fashion enthusiast.
Oke kita tunggu saja karya mutakhir dari Dewi Ranaya melalui brand d’Ranaya Tenun dalam perhelatan JFF di Ambarrukmo Plaza pada Maret mendatang. (Dol)
