Yogyapos.com (YOGYA) – Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menetapkan desain bertajuk 'Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta' sebagai pemenang Sayembara Desain Penanda Perbatasan DIY. Karya tersebut diproyeksikan menjadi landmark baru di gerbang masuk Yogyakarta sekaligus memperkuat identitas dan citra Keistimewaan DIY bagi masyarakat maupun wisatawan.
BACA JUGA: PSIM Yogya Pertahankan 4 Pemain Asing, Datangkan Gelandang Polandia Adrian Purzycki
Adalah Marcelo Diaz Octavianus, orang yang menciptakan Cahaya Pradipta. Ide itu berawal saat melakukan survei lokasi di kawasan Rongkop, Gunungkidul. Warga Wonosari itu mengaku sempat mengalami kebuntuan ide sebelum akhirnya menemukan inspirasi langsung dari bentang alam yang akan menjadi lokasi penanda perbatasan.
BACA JUGA: Digitalisasi dan Standarisasi, Kunci UMKM Sleman Menuju Kelas Dunia
"Cahaya Pradipta merupakan cahaya yang menerangi. Saat survei di lokasi, saya melihat gunung kapur yang terbelah dan di tengahnya terlihat cahaya matahari. Dari situ saya mendapatkan inspirasi bahwa cahaya tersebut seperti menuntun saya menuju sesuatu yang baik, menuju Yogya," ujar Diaz dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7/2026).
BACA JUGA: Disdikpora DIY Angkat Bicara Soal Dugaan Penipuan Tes TOEFL saat MPLS
Inspirasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi sebuah desain penanda yang menempatkan simbol cahaya sebagai elemen utama. Bagi Diaz, cahaya tidak hanya menjadi unsur visual, tetapi juga metafora tentang keramahan, harapan, dan keterbukaan Yogyakarta bagi siapa pun yang datang memasuki wilayah DIY.
BACA JUGA: Menaker: Data Sensus Ekonomi 2026 Perkuat Penyusunan Kebijakan Ketenagakerjaan
"Saya ingin identitas Yogya semakin kuat dengan menambahkan unsur-unsur khas Yogyakarta. Di situ ada kehangatan dan budaya yang ingin saya tampilkan agar lebih dikenal masyarakat luas. Jadi ketika orang memasuki Yogya dari perbatasan, mereka langsung merasakan seperti apa Yogya itu sebenarnya," katanya.
BACA JUGA: BPJS Ketenagakerjaan Sleman Capai 34,53 persen, Tertinggi di DIY
Secara konseptual, 'Cahaya Pradipta' mengangkat simbol sinar sebagai penuntun perjalanan. Penanda tersebut dirancang sebagai tetenger yang mudah dikenali dari kejauhan sekaligus menjadi penanda visual yang merepresentasikan wajah Yogyakarta.
Perpaduan budaya lokal dengan desain modern dinilai mampu menggambarkan DIY sebagai daerah yang tetap berakar pada tradisi, namun terbuka terhadap perkembangan zaman.

Ketua Dewan Juri, Prof Ar Ir Ikaputra MEng PhD, mengatakan proses penilaian berlangsung ketat. Sejak sayembara dibuka pada 17 April 2026, sekitar 400 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mendaftarkan diri. Setelah melalui proses verifikasi, sebanyak 124 karya dinyatakan memenuhi syarat sebelum diseleksi menjadi 10 besar dan akhirnya menyisakan lima finalis terbaik.
BACA JUGA: Korban Tenggelam Sungai Oyo Ditemukan Tak Jauh dari Lokasi Hilang
Menurut Ikaputra, karya tersebut memiliki karakter visual yang paling menonjol dibandingkan karya finalis lainnya. Selain menghadirkan bentuk yang unik, desain tersebut juga masih memiliki ruang untuk dikembangkan lebih lanjut pada tahap perancangan teknis.
"Salah satu kelebihan karya ini adalah kesan pertama yang muncul ketika melihat tetenger tersebut. Bentuknya cukup unik dan tidak biasa. Ini merupakan pradesain yang masih bisa dikembangkan lebih jauh, termasuk eksplorasi ketinggiannya. Namun secara visual, baik pada siang maupun malam hari, karya ini sudah terlihat sangat kuat, unik, dan spektakuler," ujar Ikaputra.
BACA JUGA: Delegasi Nanjing Xiaozhuang University Berkunjung ke FK UAJY
Ia menambahkan, dewan juri tidak hanya menilai aspek estetika, tetapi juga mempertimbangkan kelayakan konstruksi, pemilihan material, kesesuaian dengan lingkungan, serta kemampuan desain dalam merepresentasikan nilai-nilai budaya DIY. Seluruh proses penilaian dilakukan secara menyeluruh hingga menghasilkan keputusan yang juga disepakati Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Dewan Juri Kehormatan.
BACA JUGA: Pabrik Rokok HS Serap 7.000 Tenaga Kerja, Difabel Ikut Diberi Kesempatan
"Kami memiliki kesatuan pandangan bahwa karya juara pertama memiliki karakter yang sangat ikonik. Ketika pertama kali melihatnya, langsung muncul kesan berbeda. Bentuknya kuat, unik, dan memiliki daya tarik visual yang tetap menonjol baik pada siang maupun malam hari. Potensinya sangat besar untuk menjadi identitas baru kawasan perbatasan DIY," katanya.
BACA JUGA: Jelang Vonis Kasus Dugaan Sodomi Anak, Keluarga Korban Surati Presiden Prabowo
Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menilai semangat yang tercermin dalam sayembara tersebut sejalan dengan visi besar Pemda DIY dalam memperkuat karakter daerah melalui ruang publik yang sarat makna budaya.
"Sesuai pesan Bapak Gubernur, ini bukan cuma soal batas fisik. Ada pesan budaya di dalamnya," tutur Ni Made.
BACA JUGA: Petugas Berlakukan Sistem Buka-Tutup dan Contraflow Simpang Tiga Piyungan Sampai Akhir Juli
Ni Made menegaskan, hasil sayembara tidak boleh berhenti pada tahap perencanaan semata. Karya-karya terbaik yang telah lahir harus menjadi pijakan menuju pembangunan nyata yang mampu memperkuat citra Yogyakarta sebagai daerah istimewa yang berbudaya dan berkarakter.
BACA JUGA: Audiensi ke Danrem, Pengurus Lestari Bumi Sembada presentasi Teknologi Pyronex II
"Harapannya jelas. Ini tidak boleh berhenti jadi draf desain yang menumpuk. Harus benar-benar berlanjut ke tahap realisasi pembangunan," tegasnya.
Pemda DIY memandang penanda perbatasan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan wajah pertama yang menyambut masyarakat dan wisatawan saat memasuki Yogyakarta. Karena itu, landmark baru tersebut diharapkan mampu memperkuat identitas ruang, mempertegas citra Keistimewaan DIY, sekaligus menjadi ikon baru yang mencerminkan harmoni antara budaya, arsitektur, dan semangat kemajuan daerah. (Jhw)
