Dewi Rawe, Oase Budaya di Tepi Yogyakarta

share on:
Salah satu cumah asli penduduk Dusun Rajek Wetan Sleman yang cocok untuk homestay bernuansa desa | YP/Udi

Yogyapos.com (SLEMAN) - Potensi alam, seni, adat budaya, sejarah, kerajinan, kuliner yang ada di Dusun Rajek Wetan Tirtoadi Mlati Sleman adalah modal berharga untuk membangun dusun. Dipadu dengan guyup rukun dan gotong royong yang mengutamakan swadaya bisa menjadi jalan menuju peningkatan kemakmuran warga. Untuk itulah kami berniat mendirikan desa wisata budaya sebagai wadah resmi mengelola potensi.

Optimisme itu disampaikan oleh Widiarto, Kepala Dukuh Rajek Wetan, Tirtoadi, Mlati, Sleman, DIY saat ditemui yogyapos. com di sela-sela kerja bakti di Wanadesa Rajek Wetan (Minggu 3/3/2019). Lebih lanjut, sosok tambun yang akrab disapa Pak Wiwid ini menjelaskan, Dusun Rajek Wetan mempunyai potensi dan aset yang luar biasa. Warga memiliki kesenian panembromo, ketoprak, wayang, cokekan, karawitan, tari, lukis, dan hadrah. Sebagian lain memiliki keahlian anyaman bambu.

“Dusun yang terletak di tepi Kali Bedog sisi selatan Selokan Mataram ini juga mempunyai bentang alam yang indah berupa persawahan dan lembah. Setidaknya ada sembilan pendopo tua, 21 homestay dengan kapasitas 332 orang yang siap menopang atraksi dan kunjungan wisata,” tandas Widiarto.

Salah satu destinasi yang diunggulkan adalah didirikannya Museum Budaya Jawa dengan karakter budaya agraris. Di hampir tiap sudut dusun ditemukan peralatan hidup yang tua dan tak lagi digunakan. Museum kelak akan menempati salah satu pendopo tua yang juga akan dijadikan pusat kebudayaan.


Kepala Dukuh Rajek Wetan, Widiarto selalu optimis | YP/Udi 

Tentang desa wisata budaya Rajek Wetan yang disingkat Dewi Rawe, Ketua Kelompok Sadar Wisata Dewi Rawe, Agus Yoko Sunartono SP, mengatakan keinginan untuk mendirikan desa wisata sebetulnya sudah lama. “Saat itu kami menerima proyek wanadesa seluas hampir 2 ha. Tiap Minggu diadakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan. Tetapi dalam perkembangannya warga berpikir, untuk apa?”. Wanadesa nyaris tak terawat sampai kemudian muncul momentum untuk menjadikannya destinasi wisata yang didukung penuh warga empat RT. Pokdarwis Dewi Rawe sendiri menurut Sunartono, baru berdiri pada 16 Februari 2019. “Dengan difasilitasi oleh Mas Wahjudi Djaja, kami mencoba menyatukan visi untuk membangun dusun. Bahkan, malam Pokdarwis dibentuk, paginya warga bergerak untuk kerja bakti di area wanadesa,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Pokdarwis Dewi Rawe, Minaryoko SE menyebutkan, Pokdarwis memiliki delapan kelompok kerja (pokja) yang langsung action. Mereka adalah pokja homestay, museum, kuliner, wanadesa, seni budaya, taman dan kebersihan, serta keamanan dan ketertiban. “Prioritas kami ada pada pokja wanadesa, museum, dan kuliner, karena itulah yang akan segera punya hajatan menyambut kunjungan wisatawan,” tandas aktivis pemuda ini. Ke depannya, imbuh Yoko, Dewi Rawe diharapkan bisa menjadi oase budaya yang strategis dan bermakna mengingat tempatnya yang dekat dengan jalur wisata dan pusat perkotaan. Rencananya Dewi Rawe akan dilaunching awal Mei 2019.

Sementara itu, Wahjudi Djaja SS MPd, Dosen SV UGM dan STIE Pariwisata yang ditemui di lokasi menjelaskan, potensi dan daya tawar Dewi Rawe bisa diandalkan. "Antara alam, budaya, sejarah, dan lingkungan sosial kemasyarakatan menjadi satu-kesatuan yang utuh. Modal ini harus dijaga agar potensi dusun Rajek Wetan bisa dikembangkan secara maksimal. Kita pun membuka diri untuk kolaborasi dan kerjasama dengan stake holder yang ada agar ada akselerasi dalam pengembangan", jelasnya. (Udi) 


share on: