Di Bantul, Sejumlah Warga Mulai 'Lockdown' Wilayahnya

share on:
Lockcdown di Dusun Gedongan || YP/Daru W

Yogyapos.com (BANTUL) - Mengantisipasi persebaran virus Corona (Covid-19), Dusun-dusun di Kabupaten Bantul satu persatu mulai memberlakukan akses satu pintu atau satu jalan bagi warga untuk masuk ke dusun tersebut.

Warga sejak Sabtu (28/3) malam mulai memasang penghalang dari kayu maupun bambu di sejumlah akses jalan menuju dusun mereka dan hanya membuka satu akses jalan bagi warga maupun warga dari dusun lain.

Seperti di Dusun Jogodayuh, Gunungan, Gedogan, Desa Sumbermulyo mulai menutup akses jalan yang masuk ke dusun mereka dan hanya membuka satu pintuk masuk maupun ke luar dusun mereka.

"Ini sudah menjadi kesepakatan warga, akses masuk dusun hanya 1 jalan saja. Akses jalan lain ditutup semua," ujar Oni, Ketua RT 2, Dusun Gunungan Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, Minggu (29/3).

Menurutnya penutupan akses jalan tak lain karena untuk meminimalisir orang asing masuk dusun termasuk juga agar warga yang tidak punya kepentingan yang mendesak tidak keluar rumah.

"Di rumah saja, para pemuda juga sudah melakukan penyemprotan disinfektan pada rumah-rumah warga," ungkapnya.

Warga di Dusun Druwo, Desa Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul tak melakukan pembatasan akses jalan untuk masuk dusun namun juga memberlakukan aturan yang ketat bagi pemilik kos ataupun warga yang tinggal di kos yang sangat banyak di Dusun Druwo.

"Kita ada jam malam hingga himbauan penghuni kos tidak pulang kampung, membatasi order makanan dari ojek oline hingga pukul 23.00 WIB," kata Kepala Dusun Druwo, Suharman.

Meski memberikan berbagai aturan atas kesepakatan bersama namun Dusun Druwo tidak lockdown, namun demikian warga yang datang harus melapor ke RT setempat.

"Bagi yang melanggar akan sanksi mulai dari peringatan hingga melaporkan ke pihak kampus khususnya bagi mahasiswa STTKD yang kos di Dusun Druwo dan melanggar kesepakatan bersama,"terangnya.

Terpisah Kepala Desa Yuni Ardi Wibowo mengatakan aturan dari desa atau instruksi dari kepala desa tidak mengatur secara detail hingga pemesanan makanan dari ojek oline namun lebih mengacu pada instruksi bupati atau gubernur DIY.

"Jadi aturan yang diterapkan di Dusun Druwo merupakan kearifan lokal dan semuanya disepakati. Tujuannya kan baik, ya mendukung saja," katanya.

Diakuinya Desa Bangunharjo yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta dalam hal mendata pendatang baru cukup berat karena mobilitas warga cukup tinggi. Namun demikian Kepala Dusun hingga Ketua RT sudah komitmen untuk melakukan pendataan warga yang baru saja datang.

"Setiap jam data warga yang masuk Desa Bangunharjo terus bertambah. Ini menjadi tantangan bagi kita karena potensi penularan Covid-19 juga semakin tinggi," terangnya. (Dws)

 


share on: