Di Rumah Maiyah, Mustofa: Penulis Cerpen Mudah Mengenal Diri Sendiri

share on:
Sastrawan Mustofa W Hasyim || YP/Ist

Yogyapos.com (BANTUL) - Menulis cerpen itu banyak manfaatnya. Misalnya, penulis cerpen menjadi mudah mengenal dirinya sendiri. Lebih mudah mengenali persoalan hidup yang tengah dihadapi. Suatu masalah yang belum jelas atau remang remang ketika ditulis, jadi mak byar, persoalan jadi jelas. Apalagi kalau dalam berdebat atau bertengkar tokoh dalam cerpen itu cukup cerdas dan memakai argumentasi yang kuat. Cerpen jadi menarik dan menegangkan. Tinggal mau penyelesaian yang bagaimana, itu bergantung penulis cerpen dalam memanfaatkan kebebasannya.

Demikian antara lain disampaikan oleh sastrawan senior Yogya, Mustofa W Hasyim dalam Workshop Penulisan Cerpen  Sastra Liman yang diselenggarakan oleh Majalah Sastra Sabana, di Rumah Maiyah Kadipiro Ngestiharjo, Bantul, Rabu (5/2/2020). Workshop diikuti 22 orang, dari kalangan guru, mahasiswa, wartawan dan aktivis sastra.

Mustofa mantan penjaga gawang rubrik ‘Insani’ SKH Masa Kini mengungkapkan, melalui kegiatan menulis cerpen sesungguhnya kita tengah mengenalkan karakter dan budaya kita kepada pembaca. Kita bisa mengenalkan budaya Minangkabau, Madura, Sunda, Aceh, Bugis, Maluku, Jawa, Batak, dan lainnya lewat cerpen yang kita tulis.

Mantan editor buku sastra terjemahan di penerbit buku sastra dan budaya ini pun tak pelit berbagi pengalaman tentang bagaimana dia bisa mengetahui budaya dan karakter bangsa Rusia, bangsa Arab, bangsa Jepang lewat karya cerpen mereka. Selain Mustofa W Hasyim, tampil juga R Toto Sugiharto selaku narasumber kedua.

“Saya lebih menekankan perlunya penulis cerpen memperkuat daya kreatifnya. Harus berani mencari dan mencoba serta menulis hal hal yang baru. Jangan terpaku pada teori dan karya cerpen yang sudah ada,” terang Jurnalis Majalah Suara Muhammadiyah. 

Penulis cerpen, kata dia, adalah penemu di dalam dunianya. Meski begitu, membaca karya cerpen sebanyak banyaknya juga perlu. Sebab itu dia menambahkan bahwa karya sastra yang bermutu, termasuk cerpen bermutu cirinya adalah pesan yang disampaikan sangat mengesankan. Cerpen itu seperti hidup di dalam kepala pembacanya. “Ciri yang lain, karya sastra bermutu juga punya ciri khas, bisa melahirkan karya baru. Artinya harus sastra itu sangat inspiratif bagi pembacanya,” pungkas Mustofa. (*/Met)

 


share on: