Dibuka Suara Merdu Prof Ova, Sajak Rendra Dominasi Acara Tirakatan UGM

share on:
Rektor UGM Prof Ova Emilia mendendangkan lagu puisi karya Taufiq Ismail || YP-Ist

ENTAH upaya bawah sadar untuk mengajak kontemplasi atau merespon kondisi mutakhir, sajak-sajak WS Rendra ternyata mewarnai acara Tirakatan: Baca Puisi, Renungan dan Doa yang digelar Pecinta Puisi UGM di Balairung, Selasa malam (16/8/2022). Setidaknya ada enam sajak Rendra yang berisi penyadaran dan tanggung jawab kaum intelektual.

Sajak Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang dibacakan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni UGM, Dr Arie Sujito, Sajak Sebatang Lisong (Panca Lintang Dyah), Lagu Seorang Gerilya (Savitri Damayanti), Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia (Sudibyo), Gerilya (Murtiningsih), dan Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api (Wahjudi Djaja).

Acara dibuka langsung oleh Rektor UGM Prof. Ova Emilia dengan lantunan suara yang merdua saat menyanyikan lagu Dengan Puisi, Aku karya Taufiq Ismail yang dipopulerkan Bimbo. Sebuah penampilan pertama yang mengesankan dengan iringan organ yang dibawakan musisi Lim Hans. Rektor begitu anggun dan terlihat bahagia bisa bergabung dalam acara sastra yang dipandu Heru Marwata dan Retno Widowati tersebut.

Dalam sambutan pembukanya, Rektor menyampaikan, dengan kemerdekaan banyak ekspresi yang bisa dituangkan, dan salah satunya adalah dalam karya sastra khususnya puisi.

“Ini merupakan ekspresi pribadi yang bebas. Karya sastra tentunya mempunyai andil bagi kita semua untuk melukiskan dan mengekspresikan keindahan dan perasaan-perasaan emosional kita yang merupakan penghiburan bagi kita semua. Ini sejalan dengan kampus UGM sebagai Kampus Pusat Kebudayaan,” tandasnya.

Lebih jauh, Prof Ova berharap, dari forum ini kita bisa diajak kembali memaknai kemerdekaan dalam ungkapan karya agung anak bangsa.

“Saya jadi teringat dengan karya Taufiq Ismail, yang intinya menyebutkan dengan puisi aku bisa bernyanyi sampai akhir hayatku nanti.” Clue ini ternyata kemudian disambut dengan indah oleh Lim Hans hingga menjadi sajian yang apik.

UGM yang akrab dengan entitas Bulaksumur lama dikenal dengan kawah candradimuka bagi banyak orang besar di jagat kebudayaan. Purna Budaya yang kini tinggal kenangan pernah menjadi oase yang memancarkan energi positif bagi tumbuh kembang kebudayaan di tanah air. Orang-orang besar yang ada di jajaran papan atas seni budaya Indonesia pernah merasakan iklim yang berembus di Bulaksumur.

Bisa jadi itulah sebabnya sambutan dan penampilan Prof Ova menemukan konteks historisnya hingga menjadikannya bermakna. Rektor yang belum genap dua bulan menjabat itu menjadi harapan banyak pihak terutama insan seni budaya. Keistimewaan Yogyakarta ada di bidang kebudayaan dan di situlah letak penting UGM sebagai salah satu pilar utamanya. Sumbu Kampus-Kraton pernah menorehkan sejarah dengan momen-momen yang monumental bagi sejarah dan dinamika kehidupan bangsa.

Dalam pengantarnya Heru Marwata menyampaikan pesan Prof Laksono Trisnantoro, yang mengucapkan terima kasih atas kesediaan UGM mengadopsi acara baca puisi kemerdekaan menjadi agenda resmi UGM. "Beberapa tahun lalu, acara digelar di Java Tea House milik Prof Laksono. Atas dukungan Prof Panut Mulyono (Rektor UGM sebelumnya), Prof Iwan (alm) dan Prof Ova, acara ini diadopsi di tempat ini,” jelasnya.

Tampil dalam acara itu antara lain Acep Yonny, Afnan Malay, Arif Nurcahyo, Budi S Daryono, Darwito, Ellin Ayu Wulandari, Gandes Retno Rahayu, Heru Marwata, Itadz Tadkiroatun Musfiroh, Nadia Puti Dianesti, Novi Indriastuti, Panut Mulyono, Retno Widowati, Sri Penny  Alifiya Habiba, R. Toto Sugiharto, Retno Widowati, Sri Suryawidati Idham Samawi, Murtiningsih, Wulan Tri Astuti, dan Yayi Suryo Prabandari. (Iud)

 


share on: