Dirjen Dikti: Penting Membangun Literasi Nasional

share on:
Publikasi buku berkualitas melalui kegiatan pameran || YP-Mufti

Yogyapos.com (JAKARTA) - Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Prof Ir Nizam MSc DIC PhD, dalam acara Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia di Jakarta, mengatakan Undang-Undang Sistem Perbukuan yang telah diluncurkan tahun 2017 membuat publikasi semakin membaik. Undang-Undang Sistem Perbukuan juga mampu membangun iklim akademik nasional karena dirancang dengan semangat.

“Esensinya adalah mengakselerasi publikasi nasional secara signifikan dan melahirkan buku-buku berkualitas, murah serta dapat menjangkau seluruh masyarakat,” ujar Nizam, di Jakarta, Kamis (12/11/2020).

Dia mengungkapkan berdasarkan hasil survei Program for International Student Assessment (PISA), rata-rata literasi di Indonesia masih sangat rendah, baik literasi anak maupun dewasa. Ia menggambarkan di luar negeri orang-orang membaca buku dalam kereta api dan bis umum

"Akan tetapi di Indonesia, kita melihat orang-orang masih mengobrol dan kebanyakan hanya membaca pesan dari aplikasi percakapan,” ucap Dirjen Dikti.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan betapa pentingnya membangun literasi nasional. Salah satu upayanya adalah memperkuat penerbitan perbukuan di Indonesia sehingga lahirlah Undang-Undang Sistem Perbukuan. Kelahirannya dilandasi semangat membangun literasi nasional dan meningkatkan minat baca seluruh masyarakat.

“Ketika melihat ke desa-desa, nampak semangat baca anak-anak meningkat. Hal itu cukup menarik apabila melihat perpustakan-perpustakaan desa, komunitas, dan perpustakaan keliling mulai dikunjungi anak anak. Kita harus fokus bagaimana menghasilkan buku-buku berkualitas,” lanjutnya.

Pada Mukernas yang telah terselenggara 11 November 2020 lalu, Nizam mendorong para penerbit mampu bertransformasi dengan cepat dan memanfaatkan teknologi penerbitan. Contohnya seperti yang dilakukan media sekarang ini bertransformasi serta membangun bisnisnya secara daring. Transformasi menyangkut hal fundamental dalam memanfaatkan bonus demografi sebagai upaya membangun sumber daya manusia unggul.

“Saya sangat mengharapkan teman-teman dari Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia bisa mengakselerasi produktivitas secara nasional memanfaatkan teknologi. Di samping itu menyebarluaskan ilmu pengetahuan secepat dan semasif mungkin,” tutur Nizam.

Lebih lanjut dijelaskannya, bahwa saat ini tingkat rate regional publikasi dosen selama 5 tahun terakhir kemarin sudah meningkat luar biasa. Dari rata-rata negara ASEAN, Indonesia tertinggal oleh Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand dan hampir disusul Vietnam. Kini, Indonesia telah melampaui negara-negara tersebut. Ditjen Dikti terus  berupaya meningkatkan publikasi di negeri sendiri. Termasuk bagaimana karya-karya berkualitas lahir dari publikasi di dalam negeri.

“Saya sedih, ketika melihat buku di bandara mengenai sejarah Indonesia namun penerbitnya dari Singapura. Banyak karya yang diterbitkan oleh asing padahal sumber tulisan di Indonesia sangat melimpah. Misalnya saja naskah-naskah kuno, keragaman budaya, bahasa, geologi, dan biodiversity. Menjadi tantangan bagi teman-teman sekalian bagaimana menarik dan mendorong publikasi-publikasi berkualitas dari Indonesia,” pungkas Nizam. (*/Muf)


share on: