Dr Amin Muzakkir: Sejarah, Kebebasan dan Keterbatasan (Bagian 1)

share on:

PADA tanggal 14 Mei 2005, di sebuah ruangan kecil lantai 2 Gedung Purbatjaraka, skripsi saya disidang. Setelah Pak Adaby Darban dan Pak Andy Noertjahjo, tiba giliran Pak Bambang Purwanto. Pembimbing skripsi mendapat kesempatan terakhir untuk bertanya. Melihat keguguban yang sulit saya sembunyikan, beliau meminta saya minum air teh manis yang telah terhidang. Tidak lama kemudian beliau bertanya singkat yang hingga kini terus terngiang: “Oke, tadi kamu telah menjelaskan dinamika pengusaha santri Tasikmalaya dari tahun 1930-an hingga 1980-an. Sekarang saya ingin bertanya, apa yang berada di balik dinamika itu? Saya kasih kata kunci, awalnya k akhirnya n!

Waktu itu, setelah terdiam hampir satu menit atau mungkin lebih, saya jawab ‘kemerdekaan’ yang tentu salah karena bagaimana kita menjelaskan dinamika sebelum 1945? Dan, benar, Pak Bambang menggelengkan kepala --lagi-lagi dengan senyuman-- yang akan membuat mahasiswa bimbingannya ciut. Akhirnya Pak Bambang menjawab sendiri pertanyaannya. Jawabannya, kata beliau, adalah kebebasan. 

Terus terang, meski saat itu mengangguk-angguk, saya tidak sungguh paham apa makna kata ‘kebebasan’ yang disampaikan oleh Pak Bambang itu. Tentu saja saya dan kita semua mengetahui artinya dalam kamus dan dalam percakapan sehari-hari, tetapi apa maknanya dalam sejarah, khususnya dalam sejarah lokal yang saya tulis? Rasanya selama kuliah sejarah hampir lima tahun di UGM, termasuk di kelas Filsafat Sejarah yang menggunakan buku Ankersmit ‘Refleksi tentang Sejarah’ yang termasyhur itu, saya tidak pernah mendengar pembahasan tentang kebebasan. 

Setelah lulus pada tahun 2005 itu dan terdampar di Jakarta yang keras (saya dan Mas Saiful Hakam sering mengibaratkan hidup kami seperti tentara Sultan Agung dari Mataram yang menyerang Batavia, tetapi lalu kalah dan terdampar di pinggiran ibukota), pertanyaan tentang kebebasan itu untuk sementara terabaikan. Pekerjaan dan rutinitas sehari-hari membuat saya kurang memperhatikan, bahkan merasakan, lagi kebebasan. Ini ironis. Meskipun bekerja di lembaga penelitian, sesuatu yang saya sukai sejak awal, dan memperoleh gaji walau pas-pasan, saya merasa berjarak dengan sebuah kata yang bernama kebebasan. (Bersambung)

 


share on: