KURANG lebih sejak itu, terlebih lagi saya kemudian terlibat dalam kerja-kerja riset tentang kaum minoritas, saya melihat justru yang tampak hadir di depan mata adalah keterbatasan. Alih-alih bebas, manusia lebih bergerak dalam ruang yang serba terbatas. Khususnya bagi mereka yang terpinggirkan, kebebasan adalah utopia, sedangkan keterbatasan adalah situasi nyata.
Dalam perjalanan hidup, entah karena kebebasan atau keterbatasan, saya lalu terdampar di sekolah filsafat. Selama hampir 12 tahun, rentang waktu panjang sehingga tidak terlalu membanggakan, saya menyelesaikan S2 dan S3 di STF Driyarkara. Namun, mungkin karena kesasar sekolah filsafat itulah, pertanyaan tentang kebebasan yang disampaikan oleh Pak Bambang pada tanggal 14 Mei 2005 kembali terngiang.
Ketika S2, saya menulis tesis tentang bagaimana filsafat politik menanggapi keberadaan para imigran tanpa dokumen, pengungsi, pencari suaka, dan warga tanpa negara lainnya. Dalam berbagai laporan yang menggambarkan situasi sulit mereka, saya membayangkan ketegangan yang luar biasa antara kebebasan dan keterbatasan. Tentu saja mereka mempunyai ‘hak’ untuk bebas, tetapi prinsip kewarganegaraan negara-bangsa modern –-Westphalian-- membuat mereka terpenjara dalam ruang-ruang yang serba terbatas.
Sejak itu saya mulai menyadari kebebasan adalah sebuah konsep yang sangat kompleks. Literatur berbahasa Inggris mengenal freedom dan liberty. Yang pertama menyangkut kondisi asali yang dimiliki oleh manusia sebagai manusia, sedangkan yang kedua adalah semacam kesepakatan politis di antara individu warga mengenai kehidupan bersama dalam tata negara. Dalam kenyataannya, makna freedom dan liberty tidak selalu mudah dipertukarkan. Di antara keduanya sering terbentang jarak yang tidak tertanggungkan.
Pertanyaannya, di negara dan masyarakat non-Barat seperti Indonesia, apa makna kebebasan itu? Apakah ia lebih merujuk pada freedom ataukah liberty ataukah keduanya secara bersamaan? Dalam konteks sejarah lokal Tasikmalaya sebagaimana saya tulis untuk skripsi S1, apa makna kebebasan bagi para pengusaha santri yang berjalan dari era 1980-an hingga 1980-an itu?
Sementara pertanyaan-pertanyaan lain masih mengantri untuk diajukan, teori-teori sosial merumuskan tegangan di antara kebebasan dan keterbatasan sebagai tarik-menarik yang tidak pernah berkesudahan antara struktur dan agensi. Semua pemikir sejak Plato hingga Anthony Giddens berusaha merukunkan kedua tegangan itu, tetapi tetap saja manusia-yang-hidup-dalam-sejarah selalu lebih condong ke salah satu di antara keduanya. Narasi-narasi historiografi telah menggambarkan tegangan tersebut. (Bersambung)
