Dr Amin Muzakkir: Sejarah, Kebebasan dan Keterbatasan (Bagian 3)

share on:
Dr Amin Muzakkir || YP-Ist

KEMBALI sebentar ke tema acara hari ini, yaitu “Merajut Kenang Merenda Juang”, saya kira masalah tegangan antara kebebasan dan keterbatasan mempunyai relevansi bagi kita, alumni sekolah sejarah.

Sejak belajar melakukan penelitian dan penulisan sejarah, kita dilatih untuk menghadapi tegangan antara kebebasan dan keterbatasan. Dilema yang nyaris eksistensial ini terus menghantui. Akan tetapi, justru karena itu, kita terlatih untuk berpikir dialektis, tidak deterministik.

Determinisme menimbulkan persoalan metodologis, bahkan etis, yang serius. Lagi-lagi saya teringat pertanyaan almarhum Pak Adaby Darban ketika ujian skripsi 17 tahun silam. Dia bertanya, “Jadi menurut Anda, apakah Islam yang mempengaruhi ekonomi atau ekonomi yang mempengaruhi Islam?”. Terhadap pertanyaan ini, jawaban saya lugas: keduanya saling mempengaruhi. Islam di Tasikmalaya sulit berkembang tanpa sokongan ekonomi para pengusaha santri, sebaliknya para pengusaha santri sulit bertahan tanpa ikatan solidaritas keislaman di antara mereka. 

Dalam kehidupan praktis sehari-hari, berpikir deterministik bisa mendorong seseorang untuk bertindak otoriter. Kalau ditafsirkan secara deterministik, kebebasan bisa berdampak pada sikap melebih-lebihkan hak individual.

Sebaliknya, kalau ditafsirkan secara deterministik, maka gagasan tentang keterbatasan pun bisa memberi legitimasi bagi sekelompok orang untuk membesar-besarkan hak komunal. Apapun yang berlebih-lebihan atau dilebih-lebihkan, demikian kata pepatah bijak, cukup pasti akan menimbulkan masalah dalam tata kehidupan bersama. 

Dalam hal ini, sungguh beruntung orang-orang yang belajar sejarah. Yang dimaksud tentu saja bukan sekadar sejarah sebagai sebuah disiplin akademik yang diajarkan di universitas, melainkan juga sejarah sebagai suatu prinsip etis untuk membiasakan diri berpikir dialektis sehingga terhindar dari laku deterministik yang gampangan. Semoga kita bisa mencapai ideal demikian.  

Sebagai penutup, jika hari ini Pak Bambang kembali bertanya apa yang menggerakkan pengusaha santri Tasikmalaya selama 1930-an hingga 1980-an, maka jawaban saya adalah kebebasan dan keterbatasan. Kata kuncinya masih diawali dengan huruf k dan diakhiri dengan huruf n. Dengan berayun di antara tegangan ini, mungkin manusia akan lebih siap menghadapi perubahan dan keberlanjutan, keberhasilan dan kekecewaan.

Bukankah dilema kehidupan seperti inilah yang bisa dipetik sebagai katakanlah pelajaran moral ketika dulu kita sekolah sejarah, ketika dulu kita masih sempat baca buku secara tenang dan tuntas meski hanya sarapan sederhana nasi pecel Yu Par di Bonbin yang sekarang di mana entah? Demikian. Itu saja. Terima kasih. (Selesai)

 

*Dr Amin Mudzakkir, menamatkan S1 di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada pada 2005. Sejak 2006 hingga sekarang bekerja sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang sejak 2021 berubah nama menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Gelar magister (S2) didapatkannya pada 2015 dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, sedangkan gelar doktor (S3) diperoleh pada 2021 dari sekolah yang sama. Publikasi utamanya adalah Feminisme Kritis: Gender dan Kapitalisme dalam Pemikiran Nancy Fraser (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2022) dan Kosmopolitanisme Seyle Benhabib (Yogyakarta: Cantrik Pustaka, 2022). 

 


share on: