DR HAEDAR NASHIR MSI : Masyarakat Butuh Pencerahan, Allah Tidak Suka Inkonsistensi

share on:
Dr Haedar Nashir MSi | YP/affan Safani Adham

Yogyapos.com (BANTUL) – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Haedar Nashir MSi menyatakan, masyarakat hari-hari ini membutuhkan pencerahan di tengah kepungan beragam isu politik. Banyak diantara masyarakat yang kemudian menjadi terkotak-kotak berdasarkan kelompok mana yang mereka dukung. Kondisi demikian menimbulkan banyak ketegangan dalam keseharian mereka. Bahkan tidak jarang membesar menjadi konflik.  

Haedar menyatakan hal itu dalam seminar Pra-Tanwir Muhammadiyah bertemakan‘, di Ruang Sidang Gedung AR Fachruddin A Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (11/2/2019).

Menurut dia, Islam hadir sebagai pencerahan yang dicerminkan melalui ayat pertama yang diturunkan dalam wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Iqra’. Ayat ini turun ketika Nabi Muhammad sedang risau terhadap kondisi masyarakat Arab saat itu. "Keadaan masyarakat Arab saat itu dapat dideskripsikan dengan kata dzulumat yang diartikan sebagai kegelapan baik dalam kultural hingga struktural," katanya.

Ayat iqra’ inilah yang kemudian muncul sebagai tanwir, pencerah, memberikan cara untuk keluar dari kegelapan tersebut. Memiliki inti untuk menegakkan ilmu dan akal pikiran. “Dari pemaknaan tersebut kemudian memunculkan berbagai konsep seperti tafakkur, tadabbur dan lainnya," papar Haedar yang menjelaskan pemaknaan dan penerapan dari iqra’ itu yang kemudian menjadi sangat berkurang di masyarakat kita saat ini.

Bahkan sekarang, tandas dia, ayat-ayat seringkali hanya dikutip untuk kepentingan tertentu. Atau, bahkan digunakan untuk menyulut kemarahan, kebencian dan pertikaian. 

"Bukan hanya pada isu sosial politik, tapi juga pada aspek kehidupan kita sebagai orang beragama. Kita jadi intoleran terhadap perbedaan misalnya. Padahal ketika Islam dimaknai secara kontemplatif, agama ini menuntun kita untuk menjadi pribadi yang berpikir. Ini yang ingin kita lakukan, mengembalikan Islam pada nilainya yang luhur dan fundamental," kata Haedar.

Dalam kehidupan orang yang beragama, hal yang paling tidak disukai oleh Allah adalah inkonsistensi. Dalam surat Ash-Shaff ayat 3 Allah SWT memperingatkan bahwa hal yang paling dibenci adalah orang yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan.

"Artinya, ketika Anda mengaku seorang Muslim, konsistenlah. Pahami agama Anda melalui perenungan yang dalam dan bukan hanya terbawa sumbu pendek yang mudah disulut untuk kepentingan tertentu," urai Haedar. (Afn)

 


share on: