Yogyapos.com (BENGKULU) – Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan Internasional, Sudarnoto menyatakan eskalasi politik menjelang Pilpres kurang mendukung terciptanya iklim demokrasi sebagaimana yang diharapkan.
“Eskalasi politik sekarang kurang mendukung demokrasi, dimana agama telah diseret-seret dalam kontestasi politik Pilpres. Ini tidak sehat,” ujar Sudarnoto, dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Kantor Staf Khusus Kepresidenan RI Bidang Keagamaan Internasional, di Sinar Port Hotel Bengkulu, Sabtu (16/2/2019).
Diungkapkan dia, kontestasi oleh sebagian masyarakat telah dimaknai secara hitam-putih. Hal ini memberikan peluang terjadinya tafarruq atau pertentangan di kalangan masyarakat ketimbang ta'aruf, yaitu mengedepankan respek terhadap perbedaan pilihan.
Karena itu, Sudarnoto berharap harus ada upaya serius untuk menyadarkan masyarakat bahwa agama adalah sumber perdamaian, ketentraman, kerahmatan dan integrasi nasional.
Sudarnoto sampai pada suatu keyakinan tentang pentingnya pemimpin dan kekuatan civil society yang mampu membangun jalan tengah atau wasathy. "Dan itu ada di ajaran Islam dan juga Pancasila," ujar Sudarnoto yang menjelaskan Muhammadiyah memiliki kemampuan menjadi aktor utama gerakan pencerahan bagi kehidupan berbangsa.
FGD putaran ke-8 mengusung tema ‘Mengokohkan Komitmen Keberagamaan dan Kebangsaan Menuju Indonesia Emas’, berambisi ikut serta memperteguh spirit membangun keberagamaan dan kehidupan berbangsa yang mencerahkan. Ini sejalan dengan tema Sidang Tanwir di Bengkulu, yaitu ‘Beragama yang Mencerahkan’. Diikuti oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) terdiri dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah (NA) dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Tampil berbicara tokoh muda Muhammadiyah di antaranya Cak Nanto, Syauqi Soeratno, Khoirul Muttaqin dan Syarkowi.
Sementara itu Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Cak Sunanto mengatakan, memang tidak mudah memimpin masyarakat yang berbeda latar belakang suku, agama dan pilihan ideologi politik.
"Karena itu harus ada pemimpin yang mampu berdiri di tengah dan menempatkan agama dalam bingkai kebangsaan," tandas Sunanto.
Sejalan dengan itu, Dosen muda dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB), Syarkowi, mengingatkan bahwa kecenderungan ekstrem dalam beragama dan politik juga sudah mulai muncul di kalangan anak-anak muda. "Oleh karena itu, Muhammadiyah harus menyiapkan sejak dini membangun karakter di kalangan Angkatan Muda Muhammadiyah supaya benar-benar cinta tanah air," kata Syarkowi.
Sedangkan Khoirul Muttaqin dari Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) menggarisbawahi bahwa kaum muda Muhammadiyah harus siap dan bersedia mendedikasikan dirinya di berbagai sektor. "Hal itu untuk menjaga dan menyelamatkan bangsa," katanya.
Di sisi lain, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Tapak Suci Putera Muhammadiyah Syauqi Suratno menyatakan, peran kaum muda saat ini sangat penting untuk memajukan Indonesia dengan pikiran visioner seratus tahun ke depan.
Dalam kaitan itulah, tegas Syauqi, kaum muda Muhammadiyah harus benar-benar menyiapkan diri secara matang. “Bukan hanya berpikir untuk hari ini saja, tetapi harus punya pandangan jauh ke depan untuk seratus tahun mendatang,” pungkasnya. (Afn)
