Empu Puryadi, Sulap Rongsokan Knalpot Jadi Keris Bernilai Jual Tinggi

share on:
Puryadi, Pande besi yang piawai bikin keris || YP/Yuliantoro

NAMANYA Puryadi. Warga Menggoran I, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Gunung Kidul ini menjadi Empu, pembuat keris yang produktif. Hanya berdasarkan pengamatan sebilah keris warisan yang dimilikinya, Puryadi belajar secara otodidak membabar keris.

Kini, dia mampu membuat empat bilah keris per minggu dengan menggunakan peralatan modern hasil kreasi dan rakitannya sendiri. Jumlah ini sangat spektakuler dibanding empu lain yang masih konvensional dalam pembuatan benda tosan aji tersebut selama 41 hari hanya menghasilkan sebilah keris.

Menjadi empu keris selama 11 tahun, namun sebagai seorang pande besi mengolah besi menjadi peralatan tani sudah 27 tahun. Lelaki yang kini berusia 40 tahun ini sekarang tengah digandrungi banyak kolektor keris karena maha karyanya. Keris buatan Empu Pur menjadi primadona di DIY karena dikenal lipatan pamor, warna pamor, berat bilah dan modelnya. Selain itu, kolektor luar pulau Jawa seperti Bali dan Sumatera juga menaruh kepercayaan kepada Empu Pur untuk dibuatkan keris dengan kualitas pamor baik. “Yang datang ke sini sudah banyak. Terutama dua atau tiga tahun belakangan ini. Ya ada yang dari DIY, Solo, Bali, Jakarta, Jawa maupun Sumatra,” ujarnya ketika disambangi di belasennya beberapa waktu lalu.

Ada yang berbeda dengan Empu Puryadi. Apabila dulu, bahan baku pembuatan keris berupa meteor. Namun kini, Empu Pur menggunakan bahan baku nekel berupa knalpot sebagai bahan baku. Alasannya selain mengurangi limbah knalpot yang cukup melimpah, juga untuk memunculkan warna pamor. Di samping itu, meteor juga susah dicari walaupun kadang masih ada yang punya.

“Dari bahan bisa mengikuti jenis yang dipesen, jenis warna pamornya, modelnya, beratnya bilah, bisa mengikuti keris yang lama. Yang lama warna pamornya yang bagus. Kalau saya melayani semua jenis pamor, tapi kebanyakan pamor mlumah atau mendatar,” ungkap Empu Pur.

Awal proses pembuatan keris dimulai dari pembelahan knalpot menjadi kepingan berukuran panjang 22 cm. Bahan pamor dijepit dengan dua besi untuk dibakar dan selanjutnya ditempa. Proses penempaan ini biasanya memakan waktu seminggu. Dari proses penempaan akan terbentuk lapisan atau lipatan pada besi pamor.

Disampaikan oleh Pur, biasanya dalam proses penempaan diperlukan 2.000 hingga 5.000 lipatan menyesuaikan jenis warna pamor. Selanjutnya proses saton pamor, dilanjutkan pembuatan lok 13 (bengkokan pada keris) dan finishing seperti pemasangan handle, mendak, warangka, dan gandar.

Maka tak heran kualitas kerisnya menjadi primadona, karena melalui tahapan pembakaran, penempaan dan pelipatan yang teliti. Harga keris normal dengan ukuran panjang 36 cm dibandrol Rp 1,5 juta sampai Rp 4 juta, tergantung dari tingkat kesulitan membuatnya.

Tak hanya membuat keris standar saja. Empu Pur juga pernah membuat keris raksasa dengan ukuran panjang 1,1 meter. Keris akan dilepas jika dibeli dengan harga mahal. Keris raksasa ini awalnya dibuat untuk sampel saja, ketika ada kolektor yang menanyakan definisi lengkap harga dan bahan keris raksasa. “Kalau normal keris dengan panjang 36 cm itu habis 2 - 3 keping, lebih besar lagi 6 keping. Yang besar ukuran panjang 1 meter lebih banyak lagi,” jelasnya

Membicarakan tentang keris, pada zaman nenek moyang keris dijadikan sebagai senjata utama. Sehingga tak heran jika sampai sekarang masih ada yang mempercayai adanya nilai mistis yang terkandung dalam sebuah keris. Empu Pur menceritakan ketika dulu para empu harus prihatin ketika membuat keris, harus berpuasa dan menetukan hari untuk membuat keris.

Empu Pur mengakui bahwa ia juga melakukan ritual khusus ketika ada permintaan dari pemesan. Seperti 40 hari yang lalu ia baru saja menggarap keris pesanan Kraton Yogyakarta. (Tor)

 


share on: