Festival Van der Wijck Membuka Tirai Sejarah

share on:
Pasar Apung dalam Festival Van der Wijck || YP-Wahjudi Djaja

FESTIVAL der Wijck yang digelar Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bersama Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) 18-19 Maret 2022 menyisakan catatan penting. Selain ditandai dengan meluapnya antusiasme masyarakat yang terlibat aktif maupun jumlah penonton, juga meletakkan titik terang atas kisah sejarah bangunan era kolonial Belanda yang selama ini masih gelap. Nyaris belum ada sumber sejarah yang bisa menjelaskan sejarah dan keberadaan kanal Van der Wijck.

Tak sedikit yang menganggap bahwa kanal yang melintang sepanjang 650 m ini sama dengan Kanal Yoshiro atau yang akrab dikenal dengan Selokan Mataram. Dari penelusuran sementara Dr. Maria Tri Widayati (Komunitas Kandang Kebo), kanal Van der Wijck ternyata jauh lebih tua dari Selokan Mataram. Salah satu prasasti yang terkait dengan kanal Van der Wijck menyebut saluran irigasi yang melintang di atas jalan tersebut mulai dibangun pada 1 Agustus 1909. Sedangkan sejumlah koran yang terbit pada masa itu, menulis bahwa kanal Van der Wijck telah ada sebelum tahun 1909.

Menurut koran De Locomotief yang terbit pada Rabu 3 Agustus 1910, ditulis bahwa pada 27 Nopember 1907 Direktur BOW mengajukan izin kepada pemerintah kolonial Belanda untuk mengambil air 5000 m3/detik untuk irigasi di wilayah perusahaan Kebonagung, Sendangpitu, Rewulu dan Sedayu. Pada 10 Januari 1908 jalur yang sudah ditentukan itu sudah mulai dikerjakan. Kanal tersebut, menurut Maria, merupakan proyek swasta sehingga arsipnya memang belum banyak dipublikasikan. Arsip dari pemerintah Belanda pun sangat minim. 

Gusti Bendara pada pembukaan Festival Van der Wijck || YP-Wahjudi Djaja

Koran Belanda lainnya yang terbit kisaran waktu itu juga menyebut peresmian kanal Van der Wijck dilakukan pada 1910 dimana masyarakat diliburkan untuk piknik. Tamu-tamu dari Eropa berangkat bersama dari Tugu Putih Pal Yogyakarta menggunakan mobil yang dipinjamkan perusahaan Belanda menuju area ujung kanal Van der Wijck dimana ibu-ibu merasa sangat bahagia. Turun dari mobil, mereka menyusuri jalan sampai wilayah Sendangpitu dengan disambut para tandak (penari) musik dan wayang. Yang menarik dari kisah ini adalah para pengebur saat itu mendapat penghargaan berupa arloji. Ini bisa diangkat menjadi paket wisata sejarah penelusuran kanal Van der Wijck. 

Sebuah koran terbitan 27 Februari 1928 menulis bahwa kanal yang telah dibangun harus dipelihara dan dirawat oleh perusahaan-perusahaan yang bersangkutan. Jadi perusahaan gula yang ada mempunyai kewajiban untuk memelihara kanal tersebut. Kanal tersebut, menurut sebuah koran terbitan Belanda, sempat rusak terkena bencana letusan Gunung Merapi pada 1931 dan baru selesai diperbaiki pada 1932. 

Mendasarkan diri pada data dan fakta sejarah menjadi kunci saat kita mencoba mengangkat sebuah bangunan bersejarah (heritage) untuk kepentingan pengembangan pariwisata. Sejarah bukan hanya berdasar pada kata orang atau mitos, tetapi harus faktual karena beranjak dari data sejarah. 

Dari penelusuran sejarah kita menjadi tahu relevansi keberadaan sejumlah pabrik gula (suiker fabriek) yang banyak ditemukan di Sleman. Kawasan Sleman bagian barat dulu memang merupakan sentra perkebunan tebu. Jejak sejarah pabrik gula masih bisa ditemukan Medari (Sleman), Beran (kini kompleks Pemkab Sleman), Randugunting (Prambanan), Tanjungtirto (Kalasan), Demakijo (Gamping), Cebongan (Mlati), Klaci (Godean) dan Sendangpitu (Moyudan). (Iud)

 


share on: