Yogyapos.com (SLEMAN) - Dukuh Tangisan Kalurahan Banyurejo Tempel berada di kawasan Kali Krasak. Zaman dahulu dikenal keberadaan lampor, barisan makhluk halus yang berarak terbang pada malam hari. Penyelenggaraan Festival Van der Wijck diharapkan bisa mengubah mitos lampor menjadi obor. Diharapkan festival itu bisa menerangi dan menggerakkan beragam potensi desa sehingga Banyurejo semakin maju, makmur dan berkembang.
Demikian pesan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Sleman HY Aji Wulantara SH MHum saat rembug warga menyambut pelaksaan Festival Van der Wijck di Tangisan Jumat (4/3/2022) malam. Hadir dalam acara itu Kabid Pemasaran Pariwisata Dispar Sleman Kus Endarto SE Mec Dev, anggota Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS), Lurah dan perangkat Kalurahan Banyurejo, Heru Mataya dan tim kreatif sebagai pelaksana serta warga dan kalangan pemuda Dukuh Tangisan yang antusias hadir di rumah Sumitro, tokoh masyarakat setempat.
Lebih jauh disampaikan, sebenarnya aspirasi warga Tangisan untuk menggelar Festival Van der Wijck sudah lama, namun karena adanya kendala dan pandemi Covid-19 keinginan tersebut belum bisa terlaksana.
“Kami bersyukur dan menyambut positif bahwa kemudian Kemenparekraf dan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mengangkat selokan Van der Wijck yang tak ditemukan di daerah lain sebagai potensi pariwisata. Ini bisa dijadikan jalan untuk membangun kemakmuran warga Tangisan dan Banyurejo,” imbuh mantan Kepala Dinas Kebudayaan Sleman ini. Hanya saja, pesannya, karena Sleman masih berada di Level 3, pihaknya berharap agar pihak penyelenggara benar-benar mematuhi protokol kesehatan dan berkoordinasi dengan Satgas Covid-19.
Sebelumnya, Kabid Pemasaran Pariwisata Dinpar Sleman Kus Endarto menyampaikan keinginannya agar masyarakat Dukuh Tangisan proaktif dan bertindak sebagai subjek pemberdayaan potensi pariwisata.
“Kami hanya membantu membukakan dan memfasilitasi agar Festival Van der Wijck ini benar-benar menjadi milik masyarakat dan masyarakat Tangisan-lah pemegang kendali selanjutnya,” tandasnya.
Ditambahkan oleh Heru Mataya selaku tim kreatif, upaya pengembangan dan pemanfaatan selokan Van der Wijck sebagai event pariwisata harus tetap dengan mempertahankan warna dan kearifan lokal.
“Sajian acara festival selama dua hari dari 18-19 Maret 2022 akan dinikmati oleh jutaan orang di dunia karena kami juga akan gelar secara live streaming. Agenda Festival Van der Wijck yang kita susun pun akan kami sebar ke seluruh provinsi dan kabupaten/kota yang menjadi jaringan kami,” tandasnya. Oleh karena itu, pintanya, selain kita harus menampilkan keunikan Tangisan juga harus serius dalam penanganan selama pelaksanaan.
Sementara itu Lurah Banyurejo Saparjo ST sangat berharap agar momentum ini benar-benar diambil oleh masyarakat Tangisan. “Sudah berulangkali saya didatangi sejumlah investor yang ingin membeli tanah di kawasan selokan Van der Wijck. Apalagi dengan rencana keberadaan exit tol menuju bandara. Maka marilah kita semangat mengembangkan potensi daerah agar kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” paparnya.
Sedangkan anggota BPPS Wahjudi Djaja selaku pendamping menjelaskan optimalisasi potensi Dukuh Tangisan agar bisa memiliki daya jual yang lebih besar.
“Kita harus mengeksplorasi kekayaan kuliner, kerajinan, kesenian, pertanian, kesejarahan dll agar memiliki ciri pembeda. Jangan latah meniru beragam sajian dan paket wisata seperti yang ada di daerah lain. Dengan mudah kita akan tumbang. Syaratnya, kita harus kompak bersatu, golong gilig dan nyawiji lahir batin agar selalu diberi kekuatan,” pesannya. (Iud)
