GIYANTO, PENAMBAL BAN KELILING : Bahagia Bisa Bantu Orang Lain

share on:
Giyanto, selalu hepi dengan pekerjaannya | Foto : Agung DP

Pukul 05.00 WIB boleh dibilang terlalu pagi untuk memulai aktivitas kerja pertukangan, perbengkelan dan sejnisnya. Namun bagi Sugiyanto, walau fajar belum merekah, ia sudah siaga ‘ngegas’ sepeda motornya pagi ia menuju Pasar Sleman.

Hanya butuh waktu sekitar 20 menit dari rumahnya di bilangan Wates Srumbung Magelang ke Pasar Sleman. Maklum lalulintas masih sepi. Sesampai di tempat tujuan, ia pun dengan cekatan memarkir kendaraannya yang berisi seperangkat alat tambal ban. Beberapa di antaranya seperti alat pres ban diturunkan dan ditempatkan disisi sepeda motor.

Giyanto, demikian lelaki usia 50 tahun ini biasa disapa, tampak tenang duduk di atas dingklik sembari menanti pelanggan. Siapakah mereka? Tak lain orang-orang yang kebetulang beroleh ‘alangan’ yang ndilalah ban sepeda motornya gembos atau bocor.

“Pernah baru buka lapak jam 05.30, ternyata ada orang kebanan. Dia ternyata sudah menunggu saya sejak setengah jam sebelumnya. Ya sudah, langsung saya tandangi,” ucap Penambal ban keliling ini kepada yogyapos.com, Minggu (6/1/2019).

Giyanto nglakoni pekerjaan sebagai penambal ban keliling sejak 5 tahun yang lalu. Mungkin ini bakal menjadi pekerjaan terakhir baginya setelah sebelumnya telah berganti-ganti pekerjaan, jualan mercon kembang api hingga pengojek.

Ia mengaku menikmati pekerjaan tersebut. Bisa membantu orang lain yang membutuhkannya. Apalagi seringkali orang-orang telah menggunakan jasa penambalan itu menyatakan terimakasih.

Memang sekadar ban bocor. Tapi pernahkah membayangkan seandainya tidak ada jasa tambal ban, tentu aktivitas akan terhambat dan berpengaruh pada produktivitas maupun profesionalitas. Pernah ada Pak Guru yang tampak ngos-ngosan setelah menuntun sepeda motor dari jarak 1 Km akibat bannya bocor. Sesampai di tempat Giyanto, ban pun segera ditambalkan. “Saya tandangi sepuluh menitan selesai. Pak Guru itu mengucapkan berkali-kali terimakasih, bahkan memberi ongkos lebih,” kenang Giyanto seolah menunjukkan pentingnya betapa pentingnya pekerjaan jasa tambal ban.

Bagi Giyanto, peristiwa tersebut bagian dari kebahagiaan karena bisa membantu kelancaran kerja orang lain. Ia pun mematok tarif relatif murah, Rp 10.000 untuk satu tambalan. Siap menerima panggilan, tarifnya sama yakni Rp 10.000 asalkan jaraknya dekat sekitar 5 Km dari posisi dia mangkal. “kalau jaraknya agak jauh ada tambahan ongkos bensin,” ujarnya, datar seraya menginformasikan nomor telponnya 087838686399.

Dari hasil jerih payahnya, Giyanto merasa bersykur bisa menghidupi 3 anak dan seorang istrinya. "Saya bekerja dari jam lima pagi sampai jam empat sore,” terangnya.

Musin hujan seperti sekarang, bukanlah halangan bagi Giyanto melakukan aktivitas keseharian sebagai tukang tambal ban. Bahkan justru sering ketiban ‘order’ lebi banyak. Tapi banyak atau sedikit agaknya bukan persoalan. Sebab bagi Giyanto terpenting di usia tua masih bisa memberi manfaat bagi sesama yang membutuhkan melalui aktivitas pekerjaannya. Maka jangan sekali-kali memandang dengan sebelah mata ‘Giyanto-Giyanto’ di sangkar kehidupan ini. (Agung DP)

 

 


share on: