Yogyapos.com (SLEMAN) - Grebeg Madurejo yang menandai peringatan penggabungan empat kalurahan di Prambanan (Kebondalem, Rejodani, Totogan dan Demangan) digelar untuk menggerakkan perekonomian warga. Dengan memadukan usaha UMKM dengan kebudayaan diharapkan bisa menciptakan produk unggulan lokal yang memperkuat pengembangan pariwisata.
Demikian Ketua Panitia Grebeg Madurejo, H Widada dalam laporannya saat pembukaan Madurejo Fair di area Pasar Potrojayan, Madurejo, Prambanan, Sabtu (17/12/2022). Grebeg Madurejo dilaksanakan dua hari sampai Minggu (18/12/2022) ditandai dengan pasar rakyat, pentas seni tradisi dan Kirab Boyong Projo.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-bpps-gelar-prambanan-roller-sport-festival-7085
Sementara itu saat membuka Grebeg Madurejo, Bupati Sleman Hj. Kustini Sri Purnomo, menandaskan bahwa pasar tradisonal adalah saudara kita sendiri. “Di pasar tradisional terjadi komunikasi antara pembeli dan penjual. Sedangkan kalau di pasar jejaring kita tidak tahu yang punya siapa, sehingga kita tidak bisa bertemu satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, mari kita belanja di pasar tradisional yang ada di sekitar kita agar ekonomi rakyat menggeliat,” tandasnya.
Sinergi antara budaya dan UMKM seperti dalam Grebeg Madurejo ini, lanjutnya, bisa menaikkan UMKM agar lebih berperan dalam perekonomian, tentu dengan pembinaan-pembinaan agar harga jual semakin laku. Dengan demikian, barang-barang yang ada di Madurejo semakin laku.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-situs-jolontoro-joho-prambanan-siap-jadi-destinasi-wisata-7018
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Wasita, yang hadir dalam acara tersebut turut menanggapi arahan Bupati Sleman tersebut. “Pasar tradisional memang bisa menjadi destinasi wisata yang menarik. Jangan membayangkan wisata hanya urusan bus-bus yang hilir mudi ke sebuah objek wisata. Aktifitas jual beli di pasar tradisional pun bisa menjadi paket wisata. Orang bisa mengenang kembali kehidupan tradisional sambil jalan-jalan atau menikmati jajanan pasar yang khas,” tandasnya.
Gelar potensi UMKM dalam Grebeg Madurejo || YP-Wahjudi Djaja
Sedangkan Wahjudi Djaja dari Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) menyampaikan perlunya Pemerintah Kabupaten Sleman mendukung dan melindungi pasar-pasar tradisional yang ada.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-wabup-sleman-mengapresiasi-tour-de-prambanan-7682
“Kita bahkan memiliki beberapa situs pasar kuna yang dibangun era Hamengku Buwono VII. Pernah menjadi tempat pertemuan para pejuang selama masa revolusi. Narasi sejarah ini perlu kita angkat untuk memberi warna lokalitas wisata Sleman,” jelasnya.
Pembukaan Grebeg Madurejo antara lain dihadiri Panewu Prambanan Dra Siti Wahyu Purwaningsih, OPD terkait seperti Dinas Kebudayaan Sleman, Dinas Koperasi dan UMK Sleman, Dinas Kebudayaan DIY, serta unsur kelembagaan Kalurahan Madurejo.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-pdam-sleman-optimalkan-layanan-di-kawasan-wisata-prambanan-7479
Direktur BUMKal Sido Makmur Sidomulyo, Godean, Sleman, Haryana, yang datang bersama pengurus mengapresiasi pelaksanaan Grebeg Madurejo. “Agenda semacam ini menarik untuk direplikasi dengan menyesuaikan potensi lokal di masing-masing kalurahan. Harapan kami, Kalurahan Sidomulyo juga bisa menggelarnya mengingat potensi UMKM yang kami miliki tak kalah banyak,” harapnya. (Iud)
