Situs 'Jolontoro' Joho Prambanan Siap Jadi Destinasi Wisata

share on:

KEPIAWAIAN Belanda dalam membuat bangunan air memang telah lama dikenal. Selain menggunakan konstruksi yang berkualitas tinggi, juga tahan terhadap perubahan zaman. Beragam jejak peninggalan bangunan Belanda seperti jembatan, saluran air atau dam juga bisa dijadikan pintu pembuka kisah sejarah yang dekat dengan kehidupan masyarakat seperti situs Jolontoro di timur candi Prambanan.

Saluran air yang akrab disebut dengan Jolontoro ini terletak di Dusun Padanjero, Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Jika melihat dari jauh sekilas seperti kanal Van der Wijck (Buk Renteng) yang terletak di Dusun Tangisan, Banyurejo, Tempel, Sleman. Bangunan melintang di atas area persawahan dengan kaki-kaki membentuk kolong sedangkan saluran air berada di atas sepanjang lebih dari 500 meter. Jika padi menguning, kawasan ini akan menjadi destinasi yang menarik dan indah dipandang.

Dimintai tanggapannya tentang keberadaan saluran Jolorontoro tersebut Ketua Komunitas Kandang Kebo, Dr. Maria Tri Widayati, mengakui bahwa dilihat dari jauh bentuk bangunan Jolontoro atau Plumpung Banyu yang ditemukan di Dusun Padanjero, Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah mirip dengan Buk Renteng yang ada di Dusun Tangisan Banyurejo Tempel Sleman yang menggunakan sistem gravitasi.

"Setelah saya dekati ternyata bentuknya lebih tipis. Jolontoro atau sering disebut Plumpung Banyu merupakan salah satu saluran air yang dibangun oleh Belanda. Terkait teknik pembangunan, kayaknya mirip dengan sistem gravitasi. Semakin ke arah selatan semakin rendah sehingga air bisa mengalir. Sayangnya bangunan yang berasal dari tahun 1800-an ini bagian saluran air di atas buk renteng sudah hancur,” katanya yang belum lama ini juga sempat melihat keberadaan saluran Jolontoro.

Kawasan Joho dulu memang sentra perkebunan tembakau Vorstenlanden dan tebu. Vorstenlanden adalah istilah Belanda untuk menyebut wilayah kekuasaan empat monarki pecahan Kesultanan Mataram, yaitu Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman. Tak jauh dari lokasi saluran Jolontoro terdapat pabrik gula Gondang yang didirikan Belanda selepas Perang Diponegoro tepatnya tahun 1860 dengan nama  Suikerfabriek Gondang Winangoen. 

Di sisi timur saluran Jolontoro terdapat makam Mbah Baumirono yang oleh warga setempat dipercaya sebagai cikal bakal berdirinya Desa Joho. Di dekat makam Mbah Baumirono terdapat makam Lembusari yakni kuda klangenannya dan beberapa ajudan. "Makam beliau tak mau dipindah untuk dijadikan satu. Para simbah dulu pernah mau menggeser dalam satu cungkup, tapi selalu kembali,” kata Parjiman yang juga Ketua RW setempat didampingi Adimulya warga setempat.

Tak jauh dari makam Mbah Baumirono, lanjut Parjiman, terdapat makam abdi dalem Kraton Surakarta yakni RM.Ng. Mangunmaryasa I dan istrinya serta RM Ng Mangunmaryasa II. "Itu yang membangun juga pihak Kraton Surakarta,” jelasnya sambil menunjukkan cungkup makam tersebut.

Lebih lanjut Parjiman menyampaikan rencana pengembangan saluran Jolontoro sebagai destinasi wisata. "Kami sudah merencanakan membuat jalan penghubung dari sisi utara dekat pasar menuju saluran Jolontoro. Harapan kami agar ini bisa membuka potensi wisata Joho mengingat kami juga memiliki beragam potensi seni dan budaya yang bisa dijadikan atraksi pendukung,” tandasnya saat ditemui yogyapos.com ketika tengah kerja bakti bersama warga di dekat makam, Kamis (26/5/2022).

Sedangkan Ketua RT Paidi menambahkan akan digelarnya pentas seni tradisi berupa ketoprak pada bulan Juli 2022 tepatnya pada malam Minggu Kliwon. "Ini merupakan usaha kami untuk lebih memperkenalkan potensi wisata yang dimiliki Desa Joho. Apalagi di kebun utara makam dulu ditemukan patung bagian kepala yang kini dirawat bagian Purbakala. Harapan kami tentu ada dukungan dari pemerintah agar jejak sejarah atau peninggalan Belanda ini bisa dikembangkan dan dikelola untuk meningkatkan pendapatan warga masyarakat,” jelasnya. (Wahjudi Djaja)

 


share on: