Gugur Gunung, Sarana Komunikasi Efektif Meretas Kesenjangan Sosial

share on:
Anggota kelompok peneliti mahasiswa UNY || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Yogyakarta memiliki berbagai macam tradisi lokal yang patut dilestarikan karena menjadi bagian dari keanekaragaman budaya nusantara. Tradisi lokal yang ada dikhawatirkan akan hilang tergerus oleh kemajuan peradaban. Masyarakat yang semakin banyak mendapatkan pendidikan menjadikan masyarakat lebih rasional dalam menanggapi beberapa hal. Berpikir rasional seringkali terbentur dengan tradisi.

Tradisi yang mengutamakan nilai luhur dan magis menyebabkan tradisi dianggap bertentangan dengan nalar logis. Permasalahan yang terjadi pada terganggunya sebuah komunikasi efektif dan tradisi yang ada dimasyarakat dapat teratasi jika adanya kerjasama serta sikap peduli untuk menyelesaikannya bersama-sama.

Hal itulah yang menginspirasi sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) meneliti bentuk komunikasi efektif dalam tradisi lokal masyarakat. Tradisi yang diteliti adalah Gugur Gunung (Sambatan Gawe Omah) yang mengandung nilai-nilai luhur. Mereka adalah Basid Elmi Izzaqi dan Diah Nadiatul Jannah prodi Pendidikan IPS serta Wildan Fadlilah prodi Ilmu Komunikasi.

Menurut Basid Elmi Izzaqi tradisi gugur gunung juga sering disebut dengan kegiatan gotong royong yang identik dengan bekerja bersama antara anggota satu dengan yang lain dalam masyarakat yang diikat oleh tali persaudaraan kehidupan komunal dalam entitas ikatan sosial masyarakat.

“Dalam konteks gotong royong, hanya satu atau segelintir orang saja, tentunya gotong royong tersebut tidak bisa muncul,” kata Basid.

Bahkan, papar dia, dengan banyak orang pun, akan tetapi tidak ada ikatan persaudaraan antara satu dengan yang lain dalam masyarakat, gotong royong itu sendiri juga tidak bisa menjelma. Kondisi tersebut bisa terwujud, hanya jika ada ikatan sosial dan dilakukan oleh sekelompok masyarakat tertentu yang sama-sama ingin melaksanakannya.

Sedangkan tradisi sambatan atau di masyarakat sering disebut juga ‘nyambat' adalah tradisi untuk meminta pertolongan kepada warga masyarakat yang bersifat massal untuk membantu keluarga yang sedang memiliki keperluan atau sedang terkena musibah. Seperti membangun, memperbaiki atau memindah rumah, melaksanakan hajatan, dan juga keperluankeperluan lain yang membutuhkan bantuan orang banyak. Sebuah kearifan lokal yang terbentuk dari semangat gotong-royong yang tinggi di dalam masyarakat yang semua itu didasarkan pada rasa kepedulian antara masyarakat satu dan lainnya.

Oleh karena itu dirasa perlu untuk menggali nilai-nilai komunikasi efektif yang terjadi dalam tradisi gugur gunung (sambatan gawe omah) sebagai modal sosial dari kearifan lokal. Diah Nadiatul Jannah menambahkan bahwa subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat Giricahyo, Purwosari, Gunungkidul, khususnya para pelaku tradisi sambatan gawe omah dan masyarakat pada umumnya kaitannya dengan eksistensi sambatan gawe omah sebagai bentuk budaya intelektual sosial.

Wildan Fadlilah menjelaskan, berdasarkan data yang dihimpun, ketlka seseorang akan membangun rumah maka warga sekitar tanpa diminta datang bergotong royong untuk ikut membangun rumah.

“Fenomena ini menunjukkan kuatnya komunikasi nonverbal yang dilaksanakan masyarakat setempat,” ungkap Wildan.

Pengamatan awal menunjukkan perilaku komunikasi ini terjadi akibat kesamaan makna yang dipegang masyarakat setempat dalam menginterpretasi sebuah simbol (proses decoding). Sebuah komunikasi dapat dikatakan efektif apabila pesan yang ditangkap oleh penerima menimbulkan efek sesuai dengan harapan pengirim pesan. Maka dalam hal ini diperlukan kemampuan encoding (membuat pesan) dan decoding (memaknai pesan) yang baik.Tradisi gugur gunung yang dilaksanakan oleh masyarakat di Gunungkidul mengandung beragam simbol dan makna yang didalamnya mencerminkan efektifitas komunikasi.

Proses pelaksanaan gugur gunung sebagai bentuk kearifan lokal yang didalamnya mengandung proses komunikasi verbal dan non verbal yang cukup menarik, bagalmana pola komunikasi warga dari berbagai latar belakang sosial turut ikut serta dalam gugur gunung.

Kegiatan ini berhasil meraih dana Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian tahun 2020. (Dedy Herdito)


share on: