Habib Husein: Negeri Ini Defisit Cinta

share on:
Habib Husein di hadapan peserta dzikir | YP/Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (SLEMAN) - Dibalik gegap gempita kontestasi politik, ada sesuatu yang cukup menggelisahkan bangsa ini. Rasa mencintai negeri yang indah, kaya, dan plural ini terlihat semakin menipis. Orang menjadi mudah tersinggung, marah dan konflik hanya karena masalah beda pilihan. Bila ingin melihat dan menikmati anugerah Allah berupa negeri yang indah ini, baik bila masing-masing elemen menumbuhkan kembali rasa cinta tanah air.

Habib Husein bin Muhammad bin Ahmad Bafaqih menegaskan hal itu seusai memimpin dzikir dan salawat untuk Indonesia di Sidomoyo, Godean, Sleman, DIY, Jumat (1/2/2019). Tanpa cinta yang diperbarui, lanjutnya, sulit bagi bangsa ini bersatu dan utuh kembali.

“Tantangan bangsa ini ke depan semakin besar, berat dan beragam. Tanpa mau mengurangi ego dan memperbesar rasa handarbeni, kita tak bisa bayangkan apa yang akan terjadi,” tandasnya.

Lebih jauh, menurut ulama muda yang memimpin majlis maulid di berbagai kota ini mengatakan, bangsa dan negara ini lahir antara lain berkat perjuangan ulama dan elemen bangsa. "Tugas kita adalah melanjutkan perjuangan mereka dengan senantiasa mengajak elemen bangsa lain untuk menyamakan visi dan langkah. Salah satu energi yang harus dipupuk dan ditumbuhkembangkan adalah cinta. Cinta itu menguatkan, menggerakkan, dan meminimalisir perbedaan-perbedaan yang ada," jelasnya.

Permasalahannya, sambungnya dengan nada bertanya, bagaimana mengelola energi cinta itu agar bisa efektif dan berdaya jelajah kebangsaan. "Kami sedang mendiskusikan hal ini dengan beberapa pihak dan elemen lintas kepentingan dibawah bimbingan Abah Habib Luthfi Pekalongan untuk menemukan formula terbaik. Semoga saja tak lama lagi akan muncul kesadaran dan gerakan itu,” imbuhnya yakin.

Pada bagian lain Habib Husein juga melihat pentingnya generasi muda untuk kembali membuka lembaran sejarah bangsa, terutama masuknya Islam dan peranan Islam dalam perjuangan bangsa.

"Ini penting dilakukan, bukan dalam rangka membangkitkan primordialisme tetapi lebih pada bagaimana cara generasi muda penerus bangsa menghormati para pendahulu terutama kaum ulama yang bertebaran di penjuru Nusantara. Peran mereka sangat besar, sayang kalau kita lupakan. Dzikir dan salawat seperti ini bisa dijadikan salah satu jalan untuk mendoalan mereka dan mengambil keteladanan dari mereka,” tandasnya serius.

Sementara itu dalam tausiyah di hadapan jamaah, Habib Husein mengajak untuk lebih meningkatkan rasa syukur. Caranya dengan selalu mendoakan, mambaca salawat, dan dzikir kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dan para ulama yang menjadi penerusnya. "Doa dan salawat kita kelak seperti lampu yang menerangi kita semua saat menapaki jalan yang gulita,” pesannya. (Udi)

 

 

 

 


share on: