Hasto Wardoyo : Sambut Wajah Baru Kulon Progo, Perjuangkan Embarkasi Haji

share on:
Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo | YP/Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (KULON PROGO) - Kulon Progo akan memasuki zaman baru. Wilayah kita akan memiliki wajah baru, dengan segera beroperasinya bandara baru yang berada di kawasan Temon Kulon Progo. Kita berharap ini menjadi berkah. Untuk itu segenap OPD Kabupaten Kulon Progo berjuang agar ada embarkasi haji, sehingga bandara akan sempurna karena memberi manfaat untuk keluarga-keluarga di Kulon Progo yang ditandai oleh semakin meningkatnya jamaah haji dan umrah.

Bupati Kulon Progo, Dr H Hasto Wardoyo SP OG mengatakan hal itu kepada yogyapos.com usai mengikuti Majlis Dhuha, di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kulon Progo, Sabtu (19/1/2019). Terkait dengan wajah baru itu, kata Hasto, ini merupakan dampak dinamika kemajuan zaman yang berbasis teknologi dan harus secepatnya diantisipasi.

"Kita sedang membangun sistem aplikasi yang integral dan terpadu, one and single web. Untuk itu kita menjalin kerjasama dengan New Zealand, China, juga Kominfo, Gamatechno, dll agar teknologi membawa manfaat bagi masyarakat. Prinsipnya, technology pro poor, teknologi harus berpihak kepada rakyat miskin," tandasnya.

Komitmen Hasto untuk memanfaatkan kemajuan teknologi bagi peningkatan kesejahteraan warganya boleh diapresiasi. "Kami telah menjalin kerjasana dengan beberapa pihak untuk mengembangkan telemedicine yang bisa diakses dengan cepat dan mudah oleh warga yang berada di daerah terpencil. Selain itu beberapa ahli juga merekomendasikan adanya program pulsa desa. Bayangkan, tahun 2018 jumlah uang yang disedot untuk pembelian pulsa di Kulon Progo sebesar 76 M. Dana sebesar itu keluar. Coba pikirkan, kalau dana segitu bisa kembali ke Kulon Progo, kan hebat. Ini masalah ideologi, jangan sampai uang rakyat lari ke orang asing,” akunya penuh keyakinan.

Era digitalisasi dan desrupsi, menurut Hasto, menyediakan beragam akses, kemudahan, dan kecepatan yang bisa digunakan untuk mengatas kemiskinan, ketakterjangkauan wilayah, dan sejumlah kendala pembangunan yang lain. "Ini memang tantangan bagi kita. Mau jadi ekornya harimau (kapitalis) atau kepalanya kucing (orang miskin). Itulah pembangunan berbasis ideologi. Kemandirian desa harus diperjuangkan, dana desa bisa diberdayakan untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat," katanya yakin.

Hasto lebih jauh menguraikan, terbayang bila 88 desa di Kulon Progo bisa terkoneksi menjadi satu, dimana potensi dan produk bisa diakses dan dibeli dari manapun, betapa akan memberi banyak manfaat bagi warga. Teknologi harus 'diperes-peres' untuk membela orang miskin. Dana desa atau bumdes bisa digunakan untuk membangun tower sehingga komunikasi bisa berjalan lebih efektif dan bermanfaat.

"Saya bisa teleconference dengan semua kepala desa tanpa hambatan jarak dan waktu. Tower dan repeater  ini kami harap akhir Februari sudah selesai untuk diujicobakan. Harus dibangun di daerah yang sulit sinyal atau digunung, jangan di daerah yang datar. Lalu kita cetak voucher yang harganya lebih murah,” katanya bersemangat.

Dalam perbincangan hangat yang didampingi Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Dra Niken Probo Laras SSos MH itu, Bupati juga berharap agar 2019 sebagai tahun politik, semua agenda bisa lancar, dan kita memiliki pemimpin amanah untuk bangsa Indonesia. "Saya yakin kekuatan doa sebagai awal perjuangan, semoga berkah bagi Kulon Progo. Banyak pemimpin yang jujur dan adil, semoga doa kita didengar Allah,” katanya penuh harap.

Dalam kesempatan yang sama, Niken Probo Laras menjelaskan komitmennya untuk mengoptimalisasikan segenap insan pariwisata demi keberhasilan wajah baru Kulon Progo. "Kami telah menyiapkan beragam agenda, workshop, dan pelatihan menyangkut teknologi aplikasi agar para pengelola wisata dan desa wisata di Kulon Progo bisa secepatnya mengantisipasi dan mengadaptasi era digitalisasi" tandasnya. (Udi)

 


share on: