Yogyapos.com (GUNUNGKIDUL) - Haura Azka Hafidzah, siswi kelas VIII SMP Negeri 1 Wonosari, Gunungkidul, lolos sebagai Finalis Bintang Sobat SMP 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.
BACA JUGA: Sri Sultan HB X Tegaskan Dialah yang Meminta Kasus Eks Lurah Condongcatur Diproses
Bintang Sobat SMP merupakan ajang bergengsi tingkat nasional, sebagai wadah penjaringan, pembinaan, dan apresiasi bagi murid SMP yang memiliki potensi kepemimpinan, kreativitas, prestasi akademik/non akademik, serta kemampuan menjadi role model teman sebaya dalam mendukung ekosistem pendidikan.
BACA JUGA: Penegakkan Perda, Pemkot Yogya Razia 'Gepeng' untuk Jalani Asesmen
Haura, sapaan akrabnya, membawa kisah tentang anak daerah yang tidak berhenti pada prestasi. Ia merawat bakat, mengolah ilmu, dan mengembalikannya sebagai manfaat bagi sekitar. "Bintang yang baik bukan hanya bersinar, tetapi juga menerangi.”
Dari ruang kelas SMP Negeri 1 Wonosari, dari lapangan tenis yang mengajarkan disiplin, dan dari keresahan kecil terhadap persoalan lingkungan di sekitar, Haura Azka Hafidzah menapaki perjalanan yang tidak hanya berbicara tentang prestasi.
BACA JUGA: Wakil Ketua Komisi I DPR RI Bekali Taruna Akmil tentang Kepemimpinan Militer Era Kontemporer
Ia membawa satu pesan sederhana, bahwa bakat tidak cukup hanya untuk dibanggakan. Bakat harus bekerja, bergerak, dan memberi manfaat. Baginya, kesempatan tersebut bukan sekadar panggung apresiasi, melainkan ruang untuk menunjukkan bahwa anak dari daerah juga dapat berdiri sejajar, membawa gagasan, dan menyuarakan perubahan.
BACA JUGA: Letkol Inf Richie Fadly SSos Kini Pimpin Kodim 0706/Temanggung
Perjalanan Haura tidak lahir dalam satu malam. Ia tumbuh melalui banyak ruang pembelajaran: organisasi, olahraga, kepalangmerahan, kepramukaan, riset, dan kepedulian sosial. Di sekolah, ia dipercaya sebagai Ketua Umum OSIS SMP Negeri 1 Wonosari periode 2025/2026 setelah sebelumnya aktif dalam kepengurusan OSIS. Tercatat pula sebagai Pramuka Garuda, aktif dalam PMR, serta terus mengasah diri melalui tenis lapangan dan kompetisi riset.
BACA JUGA: Kunjungi Yon TP 443 Wonosobo, Danrem Ajak Prajurit Jadi 'Satria Petarung' Tangguh
Namun, yang membuat Langkah dia terasa berbeda adalah caranya memandang prestasi. Piala dan medali bukan akhir dari perjalanan. Prestasi hanyalah tanda bahwa proses panjang telah dilalui. Yang lebih penting adalah bagaimana proses itu dapat kembali menjadi manfaat bagi teman, sekolah, lingkungan, dan masyarakat.
BACA JUGA: Operasi Spam Judol Meluas Lintas Platform, Sasar Influencer Daerah
Gagasan tersebut tampak dalam ide konten kreatif bertajuk “Saat Raket Bertemu Riset”. Melalui konsep ini, Haura ingin menunjukkan bahwa lapangan tenis bukan hanya tempat memukul bola. Di sana ada sudut, keseimbangan, fokus, reaksi, keputusan cepat, dan disiplin.
BACA JUGA: Menteri Jumhur Ungkap Potensi Perdagangan Karbon Indonesia Capai Ribuan Triliun
Dari raket, ia belajar tentang gerak. Dari riset, ia belajar tentang cara berpikir. Dari keduanya, ia belajar bahwa ilmu tidak boleh berhenti di kepala, tetapi harus turun menjadi tindakan.
Haura menghubungkan dunia olahraga dengan sains dan kepedulian terhadap kesehatan pelajar. Gagasan tentang sport science, kesadaran postur tubuh, dan kebiasaan duduk yang sehat menjadi bagian dari pesan yang ingin ia bawa kepada teman sebaya.
BACA JUGA: Dandim 0731/Kulonprogo Sampaikan Apresiasi dan Selamat kepada Kapolres di Hari Bhayangkara
Ia tidak ingin ilmu terdengar jauh dan rumit. Justru, ilmu harus terasa dekat: dimulai dari cara duduk, cara bergerak, cara menjaga tubuh, hingga cara memahami persoalan sehari-hari.
BACA JUGA: Penegakkan Perda, Pemkot Yogya Razia 'Gepeng' untuk Jalani Asesmen
Pada gagasan konten berikutnya, Haura mengangkat konsep “Sapa Rasa: 3 Menit Ngancani Kanca”. Di tengah kehidupan sekolah yang sering berjalan cepat, ia menawarkan gagasan sederhana tetapi menyentuh: melihat teman, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menghubungkan kepada bantuan yang tepat. Dalam bahasa yang dekat dengan budaya Yogyakarta, ia menyebutnya sebagai sikap niteni, ngrungokake, dan nggandhengake.
Haura Azka Hafidzah bersama Kepala sekolah SMPN 1 Wonosari, Agus Maryanto || YP-Ist
Konsep ini memperlihatkan bahwa sekolah aman dan nyaman tidak selalu dimulai dari program besar. Ia dapat dimulai dari kebiasaan kecil: menyapa teman, menjaga rahasia, tidak mudah memberi label, dan berani mencari bantuan ketika ada teman yang membutuhkan.
BACA JUGA: Pemkab Sleman Segera Realisasikan Pembangunan Infrastruktur Jalan Rp 100 Juta Per Kalurahan
Di tangan Haura, kepemimpinan tidak tampil sebagai instruksi, tetapi sebagai keberanian untuk hadir dan menemani. Kepeduliannya juga tampak dalam bidang lingkungan. Salah satu gagasan yang ia kembangkan adalah pemanfaatan eco enzyme kulit singkong sebagai bioremediator air limbah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Kabupaten Gunungkidul.
BACA JUGA: PMI Sleman Berhasil Menggalang Dana Rp 1,3 Miliar, Dialokasikan untuk Aksi-aksi Kemanusiaan
Inovasi ini berangkat dari realitas daerah: Gunungkidul memiliki potensi singkong yang besar, tetapi juga menghadapi tantangan limbah organik dan limbah cair. Dari bahan sederhana yang sering dianggap sisa, Haura melihat peluang untuk menghadirkan solusi ramah lingkungan.
BACA JUGA: Libur Sekolah Dongkrak Penumpang, KAI Commuter Tambah Empat Perjalanan
Di sinilah kisah Haura menemukan kedalamannya. Ia bukan hanya anak yang ingin tampil. Ia ingin berguna. Ia bukan hanya ingin menginspirasi teman-temannya untuk bersemangat, tetapi juga mengajak mereka menjadi bagian dari perubahan yang nyata. Semangatnya bukan semata-mata “ayo berprestasi”, melainkan “ayo menjadi bermanfaat”.
BACA JUGA: Di UNJ, Menteri LH Ajak Kampus Jadi Simpul Gerakan Nasional Pendidikan Pengelolaan Sampah
Sebagai anak Gunungkidul, Haura membawa identitas daerahnya dengan bangga. Ia memahami bahwa daerah bukan batas. Justru dari Gunungkidul, ia belajar tentang ketekunan, kesederhanaan, dan keberanian untuk memulai dari apa yang ada di sekitar.
BACA JUGA: Dugaan Korupsi TKD Condongcatur, Kejati: Modusnya Dirikan Kos Eksklusif Dilengkapi Kolam Renang
Dari kulit singkong, ia belajar tentang ekonomi sirkular. Dari lapangan tenis, ia belajar tentang disiplin. Dari organisasi, ia belajar menggerakkan teman. Dari PMR dan Pramuka, ia belajar melayani. Dari riset, ia belajar bahwa masalah tidak cukup dikeluhkan, tetapi perlu dicari jalan keluarnya.
BACA JUGA: Ratusan Mahasiswa UAJY Bergerak Menuju Lokasi KKN di Gedangsari Gunungkidul
Langkah menuju Bintang Sobat SMP 2026 bukan titik akhir, tetapi gerbang menuju perjalanan yang lebih luas. Dedikasi yang dimulai dari sekolah dan daerah akan terus dilanjutkan ke ruang yang lebih besar, termasuk panggung nasional dan internasional melalui program-program serupa. Bukan untuk sekadar membawa nama pribadi, tetapi untuk membawa semangat bahwa pelajar Indonesia, termasuk dari Kabupaten Gunungkidul, mampu hadir sebagai generasi yang adaptif, visioner, dan berdampak.
BACA JUGA: Panglima Kopassus Letjen TNI Djon Afriandi Bekali Taruna Akmil Jelang Prasetya Perwira
Haura percaya, bintang yang baik bukan hanya bersinar untuk dirinya sendiri. Bintang yang baik juga menerangi jalan bagi sekitarnya. Ia membawa pesan itu dengan tenang tetapi tegas: prestasi terbaik adalah prestasi yang pulang menjadi manfaat.
BACA JUGA: Wabup Sleman Turba Salurkan Bantuan Kursi Roda kepada Dua Warga di Ngaglik dan Kalasan
Kepala sekolah SMP N 1 Wonosari, Agus Maryanto SPd MPd, menyampaikan rasa syukur atas pencapaian siswanya. Menurutnya, Haura memiliki sejumlah talenta, antara lain di bidang olahraga, aktif berorganisasi sebagai Ketua OSIS, dan penelitian. Pihaknya dapat memberikan penampilan terbaik dan mengharumkan DIY.
BACA JUGA: Program JKN Makin Kuat, Cetak SDM Sehat Untuk Indonesia Hebat
"Kami berharap Haura bisa tampil terbaik, menampilkan potensi-potensi yang dimiliki sehingga mendapatkan hasil yang maksimal," tutur Agus. (Opo)
