Yogyapos.com (BANTUL) - Sebanyak 30 orang kader PAUD tingkat daerah dan kecamatan se-kabupaten bersama sejumlah pustakawan (pengelola perpustakaan) mengikuti kegiatan ‘Sosialisasi Minat dan Budaya Membaca Dalam Keluarga’ yang diselenggarakan Pengurus Daerah Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Bantul, Jumat (22/11/2019), di Pendopo Perpustakaan Daerah. Nampak hadir Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantul, Drs Eddy Susanto dan Ketua Umum IPI DIY, Sarwono SIP MA.
Ketua IPI Bantul, Suratmi SIP saat ditemui yogyapos.com mengatakan kegiatan IPI Bantul mendapat dukungan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, baik fasilitas, tempat, hingga bantuan dana. Sebelumnya kegiatan selalu melibatkan para pengelola perpustakaan baik berupa workshop maupun pelatihan bertema seputar perpustakaan. Namun pihaknya ingin mencobahal lain mengenai literasi keluarga dengan sasaran masyarakat umum.
“Maka kami mengajak para kader PAUD pada kegiatan IPI Bantul kali ini untuk turut membudayakan kegemaran membaca melalui keluarga dan lingkungannya masing-masing,” ujarnya.
Kegiatan sosialisasi menghadirkan narasumber tunggal dari Komunitas Ibu Profesional Yogyakarta, Putri Utami DN yang menyampaikan tentang teknik membaca nyaring (Read-Aloud). Dia menjelaskan, teknik ini diperkenalkan oleh Jim Trelease melalui karyanya The Read-Aloud Handbook. Membacakan buku dengan nyaring pada anak mesti dilakukan sedini mungkin. Bahkan saat anak masih berupa janin dalam kandungan. Tujuannya supaya terjadi interaksi antara ibu dan anak.
Pengaruh orang tua, papar dia, sangat besar artinya terhadap kebiasaan membaca keluarga. Setiap anak pasti akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Membacakan buku, selain mampu memberikan informasi serta imajinasi, juga akan lebih mempererat ikatan antara orangtua dan anak. Ayah ibu harus saling mendukung sehingga tercipta iklim membaca keluarga yang baik.
“Meskipun biasanya anak lebih dekat ke ibunya, tapi ternyata peran ayah justru lebih besar dalam menumbuhkan karakter membaca. Karena itulah anak perlu contoh nyata dari orang tuanya. Bagaimana anak akan membacabila orang tuanyasaja di rumah tidak membaca,” katanya menyitir buku Jim Trelease.
Ibu dari dua orang anak ini menambahkan, teknik membaca nyaring terbukti meningkatkan kemampuan membaca, menulis, berbicara, maupun mendengar. Di samping itu menambah semangat anak untuk belajar apa pun. Kebiasaan membaca tidak terjadi dengan sendirinya, perlu rutinitas mencapai hal tersebut.
“Masa usia emas anak (golden age) 0 – 5 tahun hendaknya diperhatikan dan dimanfaatkan sepenuhnya. Di usia inilah anak cepat menyerap sesuatu. Membacakan buku dengan nyaring akan lebih efektif,” terang Putri.
Dia mengungkapkan lebih jauh, Read-Aloud membantu memperkaya kosa kata anak. Anak pasti akan bertanya apabila ada kosa kata yang belum dimengertinya. Bahkan penerapan Read-Aloud dalam keluarga mampu menciptakan iklim menyenangkan pada anak terkait membaca. Tidak masalah bila kemudian anak dikenalkan sedikit demi sedikit tentang huruf tanpa target harus bisa, sebab dunia anak masih dunia bermain. Jangan sampai anak terbebani lalu menjadi stress karenanya. Suasana rumah pun harus dibuat menyenangkan, tidak membosankan.
“Ada tiga hal sangat disukai anak yaitu hadiah, cerita atau dongeng, dan bermain. Read-Aloud digunakan melatih anak agar suka membaca, bukan untuk bisa membaca,” Jelas perempuan yang memiliki Rumah Belajar Literasi di kediamannya Sidoarum Godean Sleman.
Di akhir paparannya, Putri mempraktekkan disertai petunjuk kepada para kader PAUD bagaimana cara membaca dengan teknik Read-Aloud. Dia mengimbau, sebelum membacakan cerita kepada anak agar melakukan analisa buku terlebih dahulu. Analisa meliputi identifikasi buku, gambar ilustrasi, tema, tokoh, alur cerita, kosa kata sulit, menarik ataukah tidak, termasuk identifikasi potensi pertanyaan yang mungkin dilontarkan anak.
“Jangan lupa, identitas buku seperti judul, nama penulis, serta illustrator pun harus disampaikan ke anak,” tegasnya memungkasi.
Selain paparan, kegiatan juga diisi tanya jawab dan sesi diskusi. Para kader PAUD diberi kesempatan mencoba teknik membacanya ring secara bergantian seperti dicontohkan dengan media yang sudah disediakan. (Muf)
