Jabo, Iwan, Djodi: Musik Itu Tidak Mati

share on:
Iwan Fals, Setiawan Djodi, Sabung Jabo saat konser Senandung Anak Wayang || YP-Wahjudi Djaja

DI TENGAH meledaknya kerinduan akan grup musik yang mampu membahasakan gejolak jiwa, Sirkus Barock hadir dalam momentum yang pas. Konser yang bertajuk Senandung Anak Wayang (Reunion) tidak saja sukses tetapi juga mampu menjadi katarsis akibat dinamika kehidupan sosial kemasyarakatan.

Selepas Butet Kertarejasa membuka pentas dengan baca puisi, Sawung Jabo hadir dengan melempar kata kunci yang singkat tetapi menjadi benang merah dari keseluruhan pentas yang membawakan 20-an lagu, di Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (18/9/2022) malam.

“Musik itu tidak pernah mati,” tandasnya saat merespon celoteh penonton yang memadati Concert Hall.

Ada tiga titik kisar yang bisa dijadikan pijakan tafsir atas pernyataan Jabo tersebut. Pertama, saat melantunkan lagu Kanvas Putih, Jabo mengajak penonton untuk mengidentifikasi diri.

“Kanvas putih bagai kehidupan. Bedanya kau bertepi, sedangkan kehidupan ini tak berujung tak bertepi,” tukasnya.

Laku lampah manusia bagaikan coretan dan lukisan yang serba fana dan terbatas. Makna hidup manusia tergantung pada kemampuannya untuk menghadirkan sesuatu yang berarti. Pelukis Nassirun yang ikut di panggung, memvisualisasikan lagu Kanvas Putih tersebut menghadirkan lukisan yang apik.

Kedua, meskipun sering kehilangan diri dan kesulitan mengidentifikasi diri dalam semesta kehidupan, pilihannya adalah terus bergerak seperti dalam lirik Senandung Anak Wayang. “Menerjang arah angin. Mengalir sungai cinta. Berlayar di tengahnya”. Dalam aransemen musik yang pelan dan kontemplatif, pesan yang hendak disampaikan Jabo adalah bahwa manusia jangan meninggalkan kewajaran. Diantara kemarahan dan cinta, manusia bisa mengembangkan sayapnya.

Ketiga, ketika keadaan merangsang munculnya kemarahan, kesadaran tak boleh ditinggalkan. “Kita merespon keadaan sekarang, dengan bahasa musik,” ungkap Jabo sambil mengundang naik panggung Iwan Fals.

Begitu dua musisi legendaris itu duet di atas panggung membawakan lagu Bongkar, Concert Hall pun gemuruh bahkan banyak penonton merangsek ke depan.

Kalau cinta sudah dibuang. Jangan harap keadilan akan datang. Kesedihan hanya tontonan. Bagi mereka yang diperkuda jabatan,” sambungnya.

Penonton merangsek ke depan panggung  || YP-Wahjudi Djaja

Apalagi kemudian musisi Setiawan Djodi juga diundang Jabo naik ke panggung. Penonton pun sangat menikmati lagu-lagu Nyanyian Jiwa, Bento, dan Hio. Ketiganya dijadikan media untuk meneriakkan perasaan sebagai respon kondisi bangsa mutakhir.

Pentas Sawung Jabo dan Sirkus Barock memberi bukti kebenaran ucapan Sawung Jabo bahwa musik itu tak mati. Lagu-lagu Sirkus Barock relatif tak banyak yang baru. Tetapi lirik dan aransemen yang ditampilkan seolah hidup dan mampu melintasi zaman. Sirkus Barock yang lama off seperti bangkit kembali menemani perjuangan rakyat. 

Menurut kesaksian Bramantyo Priyosusilo, tokoh Seni Kejadian Berdampak (Ngawi), Sirkus Barock mulai ada tahun 1976 dan dirinya mulai mengabdi di komunitasnya sejak 1985-an.

“Menurut saya ia adalah kelompok musik yang bukan sekedar 'pelacur industri', dan di antara kelompok semacamnya, ialah  yang paling menarik di Indonesia. Karena berbagai alasan, dan yang terpenting adalah, Sirkus Barock, betul-betul terlibat dalam perjuangan meningkatkan mutu kehidupan melalui laku berkesenian,” tulisnya.

Formasi Sirkus Barock yang tampil adalah Suzan Piper, Toto Tewel, Joel Tampeng, Ucok Hutabarat, Bagus Mazasupa, Denny Dumbo, Ruben Kayon, Hasnan Hasibuan, Reza Achman, Alfred Mailoa, Bonita, dan Tauhid Subarkah. (Wahjudi Djaja)

 

 


share on: