Joglo Singodikoro Kini Dilengkapi Pusaka Gamelan Legendaris Milik Lurah Margorejo

share on:
Lurah Margorejo Abdul Azis Muh Ridwan (kiri) menyerahkan bantuan perangkat gamelan milik pribadi untuk Joglo Singodikoro

Yogyapos.com (SLEMAN) - Abdul Azis Muh Ridwan SH, Lurah Margorejo, menyerahkan bantuan perangkat gamelan milik pribadi untuk Joglo Singodikoro di Dusun Kadisono, Margorejo, Tempel, Sleman.

BACa JUGA: Imigrasi yang Berdaulat: Menjaga Gerbang, Mengelola Peradaban

Hibah gamelan laras slendro pelog berbahan material perunggu dan tembaga ini merupakan bentuk kepedulian untuk mendukung pengembangan kebudayaan dan kesenian masyarakat. Semula alat kesenian tradisional legendaris yang dibuat pada tahun 1960-an ini diletakkan di Dusun Cungkuk, Margorejo.

BACA JUGA: Amanat Panglima: TNI Dituntut Tingkatkan Kesiapsiagaan dalam Bertugas

"Seperangkat gamelan slendro pelog ini dihibahkan untuk Joglo Singodikoro yang nantinya dapat dimanfatkan oleh kelompok-kelompok karawitan di wilayah Margorejo, penyerahan sudah dilakukan pada 18 April 2026 lalu,"ujar Muh Ridwan, Senin (20/4/2026).

Ridwan mengungkapkan, pemilihan Joglo Singodikoro sebagai lokasi penerima bantunan lantaran bangunan tersebut merupakan salah satu cagar budaya yang berada di wilayah Kabupaten Sleman.

BACA JUGA: Ada Mayat di Saluran Irigasi Dusun Ngawen Harjobinangun Sleman

"Jadi, gamelan tersebut menjadi satu paket dengan bangunan joglo, menjadi satu kesatuan dengan aset budaya yang ada di situ, jadi selain ada paket pusaka keris dan sebagainya, ini ada tambahan pusaka berbentuk gamelan," sebutnya.

BACA JUGA: Tinjau Stok Beras di Bulog Magelang, Presiden Tekankan Kualitas dan Distribusi

Disebutkan, gamelan merupakan salah satu Warisan Budaya Takbenda Dunia, fungsinya tidak hanya dipahami sebagai hiburan, tetapi juga memiliki makna filosofis dan spiritual. Ia berharap gamelan ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran budaya yang interaktif, serta alat pemersatu komunitas.

"Awalnya gamelan itu dulu dimanfaatkan untuk kesenian ketoprak,   salah satunya grup Sapta Mandala RRI, juga pernah dipakai oleh Gito Gati (seniman wayang asal Sleman), dan paguyuban karawitan, semoga bisa berkontribusi memajukan bidang seni dan budaya di Margorejo," pesannya.

BACA JUGA: Lebih Berbahaya Wiji Thukul atau Saiful Mujani?

Joglo Singodikoro menjadi saksi bisu perjalanan sejarah panjang di Pulau Jawa sejak akhir abad ke-18. Memiliki peran penting pada masa Perang Diponegoro di tahun 1826. Bangunan berarsitektur joglo ini berdiri sekitar tahun 1790-an dan hingga kini masih difungsikan sebagai pusat kegiatan budaya. (Opo)

 


share on: