KASUS PEMOTONGAN KAYU NISAN SALIB : Sultan Tegaskan, Yogyakarta Masih Kota yang Penuh Toleransi

share on:
Sultan HB X didampingi Walikota Haryadi Suyuti saat memberikan keterangan pers. | Foto : Affan

Yogyapos.com (YOGYA) - Peristiwa pemotongan nisan berbentuk salib di Makam Jambon, Kelurahan Purbayan, Kotagede, Yogyakarta, yang menjadi viral di media sosial, mendapat perhatian Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti dan Gubernur DIY Sri Sultan HB X.

Di depan wartawan yang berada di Balaikota Yogyakarta, Kamis (20/12/2018), Sultan HB X mengatakan permasalahan itu sudah selesai ditangani Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti. Meski begitu, warga Kotagede masih terkena imbasnya karena dianggap intoleran. Sebab nisan salib di makam seorang warga bernama Albertus Slamet Sugihardi dipotong bagian oleh warga RT 53 RW 13, Purbayan, Kotagede, menjadi viral di media sosial.

Bejo Mulyono, tokoh masyarakat Purbayan, mengatakan almarhum Slamet dan keluarganya aktif mengikuti kegiatan warga. Bahkan, Slamet menjadi pelatih paduan suara ibu-ibu di lingkungan Purbayan.

Istri almarhum, Maria Sutris Winarni, dalam surat pernyataannya menulis sudah ikhlas dan menerima. Keluarga sudah menerima dan tidak ada masalah. 

Gubernur membantah pemotongan nisan salib di Kotagede itu sebagai bentuk intoleransi warga Yogyakarta. Pasalnya, ada latar belakang kasus yang mencuat setelah viral di media sosial yang berbeda dengan informasi yang beredar di media sosial itu. Dan, kronologi kasus pemotongan nisan salib tidak seperti yang beredar di media sosial.

Dikatakan Sultan HB X, Kota Yogyakarta masih menjadi kota yang penuh dengan toleransi. Dalam kasus pemotongan tanda salib di Kotagede, sebenarnya sudah ada kesepakatan sosial antarwarga di tataran bawah untuk menjaga kerukunan.

Sultan HB X menyatakan memahami dan mengerti aturan konstitusi dan perundangan. Namun, belum tentu masyarakat paham. Mungkin cari praktisnya, dasarnya kebersamaan untuk mencari solusi agar tak muncul gejolak.

Dari informasi yang diterima Gubernur DIY, warga kampung saat itu juga ikut membantu keluarga dalam mengurus pemakaman jenazah. Dan pemotongan tanda salib itu dilakukan setelah ada kesepakatan antara warga dan keluarga almarhum: demi menjaga kerukunan.

Peristiwa pemotongan tanda salib ini lantas menjadi viral. Kejadian itu lantas dikaitkan dengan intoleransi.  Saat peristiwa itu pun menjadi viral. "Itu sisi asin atau manisnya jadi dilebih-lebihkan," tandas Sultan HB X.

Dari kejadian itu, Sultan HB X berharap semoga menjadi pelajaran, terutama menyangkut nilai-nilai keagamaan di masyarakat yang sudah dijamin konstitusi. "Ke depan, kesepakatan-kesepakatan dalam upaya menjaga toleransi harus mengutamakan ketentutan kontitusi," kata Sultan HB X.

Ketika terjadi kesepakatan-kesepakatan dalam upaya menjaga toleransi, maka akan mengedepankan soal ketentuan dalam konstitusi itu. (Fan)

 


share on: