Yogyapos.com (SLEMAN) - Ketika pemerintah pusat sedang aktif melakukan penanganan Covid-19 secara serius, sebuah kegiatan luar ruang yang melibatkan para pelajar justru digelar di Sleman. Acara bertajuk ‘Temu Hati’ ini digelar selama dua hari pada Senin–Selasa (15-16 /2/2021), di Wahana Wisata Puri Mataram Tridadi Sleman.
Kegiatan yang difasilitasi oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman ini selain melibatkan para pelajar di Sleman, juga melibatkan pelajar lain diluar wilayah Sleman.
Namun kegiatan yang dimaksudkan sebagai upaya menjaring aspirasi pelajar Sleman tersebut oleh sejumlah wali murid justru dikhawatirkan akan beresiko terhadap peningkatan kasus Covid-19 karena penyelenggaraan acara luring berpotensi menimbulkan kerumunan.
Sekretaris Dinas P3AP2KB Tina Hastani ketika dikonfirmasi yogyapos.com mengungkapkan, ‘Temu Hati’ merupakan kegiatan rutin tahunan, sementara pihaknya hanya memberikan dukungan fasilitas sedangkan teknis pelaksanaan secara penuh dilakukan oleh para siswa. Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 150 orang peserta an dilakukan dengan pengawasan serta protokol kesehatan yang sangat ketat.
“Acara tersebut adalah acara rutin tahunan yang di koordinir oleh anak sendiri dibawah pantauan dinas,” tegas Tina melalui pesan singkat kepada yogyapos.com, Senin (15/2/2021).
Ditambahkan Tina, melalui kegiatan Temu Hati ini nantinya akan dihasilkan sebuah aspirasi Suara Anak Sleman yang berisi tentang segala keinginan anak-anak Sleman yang kemudian disampaikan kepada Bupati Sleman. Aspirasi ini nantinya akan menjadi salah satu bahan masukan pada saat Musyawaran Rencanan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten .
Adapun pelaksanaan kegiatan tersebut nantinya peserta dibagi menjadi 5 klaster, dan tiap-tiap kelompok terdiri dari 30 orang. Adapun tindak lanjut dari kegiatan tersebut nantinya akan dipilih seorang ‘Duta Anak Sleman’ yang akan mengikuti kegiatan serupa pada tingkat lanjutan.
Menanggapi keberatan sejumlah Wali Murid, Tina menegaskan bahwa sebelum pelaksanaan kegiatan pihaknya telah mengirim surat edaran kepada setiap Kepala Sekolah, dengan maksud agar pelajar yang bersangkutan diberikan dispensasi untuk tidak mengikuti pelajaran. Selain itu, pelajar yang menjadi peserta kegiatan ini juga wajib melampirkan surat ijin dari orang tua atau wali murid.
Jika kemudian kegiatan ini dilaksanakan secara luring, hal tersebut sesuai dengan pertimbangan anak-anak bahwa pada saat pemilihan duta anak ini melalui tahapan orasi sehingga nantinya bisa terpilih yg benar-benar bisa mewakili anak-anak sleman.
“Kalau secara daring akan memakan waktu yang sangat lama. Untuk itu kami mengawal dengan ketat protokol kesehatan dan perijinannya,” tandas Tina. (Sulistyawan Ds)
