Yogyapos.com (SLEMAN) - Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) di Sleman selain prospektif ternyata juga menginspirasi daerah lain. Keberadaan mereka mampu menggerakkan dinamika perekonomian dan pariwisata. Dampaknya adalah meningkatkan pendapatan asli desa (PAD) dan penghasilan para pengurus serta warga sekitar.
Kasubdit Kelembagaan Bumdesa Kemendes PDTT, Dra Sari Arta Uli Aritonang MM mengatakan hal itu saat memberi sambutan pada Rapat Koordinasi Pengolahan Data Bumdes se- Kabupaten Sleman di Balkondes Sambirejo Prambanan Sleman, Senin (30/9/2019).
Dikatakan lebih jauh, program Kemendes PDTT antara lain pengembangan Bumdes. Sampai saat ini tercatat ada 50 ribu Bumdes dimana baru 15 ribu yang aktif. Pertumbuhan Bumdes sangat pesat terutama terjadi di Jawa dan Sumatra. Keberadaan Bumdes sangat fenomenal, mampu memberikan PAD. Potensi yang dimiliki desa bisa dikembangkan sesuai karakternya. Bumdes yang ada di Sleman memiliki kekhasan dibandingkan daerah. Untuk mengatasi beberapa kendala yang terjadi seperti mendapatkan data potensi dan jaringan, Kemendes PDTT membuat aplikasi berbasis androit dengan melibatkan pihak ketiga. "Manfaat yang diperoleh antara lain pelaporan perkembangan unit usaha, pelaporan jenis layanan dan decision keuangan. Nantinya masing-masing Bumdes memiliki akun untuk menginput dan mengakses data secara nasional. Pada pertengahan tahun 2020 diharapkan aplikasi ini bisa di-launching Menteri" jelas Sari.
Dengan data yang terpublikasikan, potensi Bumdes bisa dilihat oleh pihak ketiga. Dan Sleman sengaja dijadikan sebagai uji coba koneksi dengan seluruh Bumdes di Indonesia.
“Kita perlu membuka ruang agar inovasi bisa lebih banyak lagi agar bisa memberikan manfaat secara lebih maksimal. Rencananya kami juga akan roadshow ke Bumdes lain di Sleman dan Yogyakarta yang memiliki beragam jenis unit usaha. Kami dengan senang hati akan membawa inspirasi dari Sleman untuk pengembangan Bumdes lain di Indonesia,” katanya meyakinkan.
Sementara itu, Sekretaris Dinas PMD Kabupaten Sleman, Drs Budi Sutamba Saputra MSi menyambut baik kegiatan ini. “Rakor pengolahan data ini merupakan kesempatan yang amat dinantikan oleh 45 Bumdes di Sleman. Kita berharap data Bumdes bisa diakses secara umum dan terbuka. Untuk itu harus ada sinkronisasi antara Pemdes dengan Bumdes dan dinas maupun kementerian untuk melanjutkan program dan kerjasama,” pesan mantan Camat Seyegan ini.
Pihak Dinas PMD menyadari awal kegiatan Bumdes sangat bervariasi yang masing-masing memiliki karakter. “Ini harus didukung oleh komunikasi dan komitmen bersama agar lebih bermanfaat. Perlu kerjasama dan sharing antar Bumdes. Keberadaan forum komunikasi (Forkom) Bumdes Sleman bisa dimaksimalkan sebagai jalinan kerja. Komunikasi yang baik akan membantu pelayanan dan pengembangan,” tandasnya.
Selanjutnya dikatakan, unggulan dan karakteristik Bumdes bisa dipublikasikan kepada khalayak agar bisa saling membantu dan menguatkan. Kades dan perangkat desa harus paham dengan perkembangan zaman termasuk dalam hal teknologi aplikasi. Dengan begitu akan tahu mana potensi dan peluang yang bisa diberdayakan dan dikembangkan. Suport Kades sangat penting untuk mengembangkan Bumdes.
“Namun, data yang dimasukkan harus realistis sesuai dengan kenyataan lapangan. Pengalaman IDT menjadi pelajaran bagaimana pengolahan data amat menentukan kebijakan dan program kegiatan Bumdes,” tandasnya.
Rakor Pengolahan Data Bumdes difasilitasi Kemendes PDTT selama sehari penuh. Hadir dalam rakor ini 65 peserta yang terdiri atas para direktur/ketua Bumdes, Sekretaris Desa, Ketua Unit Usaha Bumdes, TA PED Sleman dan Dinas PMD Kabupaten Sleman. (Iud)
