Yogyapos.com (JAKARTA) - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengundang guru dan mahasiswa untuk berbagi cerita menarik secara daring seputar aktivitas pembelajaran mereka lakukan di rumah. Berbagi inspirasi sejalan dengan tema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2020 ‘Belajar dari Covid-19’. Kegiatan ini merupakan program Kemendikbud memperingati Hardiknas, mengangkat tema kecil ‘Inspirasi Tokoh Pendidikan pada Masa Pandemi’.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dikdasmen) Kemendikbud, Hamid Muhammad, menyampaikan Covid-19 telah mengajarkan masyarakat banyak hal, yaitu hidup bersih dan sehat. Hal itu membuat satuan pendidikan beradaptasi menggunakan metode pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran yang relevan menjadi fokus utama pada situasi darurat kesehatan saat ini.
“Ada tiga kelompok besar dalam pembelajaran di sekolah. Pertama adalah anak-anak yang terbiasa dengan pembelajaran online dimana sekolah sudah menerapkannya secara penuh. Sekolah ini tidak akan merasa kesulitan menghadapi pembelajaran jarak jauh karena sering mengakses aplikasi pembelajaran,” tutur Hamid di Jakarta dalam Pers Rilis Nomor: 099/Sipres/A6/V/2020 yang diperoleh yogyapos.com, Minggu, (3/5/2020) pagi.
Kelompok kedua, lanjut Hamid, adalah sekolah yang melakukan pembelajaran semi daring. Pemberian tugas dari guru kepada siswa dikirim melalui Whatsapp, tidak berinteraksi secara langsung. Sedangkan kelompok ketiga adalah anak-anak yang tidak bisa melakukan banyak hal karena keterbatasan infrastruktur dan daya dukung teknologi.
Titis Kartikawati, guru SD di Sanggau, Kalimantan Barat menyatakan beragamnya letak geografis membuat wilayah tempatnya mengajar tidak mendapat akses internet secara merata. Kondisi itu menjadi kendala saat melakukan pembelajaran jarak jauh. Guna memecahkan masalah tersebut, dirinya bersama ‘Komunitas Guru Belajar’ berkolaborasi dengan RRI Sanggau.
“Programnya belajar selama satu jam, setiap Senin-Jumat secara bergantian. Para guru memberikan materi yang dikuasainya,” ujar Titis menceritakan pengalamannya melalui telekonferensi.
Langkah itu dinilainya efektif dan efisien karena setiap siswa tetap bisa belajar melalui siaran RRI. Jangkauannya mencapai empat kabupaten hingga pelosok perbatasan. Selain itu, para orangtua senang karena menghemat biaya pembelian kuota internet bagi anaknya.
Pada kesempatan sama, Titik Nur Istiqomah, Guru SD Muhammadiyah Muntilan, Magelang, Jawa Tengah menuturkan bagaimana menyikapi tantangan pendidikan di masa darurat kesehatan. Ia menekankan pentingnya membangun harmonisasi antara siswa, guru, dan orangtua agar proses pembelajaran mampu bertahan di tengah kondisi seperti ini. Dirinya memodifikasi pembelajaran dengan teknologi yang sedang digemari masyarakat untuk memotivasi siswa.
“Ketika pembelajaran jarak jauh banyak diartikan sebagai liburan maka saatnya kita kenalkan orang tua dengan metode belajar di rumah secara menyenangkan. Kami memanfaatkan media TikTok untuk belajar karena anak-anak senang menggunakannya,” jelas Titik.
Nauval Fariz Damas, mahasiswa Fakultas Kedokteran di Surabaya yang juga hadir turut angkat bicara. Dia mengatakan masih banyak masyarakat belum memahami Covid-19. Hal ini disebabkan masyarakat sulit memperoleh informasi dan kesempatan berkonsultasi tentang Covid-19 dari orang kompeten.
“Masyarakat masih bingung terhadap gejala Covid-19. Oleh karena itu relawan harus mendampingi sekaligus memberi penjelasan teknis seputar Covid-19, terutama istilah orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP),” kata Nauval saat melakukan telekonferensi.
Relawan Covid-19 ini mengajak kaum muda, para mahasiswa, intelektual muda, agent of change, social control yang mengetahui literasi tentang Covid-19 dan menguasai teknologi, tetap bersemangat mengambil peran di situasi pandemi Covid-19.
“Bukan lagi berpikir apa yang diberikan negara untuk kita, melainkan apa yang bisa kita perbuat bagi negara ini,” imbuh Nauval.
Sementara itu, Hamid Muhammad melanjutkan, persoalan pokoknya adalah anak-anak yang tidak punya akses internet, listrik, TV. Tak jarang, pembelajarannya sangat manual yaitu menggunakan radio komunitas, hingga kunjungan guru ke rumah-rumah siswa secara berkala. Ini saatnya guru melakukan inovasi pembelajaran sesuai kondisi daerahnya.
Ia berpesan supaya proses pembelajaran sebaiknya disesuaikan minat dan kondisi masing-masing anak di tiap daerah. Guru dan orangtua perlu rajin berkoordinasi dan jeli mengadaptasi metode pembelajaranya. Jangan disamaratakan untuk semua anak.
“Pilihlah materi esensial yang perlu dilakukan anak-anak di rumah. Berikan anak-anak pendidikan kecakapan hidup sesuai kondisi rumah masing-masing terutama tentang pengertian Covid-19. Bagaimana karakteristiknya, serta bagaimana cara menghindarinya agar tidak terjangkit,” lanjut Hamid menguraikan muatan pembelajaran di tengah situasi pandemi.
Poin penting yang ditekankan Hamid adalah bagaimana membangun proses belajar tanpa tekanan, mudah, dan menyenangkan bagi semua, baik siswa, guru maupun orangtua. Siapa pun harus belajar dari situasi sekarang, termasuk belajar bersama-sama dalam pandemi Covid-19. Pembelajaran harus terjadi di rumah tanpa guru-guru menarget pencapaian kurikulum. Perhatikan kondisi anak-anak termasuk akses terhadap internet. Penilaian tugas bersifat kualitatif. Proses belajar harus dapat memberikan motivasi kepada anak.
“Tahun ini kita mengadakan acara Hardiknas dengan mendengarkan arahan Mendikbud di rumah. Saya meminta para siswa, guru, orang tua, kepala sekolah, dinas pendidikan, pegiat pendidikan, senantiasa menjaga stamina karena aspek kesehatan nomor satu. Terus terapkan pola hidup sehat, meskipun wabah ini nanti berakhir. Mari sehatkan diri kita, keluarga, dan masyarakat,” ajak Hamid di akhir telekonferensi. (*/Muf)
