Yogyapos.com (JAKARTA) - Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, mengajak kaum muda mengambil peran sebagai generator dan dinamisator bagi pembangunan. Hal itu disampaikannya dalam orasi kebangsaan pada acara Pelantikan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) Periode 2020-2022 yang dilakukan secara virtual di Jakarta, Jumat (26/06/2020).
Ia mengingatkan berbagai akibat dari adanya dari pandemi Covid-19 menjadi tantangan bersama. Karena itu, dirinya mendorong organisasi HMI senantiasa menyiapkan kader tangguh yang mampu menjadi nahkoda maupun awak kapal agar bisa saling bekerja sama membawa bahtera selamat dari berbagai badai yang menghantam.
"Bahtera hanya mampu bertahan apabila seluruh awak turut serta bahu membahu bekerja sama menyelamatkan bahtera. Apalagi penumpang bahtera adalah pemuda berlabel mahasiswa. Ke depan akan banyak dinamika, tantangan, dan liku-liku perjuangan dalam menjalankan organisasi. Kalian harus menyiapkan diri sejak sekarang," tegas Bambang.
Bambang mengungkapkan, tantangan dunia ke depan, disaat dan pasca pandemi Covid-19 sangatlah berat. International Monetary Fund (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi global akan terkontraksi hingga minus 4,9 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar minus 3 persen. Sementara menurut Bank Dunia, pada tahun 2020 produk domestik global dunia terkoreksi menjadi minus 5,2 persen.
“Para ahli ekonomi memperkirakan setengah lapangan pekerjaan di dunia menghilang dan tidak kembali lagi. Dunia Industri berubah total. Kita menjadi semakin individualistik dan lebih cepat masuk ke era teknologi, digitalisasi dan robotik. Dunia tak lagi sama seperti dahulu. Karenanya kita pun harus bersiap diri melakukan perubahan," ujar Ketua MPR RI.
Menurutnya, pada kuartal pertama tahun 2020, meski pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak tinggi tetapi juga tak dapat dikatakan buruk, yakni sekitar 2,97 persen. Masih lebih baik bila dibandingkan negara-negara lain. Misalnya Malaysia 0,7 persen, Singapura minus 0,7 persen, Thailand minus 1,8 persen, Tiongkok minus 6,8 persen, Jepang minus 2,2 persen, Inggris minus 2 persen, ataupun Jerman minus 2,2 persen.
"Namun pada kuartal kedua, diprediksi pertumbuhan ekonomi nasional terkoreksi menjadi minus 3,8 persen. Dengan melemahnya daya beli dunia, otomatis nilai ekspor kita pun menurun. Melemahnya produksi berdampak pula pada peningkatan jumlah pengangguran. Hingga tahun 2021 tingkat pengangguran terbuka diperkirakan berpotensi naik mencapai 10,7 juta sampai 12,7 juta orang," urai Bambang.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menyampaikan, kondisi keuangan Indonesia dan negara dunia lainnya sedang mengalami hantaman keras. Bisa dilihat dari penerimaan pajak yang terpukul, per April 2020 turun 3,1 persen menjadi Rp 376,3 triliun dengan defisit APBN mencapai Rp 74,5 triliun.
Bambang menyebut, total hutang per April 2020 tercatat mencapai Rp 5.172,48 triliun, terdiri dari Rp 4.338,44 triliun (83,9%) dari Surat Berharga Negara (SBN). Sedangkan Rp 834,04 triliun (16,1%) berasal dari pinjaman, meliputi Rp 9,92 triliun berasal dari pinjaman dalam negeri dan Rp 824,12 triliun dari pinjaman luar negeri.
"Kondisi permasalahan perekonomian ini sebaiknya tidak direspon dengan solusi instan, semisal mengajukan hutang baru. Pemerintah harus mengedepankan berbagai terobosan dan inovasi melalui optimalisasi kinerja Kementerian Keuangan. Pemerintah harus fokus menyelesaikan masalah pandemi Covid-19. Tanpa selesainya pandemi, sulit bagi kita merestart kembali bangkitnya ekonomi," ungkapnya.
Selain pelemahan pada pertumbuhan perekonomian, pandemi juga telah mengoreksi paradigma pergeseran geopolitik global. Masyarakat global tersadarkan bahwa tidak ada satu pun negara di dunia, sekuat apapun kedudukan geopolitiknya, yang mampu bertahan secara mandiri untuk memajukan dan mempertahankan kesinambungan ekonominya.
"Wacana tradisional yang mendewakan negara-negara tertentu sebagai pusat kekuasaan dunia akan terkoreksi dengan sendirinya, karena negara-negara tersebut pun tidak kuasa menahan gelombang dan dampak pandemi. Sebagaimana terlihat di Amerika Serikat hingga Brazil, yang masih belum mampu menangani Covid-19. Bahkan telah merembet ke berbagai krisis lainnya seperti krisis ekonomi, sosial hingga politik," tandas Bambang. (*/Muf)
