Yogyapos.com (SLEMAN) - Badan Otorita Borobudur (BOB) akan melakukan pelatihan berbasis kualitas untuk mempersiapan aktivasi destinasi pariwisata di wilayah Yogyakarta. Tujuannya agar para pengelola siap untuk menerima wisatawan dengan Standard Operating Procedure (SOP) New Normal. Kick off akan dilakukan di destinasi Embung Senja Tirtoadi Mlati Sleman mulai Senin, 10 Agustus 2020.
Demikian dikatakan Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan Badan Otorita Borobudur (BOB), Bisma Jatmika, saat membuka rapat koordinasi pelaksanaan kegiatan sosialisasi, pelatihan, pendampingan dan Self Declare di kantor BOB Kotabaru Yogyakart, Kamis (6/8/2020).
Untuk kepentingan itu pihaknya, demikian urai Bisma, melibatkan tim dari Jogja Tourism Training Centre (JTTC). "Hari Minggu lalu kami melakukan cecking ke beberapa destinasi. Antusiasme pengunjung yang tinggi perlu diwaspadai dan diantisipasi secara benar sesuai SOP. Setiap destinasi mempunyai keunikan. Secara garis besar, SOP-nya sama. Tetapi saat praktik pelatihan mungkin beda,” tandasnya.
Lebih lanjut Bisma mengatakan, pelatihan akan dilaksanakan selama lima hari. "Materinya antara lain terkait sosialisasi, pelatihan, pendampingan dan monitoring serta self declare. Yang perlu ditekankan adalah adanya konsistensi penerapan SOP. Ini harus dijaga agar tak muncul cluster Covid-19 yang baru. Dari pelaksanaan tahap pertama ini akan menjadi pilot project di tempat lain. BOB akan kick off di Embung Senja, baru secara bertahap ke destinasi lain seperti Pulepayung Kulon Progo dan Ngingrong Gunung Kidul,” paparnya.
Sementara itu Direktur Eksekutif Jogja Tourism Training Centre (JTTC), Hairullah Gozali, menyampaikan sosialisasi didasarkan pada regulasi yang terkait protokol Covid-19. "Pelatihan yang akan dilaksanakan harus connect dengan yang akan diimplementasikan harian oleh para pengelola distinasi. Oleh karena itu, pendekatannya secara khusus per destinasi. Pulepayung dengan kondisi geografis perbukitan perlu perhatian khusus karena berbeda dengan Embung Senja dan Ngingrong,” tandasnya.
Menjawab pertanyaan peserta rakor tentang teknis pelatihan, Bisma menjelaskan bahwa SOP diterapkan secara khas sesuai karakter tiap destinasi. "Setidaknya kami memerlukan 18 orang dan 2 orang dokumentator. Mengingat waktu yang singkat, harus ada pembagian kerja di destinasi agar pengelolaan destinasi bisa sama-sama berjalan", jawabnya.
Sedangkan Nugroho dari JTTC memaparkan skenario sosialiasi dan pelatihan yang akan dilaksanakan di tiga destinasi wisata. "Setelah sosialisasi tentang aspek kebersihan, kesehatan dan kelestarian lingkungan dilanjut pelatihan tentang visitor management, carrying capacity, alur pengunjung, zonasi kunjungan, sistem transportasi dan parkir, layanan prima serta Sapta Pesona,” jelasnya.
Hadir dalam rapat koordinasi itu Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Dinas Pariwisata Sleman, Kulon Progo dan Gunung Kidul, Direktur Bumdes Tirtamas selaku pengelola Embung Senja dan pengelola Bukit Wisata Pulepayung Kulon Progo serta pengelola Geosite Ngingrong Gunung Kidul. (Iud)
