Yogyapos.com (YOGYA) - Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat mengatakan, dirinya mendapat "suntikan" keberanian dalam upaya menjaga lingkungan hidup dan kelestarian bumi saat bersilaturahmi ke Sri Sultan Hamengkubowono (HB) X di Kepatihan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (24/7/ 2026).
BACA JUGA: Letkol Czi Bambang Setyo Triwibowo Jabat Kasiter Korem 072/Pmk
"Tadi hasil obrolan, saya mendapatkan wisdom dari Sri Sultan HB X bahwa kita harus mengayomi alam lingkungan," kata Menteri LH Jumhur setelah melakukan pertemuan dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X, di Kepatihan DIY, Jumat, 24 Juli 2026.
BACA JUGA: Sengketa Hotel Elsotel Purwokerto Berakhir Damai Lewat Mediasi Pengadilan
Menteri Jumhur mengatakan, dalam pertemuan itu Sri Sultan HB X mengingatkan soal perlunya berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan yang bisa berdampak negatif ke lingkungan.

"Kalau kebijakan yang dikeluarkan nakal maka alam juga akan marah, tapi kalau kita arif dan bijaksana kepada alam maka alam juga akan kembali baik terhadap kita," kata Menteri Jumhur.
BACA JUGA: Sultan HB X Resmikan Laboratorium Alam De Britto, Romo Pitoyo: Ruang Membentuk Orang
Menurut Menteri Jumhur, wisdom yang disampaikan Sri Sultan HB X sangat baik dan sesuai dengan tagline Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang ujungnya adalah menggugah kesadaran manusia. Jadi bukan sekadar kebijakan yang memberikan perintah-perintah tapi kesadaran manusia terkait dengan budaya menjaga lingkungan. "Nilai budaya yang baik menjaga lingkungan seperti itu harus dihidup-hidupkan," ujar Moh Jumhur Hidayat.
BACA JUGA: Menteri LH Moh Jumhur Hidayat Dorong Indikator Lingkungan Masuk Pembangunan Sosial
Menteri Jumhur mengatakan, pada dasarnya budaya bangsa Indonesia adalah memuliakan alam tapi kadang kala seringkali dalam melakukan pembangunan, masyarakat terhipnotis dengan budaya-budaya yang serba cepat, serba tumbuh, lalu merusak alam dan berpikir memperbaikinya nanti saja belakangan.
BACA JUGA: PSS Sleman Kedatangan Empat Pemain Asing, Dimas Drajad Ikut Gabung Latihan
"Hal-hal semacam itu harus kita tinggalkan dan sekarang kita kembali ke budaya yang memuliakan alam lingkungan, memuliakan bumi," kata Menteri Jumhur.
Menteri Jumhur mengatakan, dalam pembicaraan di Kepatihan DIY, Sri Sultan bercerita tentang beberapa terobosan penegakan hukum yang dilakukannya terhadap orang yang tidak taat menjaga lingkungan.
BACA JUGA: Para Tokoh Gerakan Nurani Bangsa Bertemu Sri Sultan HB X, Ini yang Dibahas
"Saya termasuk orang yang terhenyak juga mendengar cerita beliau. Beliau berani, katakanlah mempermasalahkan orang yang dengan sengaja melanggar atau merusak lingkungan," kata Menteri Jumhur.

Hal itu, kata Menteri Jumhur, menambah keberanian bagi dirinya dan jajarannya (KLH) untuk tidak lagi main-main dengan pihak perusak lingkungan. "Saya menilai itu contoh yang baik sekali menambah keberanian saya," tandasnya.
BACA JUGA: Pertamina Trans Kontinental Ajak Anak Indonesia Tanam Benih Keberlanjutan dan Jaga Lautan
Menteri Jumhur juga menyampaikan bahwa KLH juga punya rencana untuk melakukan pertobatan ekologis nasional. "Kita secara budaya, secara kesadaran, kita berubah, kita akui bersalah terhadap alam ini, jangan lagi mengabaikan moral lingkungan. Untuk itu kita harus kembali ke jalan yang benar. Artinya tobatkan kira-kira seperti itu," kata Menteri Jumhur.
BACA JUGA: Pemda DIY Tegaskan Tak Ada Larangan JLFR di Malioboro, Pesepeda Tetap Bebas Melintas
Menteri Jumhur mengatakan, boleh melakukan pembangunan tapi jangan sampai merusak alam lingkungan. Bahkan sekarang ini perlu melakukan bagaimana caranya membangun sembari melestarikan lingkungan. Banyak sekali contoh-contoh upaya melestarikan lingkungan. Hal yang paling sederhana adalah patuh terhadap peraturan. Itu merupakan contoh paling sederhana, sebab semuanya sudah ada dalam peraturan, misal kalau ingin membangun sesuatu maka harus melakukan ini dan itu.
BACA JUGA: Kolaborasi Universitas Amikom dan Kalurahan Condongcatur Perkuat Kompetensi Pendidik PAUD
"Namun kami akui juga boleh jadi kerusakan lingkungan itu terjadi juga karena unsur pengawasan dari kami (KLH) yang kurang. Itu kami akui dan menjadi bagian bertobat juga. Jadi tidak usah menyalahkan orang lain tapi akui karena kesalahan kami sendiri yang kurang mengawasi atau minimal kami diamkan terus-menerus sehingga terjadi kerusakan lingkungan. Terpenting sekarang dengan melakukan pertobatan ekologis adalah kita semua melakukan introspeksi diri demi menjaga kelestarian lingkungan," pungkas Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat. (*/Red)
