Yogyapos.com (YOGYA) - Sejumlah perempuan berseragam kaos warna pink cukup menyita perhatian saat prosesi jamasan patung dewa-dewa jelang Imlek 2571, yang berlangsung di Klenteng Fuk Ling Miau Gondomanan Yogyakarta, Minggu (19/1/2020).
Perempuan-perempuan itu tak lain adalah anggota ‘Galang Kemajuan Ladies’ (GK Ladies), sebuah komunitas perempuan yang bergerak dibidang sosial pemberdayaan perempuan. Mereka tampak sigap dan cekatan ikut menurunkan patung-patung dari singgasana altar, lalu membersihkannya menggunakan kuas dan menjamas ke dalam baskom berisi air aroma cendana. Perempuan-perempuan ini bukan etnis Tionghoa, tapi menampakkan raut muka gembira dan ikhlas melakukan pekerjaan sosial tersebut.
“Kami dari dari GK Ladies, ikut ambil bagian membantu prosesi jamasan ini sebagai perwujudan program kerja organisasi,” ujar Retno Dewayani selaku Ketua Umum GK Ladies Yogyakarta kepada yogyapos.com di sela-sela kegiatan.
Retno mengungkapkan, GK Ladies tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan berpusat di Jakarta, diketuai oleh Ny Lana T Koentjoro. Sejak awal berdirinya, konsen pada peningkatan pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi, sosial dan lingkungan. Beranggotakan para perempuan dari beragam profesi, dari pengusaha, ibu rumah tangga, aktivis sosial, mahasiswi hingga kalangan profesional.
“Keterlibatan kami dalam kegiatan jamasan ini sebagai ujud dari komitmen dan program kerja organisasi. Kami non politik, lintas etnis, lintas agama dan sejenisnya,” tuturnya.
Kiprah GK Ladies Yogyakarta telah dirasakan oleh masyarakat. Diantaranya menyelenggarakan senam massal dan advokasi kesehatan reproduksi yang diikuti 250 peserta di Kulonprogo pada November 2018. Di bidang ekonomi menyelenggarakan Pelatihan Kewirausahaan Kuliner pada 2019 di Bantul dan Gunungkidul, pelatihan menyulam dan membuat shibori.
Sementara di bidang sosial, diselenggarakan bahkti sosial ke sejumlah Panti Asuhan yang ada di wilayah DIY. Ini biasanya dilakukan pada momentum-momentum tertentu. Tak kalah pentingnya pula ikut terlibat dalam kegiatan budaya yang bersifat massal seperti Care Free Day di Jalan Sudirman Yogyakarta.
“Kami sedang mengalakkan juga nguri-nguri budaya adiluhung berpakaian daerah, menari dan senam nusantara melibatkan semua anggota,” terang Retno.
Kegiatan budaya itu, papar dia, ternyata diminati oleh anggota. Hampir semua anggota selalu mengikuti kontribusi budaya. Hal ini menjadi media untuk kian merekatkan, sehingga dalam kegiatan pemberdayaansosial dan ekonomi pun akhirnya diikuti oleh banyak anggota. (Met)
