Yogyapos.com (BANTUL) - Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) menggelar upacara adat jamasan tombak ‘Kyai Hagnyo Murni’ dan sejumlah pusaka tombak pendampingnya serta tombak pusaka milik 17 kapanewon, di rumah dinas Bapati Trirenggo, Kamis (25/8/2022).
Tombak ‘Kyai Hagnyo Murni’ merupakan pusaka Pemkab Bantul yang diberikan oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Prosesi jamasan ini diawali dengan pemanjatan doa diantara sesaji sesuai dengan adat dan budaya jawa yang berlaku. Dilanjutkan wiosan (dibawa ke luar) rumah dinas ke halaman, serta dijamas bersama pusaka pendamping dan milik Kapanewon
Para petugas dalam kesempatan yaitu para Abdi Dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta dipimpim oleh Ketua Paguyuban Andi Dalem Kabupaten Bantul, KMT Projo Suwasono. Usai dipanjatkan doa dan dilengkapi uborampe, tombak mulai dijamas diawali oleh Sekretaris Dinas Kebudayaan Bantul Fauzan Muarifin mewakli Bupati H Abdul Halim Muslih ataupun Kepala Dinas Nugroho Eko Susanto.
Menurut KMT Projo Suwasono, jamasan merupakan acara rutin pada Bulan Sura (Muharam) beberapa tahun terakhir setelah Bantul memperoleh peparingan (pemberian) Hagnyo Murni dari Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pusaka pendamping juga pemberian Sri Sultan HB X sebelum Hagnyo Murni. Sedangkan pusaka milik Kapanewon merupakan pemberian Bupati untuk para Camat waktu itu.
“Jamasan secara lahir dan fisik membersihkan benda pisaka. Sedangkan secara batin (falsafah) bermakna agar semua jauh dan meninggalkan hal-hal yang kotor dan jelek. Selain itu menuju kepada kebaikan. Ini bermakna introspeksi bagi semua orang,” jelas KMT Projo Suwasono.
Sementara itu, Sekdin Kebudayaan Bantul, Fauzan Muarifin, mengungkapkan jamasan juga berarti dari kebodohan dan kegelapan menuju pada cahaya dan kemajuan bagi seluruh orang dan wilayah Bantul bahkan Indonesia.
Hagnyo maknanya pemerintahan. Murni artinya kesucian dan bersih. Maka bisa diartikan pemerintahan yang maju.Maka diharapkan jamasan bisa bermakna untuk kemajuan semua pihak,” pungkas Fauzan. (Spd)
