Lagu 'Darah Juang' Menggema di UC UGM, Aktivis 80-90 Jumpa Muhaimin Iskandar untuk Perubahan

share on:
Cawapres Muhaimin Iskandar dalam temu aktivis 80-90 di Gedung UC UGM, Rabu (11/10/2023) || YP-Yuliantoro

“…..Di negeri permai ini.

Berjuta Rakyat bersimbah rugah.

Anak buruh tak sekolah

Pemuda desa tak kerja.

Mereka dirampas haknya.

Tergusur dan lapar.

Bunda relakan darah juang kami.

Tuk bebaskan rakyat...”

Yogyapos.com (SLEMAN)  - Itulah sepenggal bait lagu Darah Juang yang dikumandangkan oleh 150 aktivis 80-90, di Gedung UC Kampus UGM, Bulaksumur, Yogyakarta, Rabu (11/10/23).

Sastrawan Aguk Irawan memberikan testimoni || YP-Gigin

Para aktivis itu berkumpul menggelar acara bertajuk ‘Temu Juang Aktivis Jogja’ bersama Bakal Calon Wakil Presiden (Bacawapres) Abdul Muhaimin Iskandar. 

BACA JUGA: SMA Muhi Yogya Galang Dana untuk Korban Gempa Maroko

Para aktivis tahun 80 - 90 yang hadir memberi dukungan terhadap pasangan Capres Anies Baswedan dan Cawapres AbdulMaimin Iskandar atau AMIN ini antara lain M Toriq, Faisol Reza, Danuri, Jhon Tobing (pecipta lagu Darah Juang), pegiat kesenian DIY Sigit Sugito, Mugiyanto, Jakobus Eko Kurniawan, sastrawan Aguk Irawan dan lain-lain. 

Aktivis 80 M Toriq || YP-Yuliantoro

Dalam kesempatan tersebut, Gus Imin – begitu Bacawapres Abdul Muhaimin Iskandar akrab di sapa - membacakan puisi karangan Afnan Malay berjudul 'Sumpah Perubahan'. Tiga poin 'Sumpah Perubahan' yakni bertanah air satu tanah air tanpa penindasan; berbangsa satu bangsa yang gandrung keadilan; dan berbahasa satu bahasa kebenaran

Penyair Evi Idawati ikuit berpartisipasi lewat puisi || YP-Yuliantoro

Lebih lanjut Gus Imin memberikan refleksi dari apa yang telah ia baca itu. Baginya, hal itu menjadi suatu hal besar yang perlu dilakukan. “Spirit reformasi dan demokrasi sudah hampir hilang, sudah gak tau mana substansi yangg jadi spirit demokrasi,” kata Gus Imin.

BACA JUGA: Songsong Hari Santri, Bupati Kustini Kunjungan ke Sejumlah Ponpes

Ia mengatakan saat ini kebenaran telah diukur dari substandi media sosial. Sementara, apa yang ada di media sosial belum tentu suatu hal benar. “Belum tentu orang yang gimick baik, belum tentu penindas. Begitu sebaliknya,” jelasnya.

Menyanyikan 'Darah Juang' dengan iringan gitar || YP-Yuliantoro

Ia juga mengingat bagaimana perjuangan ketika menjadi mahasiswa. Perjuangan itu dalam hal melawan pelarangan kegiatan berkumpul, berdiskusi, hingga berdemonstrasi. Namun, dalam kenangan dia, saat UGM melakukan pergantian kepempinan, dari Teuku Jacob ke Koesnadi Hardjasoemantri pada 1986, civitas akademik UGM dibolehkan berdiskusi hingga berdemonstrasi. 

BACA JUGA: Advokat Dr Najib Gisymar SH MHum Menembus Tiga Lembaga untuk Tangkal Eksekusi

Dikatakanya pula, persoalan bangsa yang dihadapi saat ini yakni stagnasi, kemerdekaan, kejumudan, hingga perubahan. Menurut dia, poin penting yang akan diusung yakni pentingnya melakukan perubahan dan terus melakukan evaluasi.

“Hampir 30 tahun reformasi, kita perlu evalusi. Sebelum bangsa ini digulung perubahan, mari kita lakukan perubahan,” tandasnya. 

Acara yang digelar di kampus tempat pasangan Bakal Calon Presiden (Bacapres) Anies Rasyid Baswedan dan Bacawapres Abdul Muhaimin Iskandar juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Evi Idawati, orasi dari M Toriq, Ketua Persatuan Nasional Aktivis Demokrasi Pusat, Jakobus Eko Kurniawan, dan diakhirnya dengan menyanyikan lagu Darah Juang yang diiringi langsung penciptanya Jhon Tobing. (Tor)


share on: