Yogyapos.com (YOGYA) - Batikita Meraputi karya Bu Kusminari, dilaunching di Baleseni Condroradono, Kadipaten Kidul 355, Yogyakarta, Minggu malam (30/7/23).
Peluncuran karya seni ini bersamaa dengan acara Dialog Budaya bertema: Batik dan Kebudayaan Indonesia Menemukan Kembali Keindonesiaan Kita untuk Batik. Hadir dalam kesempatan tersebut narasumber Asti Suryo Astuti SHKN (Kurator & Manajer Museum Batik Danar Hadi) dan Dra Ina Sita Nur'Ainna MHum (Komunitas Batik Jolawe) dipandu pegiat kesenian Sigit Sugito.
Kusminari menjelaskan, Batikita Meraputi adalah sebuah konsep dan karya seni batik terkini. Nama "Batikita Meraputi" berasal dari penggabungan kata "Batikita" yang merupakan singkatan dari "Batik Kita" "Batikita" berasal dari gabungan kata "batik" dan "kita", yang secara harfiah berarti "batik kita". “Ini menunjukkan bahwa batik ini adalah bagian dari kebudayaan Indonesia dan milik kita bersama sebagai warga negara Indonesia dan "Meraputi" yang mengacu pada warna yang menggambarkan dua warna, merah dan putih, namun sesungguhnya adalah satu warna yang disebut "Meraputi," tegas Kusminari yang juga pemilik Geray Batik Ciduy.
Suasana dialog budaya tentang batik
Lebih lanjut dijelaskan, Meraputi berasal dari merah dan putih, yang telah menjadi satu. Sehingga meraputi adalah konsep baru. Suatu warna yang nampak dua warna, yakni merah dan putih, tetapi sesungguhnya adalah satu warna, yakni meraputi. Konsep ini didasarkan pada ide bahwa batik merupakan bagian penting dari kebudayaan Indonesia dan memiliki peran dalam mencerminkan identitas keindonesiaan.
Melalui Batikita Meraputi, Ibu Kusminari berusaha menggambarkan kekayaan kebudayaan Indonesia dengan menggabungkan bentuk, warna, dan makna dalam karya seni batik. Batikita Meraputi mencerminkan eksperimen kekitaan atau kebersamaan, sekaligus menjadi simbol dari keberagaman budaya Indonesia yang menyatu menjadi satu kesatuan.
“Konsep ini melukiskan semangat untuk menciptakan batik dengan sentuhan kontemporer tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisionalnya. Dalam karya Batikita Meraputi, bentuk-bentuk baru yang penuh inspirasi digunakan dan warna serta teknik pewarnaan tidak terpaku pada batasan kaku, melainkan bersifat bebas dan dinamis,” tandasnya.
Dengan Batikita Meraputi, Ibu Kusminari mengajak khalayak untuk merenungkan makna dan pesan dari batik sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas dan warisan budaya Indonesia. Melalui ekspresi kreatifnya dalam batik, dia berusaha untuk memperkaya kekayaan budaya Indonesia dan melestarikan seni tradisi bagi generasi masa kini dan mendatang.
Kurator dan Manajer Museum Batik Danar Hadi, Asti Suryo Astuti meminta kepada pemerintah agar menjamin ketersediaan bahan baku batik agar keberlangsungan budaya dan industry batik di Indonesia terjaga. Sekarang banyak perusahaan bahan batik gulung tikar lantaran industry kerajinan kain batik secara ekonomi terus menurun. “Kita perlu ada regulasi pemerintah untuk menjamin ketersedian semua bahan batik. Kalau situasi seperti sekarang terus memburuk dan bahan batik nggak ada. selesai sudah budaya dan industry batik selesai,” ujar Asti Suryo Astuti.

Para narasumber dan pemandu dialog budaya tentang batik || YP-Yuliantoro
Sementara Komunitas Batik Jolawe, Dra Ina Sita Nur'Ainna mengatakan perlu adanya penguatan institusi industry sekaligus menggerakan pemasaran batik baik di dalam negeri maupun manca negara. “Jadi tidak sekedar penyediaan bahan batik saja. Namun produk industry batik harus laku. Jadi bagaimana pemerintah menggerakkan pemasaran produk batik terutama UMKM (Usaha Mikro Menengah Kecil). Ini Menghidupkan ekonomi industri batik di masyarakat,” tegasnya. (Yuliantoro)
