Yogyapos.com (SLEMAN) - Maraknya fenomena perundungan di lingkungan sekolah tersebut sebenarnya dapat ditanggulangi dengan penguatan pendidikan karak terbagi peserta didik. Pada lingkungan sekolah terdapat empat pilar yang dapat dijadikan sebagai wadah penanaman nilai-nilai karakter. Diantara keempat wadah tersebut salah satunya adalah melalui kegiatan belajar mengajar di kelas yang diintegrasikan pada setiap mata pelajaran termasuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang sebenarnya memegang peranan penting dalam membentuk peserta didik yang berkarakter.
Berdasarkan hal itu mahasiswa program studi Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum Fakultas Ilmu Sosial UNY merancang buku saku (pocket book) untuk mencegah perundungan yang dikaitkan dengan budaya Jawa yakni tepo seliro. Mereka adalah Daffa Fakhri Maulana, Awang Nakulanang, Yohana Suryana, Anis Samchati dan Heri Cahyono.
Para mahasiswa tersebut merancang anti perundungan pocket book inovasi media pembelajaran pendidikan karakter berbasis kearifan lokal teposeliro.
Menurut Daffa Fakhri Maulana, pihaknya merancang buku saku ini karena merasakan bahwa proses pendidikan karakter di sekolah melalui mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan/Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) masih belum maksimal. Padahal di sisi lain masyarakat Jawa dikenal kearifan lokal berupa sikap teposeliro (tenggangrasa) yang identik dengan perilaku seperti empati, peduli, toleransi, dangotong royong.
Sebagai kearifan lokal nilai-nilai dalam sikap tepo seliro memiliki arti penting bagi pendidikan karakterberbasis kearifan lokal. Dalam konteks fenomena bullying, sikap tepo seliro merupakan karakter yang dapat dikembangkan untuk melawan fenomena perundungan tersebut.
“Apabila nilai-nilai karakter tersebut dapat dikembangkan dengan media pembelajaran pendidikan karakter, tentu saja hal ini dapat menjadi alternatif yang inovatif dalam rangka mencegah dan menekan angka kekerasan di sekolah yang termasuk dalam fenomena bullying,” katanya, Senin (17/5/20021).
Awang Nakulanang menambahkan buku saku ini dikembangkan menyesuaikan dengan kebutuhan dunia pendidikan yang tengah marak terjadi fenomena bullying terutama oleh sesama peserta didik. Media pembelajaran ini dikembangkan dengan berbagai literatur terkait untuk selanjutnya disusun menjadi pocket book yang inovatif dan aplikatif dalam kehidupan pergaulan di lingkungan sekolah.
“Anti perundungan Pocket Book dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar PPKn sebagai salah satu mata pelajaran yang diidentikan dengan pendidikan karakter di Indonesia,” ujar Awang.
Penerapannya dapat dengan memanfaatkan waktu literasi 15 (lima belas) menit sebelum kegiatan belajar mengajar.
Anis Samchati menjelaskan, buku saku ini dikembangkan menyesuaikan dengan kebutuhan dunia pendidikan yang tengah marak terjadi fenomena bullying (perundungan) terutama oleh sesama peserta didik.
“Media pembelajaran ini dikembangkan dengan berbagai literatur terkait untuk selanjutnya disusun menjadi pocket book yang inovatif dan aplikatif dalam kehidupan pergaulan di lingkungan sekolah,” katanya.
Menurut Anis isi buku saku dibagi menjadi beberapa bagian antara lain pengetahuan mengenai perundungan pada umumnya yang dipadukan desain grafis menarik. Kearifan lokal tepo seliro menjadi unsur utama dalam pengembangan konten buku saku. Tepo seliro sendiri merupakan sebuah nasehat Jawa yang berarti upaya menenggang perasaan orang lain atau upaya menjaga perasaan orang lain, dengan tujuant idak menyinggung perasaan serta untukmeringankanbebanpikiranoranglain. Nilai-nilai tepo seliro yang dikembangkan disini antara lain meliputi empati, tenggang rasa dan saling menghormati. (Dedy Herdito)
