Yogyapos.com (SLEMAN) - Desa wisata menjadi trend pengembangan pariwisata yang amat menarik bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Nuansa keindahan alam yang dipadu dengan keasrian lingkungan dan keragaman budaya menjadi magnet yang menyedot perhatian pengunjung. Lebih dari sekadar menemukan kesegaran, desa wisata yang dikelola dengan manajemen yang benar akan menjadi tempat inspiratif dan prospektif untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu penting menguasai hal ihwal tentang paket wisata, usaha perjalanan wisata, dan teknik pemanduan.
Demikian benang merah diskusi mahasiswa STIE Pariwisata ‘API’ (Stiepar) Yogyakarta dengan Pokdarwis ‘Dewi Rawe’, di Omah Gamelan, Desa Wisata Budaya Rajek Wetan, Tirtoadi, Mlati, Sleman, Jumat malam (22/3/2019).
Tiga kelompok mahasiswa mempresentasikan tema tentang paket wisata, usaha perjalanan wisata, dan teknis pemanduan di hadapan 70 anggota pokdarwis. Bertindak sebagai moderator Disen Stiepar Yogyakarta Wahjudi Djaja SS MPd yang juga fasilitator Desa Wisata Budaya Rajek Wetan (Dewi Rawe).
Dalam paparannya tentang paket wisata, Dewi Riza Astuti menjelaskan dua jenis paket wisata. “Ready made tour adalah paket wisata yang sudah dirancang dan siap dipasarkan. Sedangkan taylor made tour adalah paket wisata yang dirancang sesuai permintaan customer,” jelasnya. Unsur pokok yang membentuk produk wisata, menurut Riza, antara lain daya tarik destinasi, fasilitas destinasi, akses atau jalur, atraksi (something to see, something to do, something to buy), amenities, akomodasi, dan aktivitas wisata.
Sementara itu Nurma Priharyani yang mempresentasikan materi tentang biro perjalanan wisata, menjelaskan adanya kecenderungan terbelahnya karakter wisata. “Di kota aktivitas wisata ditandai penyelenggaraan meeting, incentive, convention, exhibition (MICE). Sebaliknya di pedesaan sedang gencar paket wisata in bound dan outbound,” urainya.
Oleh karena itu, menurut Nurma, promosi BPW bisa digerakkan melalui web, media sosial, brosur, travel mart, tabel top, dan biro perjalanan lain.

Para pengampu 'Porwadis' mempresentasikan wisata kepada para mahasiswa Stiepar 'API' Yogyakarta | YP/Udi
Seorang pemandu wisata selain harus dibekali dengan kompetensi, sebaiknya juga didukung dengan kecerdasan sosial dan kepribadian yang baik. Menurut Akha Defi Harjati, karakter wisatawan bisa dibedakan menjadi individual tourist guide, group tour guide, domestic tourist guide, dan foreign tourist guide. "Ketiganya memerlukan pemahaman dan penguasaan atas standard operating procedur (SOP) pemandu wisata, yang meliputi pra opening, opening, guiding, rest and meal, at tourism object, dan closing," jelasnya.
Menyambut orientasi lapangan mahasiswa Stiepar "API" Yogyakarta tersebut, Kepala Dukuh Rajek Wetan, Widiarto, menyambut baik dengan tangan terbuka apalagi tengah berbenah terkait ditunjuknya Dewi Rawe mewakili Kecamatan Mlati untuk ikut dalam Lomba Program Kampung Iklim (Proklim) 2019. Proklim adalah gerakan nasional pengendalian perubahan iklim berbasis komunitas yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup. "Kami sangat berterima kasih atas ilmu yang dipaparkan mahasiswa Stiepar API kepada Pokdarwis karena merupakan bekal berharga untuk mengembangkan desa wisata alternatif" tandasnya. Lebih jauh Widiarto berharap agar interaksi wisata ini bisa berlanjut pada program-program pemberdayaan sehingga mempercepat tumbuh dan berkembangnya Dewi Rawe sebagai destinasi wisata berbasis budaya yang diminati.
Menutup temu wisata dalam rangka orientasi lapangan itu, Wahjudi Djaja mengharapkan agar uluran tangan kalangan akademisi dijadikan cambuk untuk berjuang meneguhkan identitas Dewi Rawe. “Ini momentum yang amat berharga bagi Dewi Rawe. Di tengah upaya mempersiapkan launching Dewi Rawe pada 2-5 Mei 2019, kita dipercaya pihak Kecamatan Mlati untuk terlibat dalam Lomba Proklim dan memperoleh dukungan moral dari Stiepar ‘API’ Yogyakarta. Memang tidak ringan, tetapi bukan hal yang mustahil untuk direalisasikan,” simpulnya.(Udi)
