Menangkal Stunting dengan Pemberian Asupan Gizi yang Cukup

share on:
Pemberian sertifikat peserta penyuluhan stunting || YP-Dedy Herdito

Yogyapos.com (KLATEN) - Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam seribuhari pertama kehidupan.

Masa seribu hari pertama kehidupan adalah masa sejak pertama kali terbentuknya janin dalam kandungan, atau 280 hari selama kehamilan hingga 720 hari pada dua tahun pertama kehidupan buah hati.

BACA JUGA:  https://www.yogyapos.com/berita-uaa-yogyakarta-lakukan-pendampingan-literasi-peduli-stunting-bagi-kader-tpa-guwo-5818

Fase ini disebut juga ‘periode emas’ karena pada masa ini terjadi pertumbuhan otakyangsangat pesat. Faktor penyebab stunting diantaranya kekurangan gizi dalam waktu lama, buruknya keragaman pangandan sumber protein hewani, rendahnya asupan vitamin dan mineral, kehamilan remaja dan jarak kelahiran anak yang pendek atau rendahnya akses terhadap  pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih. Dampaknya tumbuh kembang anak akan terganggu.

Penyuluh dan peserta penyuluhan stunting

Selain itu hambatan dalam perkembangan kognitif dan motoriknya akan mempengaruhi produktivitasnya saat dewasa serta lebih beresiko untuk menderita penyakit tidak menular.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-pemkab-sleman-raih-penghargaan-a-penurunan-stunting-7732

Demikian diungkapkan pemerhati kesehatan Saidatul Fauziah dalam penyuluhan stunting dan gizi anak pada warga Kelurahan Cawan, Kecamatan Jatinom, Klaten. Lebih lanjut dikatakannya bahwa pada ibu hamil sangat penting untuk memperhatikan asupan gizi karena membutuhkan nutrisi yang cukup.

“Hampir semua zat gizi harus ditambahkan, tapi pada saat hamil kebutuhan asam folat dan zat besinya dibutuhkan paling banyak jika dibandingkan pada ibu menyusui dan ibu normal,” kata Saidatul Fauziah, Kamis (15/9/2022).

Untuk itu perlu asupan vitamin E, zinc, zat besi dan asam folat. Vitamin E berguna untuk menebalkan dinding rahim, zinc untuk menjaga siklus ovulasi, zat besi untuk mencegah anemia sehingga anak yang dilahirkan berat badannya normal, dan asam folat untuk pembentukan otak dan syaraf penyusunnya pada janin.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-kerjasama-bkkbntni-percepat-penurunan-prevalensi-stunting-8276

Pada ibu menyusui kebutuhan nutrisinya sangat meningkat sehingga ibu harus memiliki makanan ringan di antara waktu makan serta harus makan 5-6 kali sehari. Di sisi lain kebutuhan cairan ibu mengalami peningkatan dengan adanya kondisi menyusui sehingga harus mengonsumsi minimal 8 hingga 12 gelas setiap hari untuk mencegah terjadinya dehidrasi dengan memilih minuman yang tidak mengandung gula.

Wanita kelahiran Tanjung Sanggau 25 Februari 1999 itu menyarankan bagi para ibu untuk mencegah anak stunting hendaknya mengkonsumsi asam folat untuk cegah cacat bawaan pada janin minimal sebulan  sebelum hamil atau rutin konsumsi zat besi saat menstruasi.

Minum suplemen tambah darah selama kehamilan serta rutin kontrol kehamilan minimal 6 kali yaitu 2 kali saat trimester pertama, 1 kali saat trimester kedua, dan 3x saat trimester ketiga. Tidak lupa melakukan inisiasi menyusui dini begitu bayi lahir, memberikan ASI ekslusif, dan meneruskan ASI sampai usia anak 2 tahun atau lebih.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-stikes-guna-bangsa-dorong-penyelesaian-kasus-stunting-di-bejiharjo-6210

Memberikan asupan karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayuran serta dan buah mulai usia 6 bulan dengan memperhatikan kapan anak lapar/kenyang, cara makan, dan olehsiapa (responsive feeding).Alumni Pendidikan Bidan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta itu juga berpesan agar para ibu selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan setelah makan, setelah  bermain, sebelum memasak, sesudah BAB, sebelum menyusui atau memerah ASI, dan sebelum menyiapkan alat makan/minum anak. “Jangan lupa kunjungi posyandu setiap bulan untuk mendapat  vitamin A dan obat cacing secara berkala. Biarkan anak bermain di ruang terbuka agar mendapat asupan vitamin D yang menjadi  penyokong tulang dan otot,” pungas Saidatul Fauziah.

Kegiatan ini merupakan program kerja mahasiswa Tim KKN UNY Cawan Berkawan 2022 di Balai Desa Cawan.

Saidatul Fauziah di hadapan peserta penyuluhan

Menurut Ketua KKN Cawan Berkawan Aditya Wardana penyuluhan ini merupakan salah satu solusi untuk memberikan pencerahan pada warga tentang stunting di Desa Cawan.

“Harapannya dengan sosialisasi ini dapat menekan angka stunting dan juga memberikan informasi serta pemahaman kepada orang tua terkait dengan bahaya dari permasalahan stunting dan juga bagaimana memberikan asupan gizi dan nutrisi yang baik pada anak atau balita,” kata mahasiswa prodi teknik manufaktur Fakultas Teknik tersebut.

Salah satu peserta sosialisasi, Risnawati merasa senang dengan adanya penyuluhan ini karena dapat memberi tambahan ilmu tentang stunting pada anak sehingga dapat lebih dini dalam mencegahnya. (Dedy Herdito)

 

 


share on: