Mendikbud: Pandemi Covid-19 Membuat Orangtua dan Guru Keluar dari Zona Nyaman

share on:
Para pembicara dalam sesi diskusi || YP-Ist

Yogyapos.com (JAKARTA) - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama @kokbisa, YouTube Learning, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meluncurkan Program "Akademi Edukreator". Program mengangkat tema ‘Membangun Dunia Pendidikan Baru. Akademi Edukreator merupakan sebuah rangkaian acara yang melatih para kreator konten edukasi demi membangun dunia pendidikan baru.

Akademi Edukreator diluncurkan oleh Mendikbud, Nadiem Anwar Makarim, Rabu, (6/5/2020) pukul 14.00 WIB. Peluncuran ditandai dengan digelarnya diskusi pendidikan, dimana Mendikbud menjadi salah satu pembicaranya. Akademi Edukreator meliputi 6 sesi diskusi dan menghadirkan 26 pembicara yang berlangsung hingga pukul 18.00 WIB. Sesi-sesi tersebut membahas bagaimana masyarakat memasuki era pendidikan baru, revolusi pendidikan, sampai masa depan pendidikan Indonesia di dunia internet.

“Pembelajaran online terasa menyulitkan, terlebih bagi mereka yang belum terbiasa melaksanakannya. Tapi ini masih lebih baik, karena ada hal yang dapat dipelajari dan dilakukan sehingga proses pembelajaran tetap berjalan. Lebih baik ada pembelajaran daripada tidak ada pembelajaran sama sekali,” ujar Mendikbud mengawali sesi pertama diskusi  melalui live video konferensi di Jakarta.

Menurutnya, wabah pandemi Covid-19 membuat orangtua dan guru terpaksa keluar dari zona nyaman. Mau tidak mau, saat ini jutaan orang menggunakan teknologi konferensi jarak jauh. Situasi dan kondisi yang terjadi berdampak terhadap proses transformasi ke online menjadi lebih cepat. Orang tua dan guru jadi mencoba hal baru yang cukup luar biasa.

“Ini merupakan kesempatan melakukan pembelajaran positif. Semua insan pendidikan harus bisa beradaptasi dengan keadaan. Jika Kemendikbud mengeluarkan platform terintegrasi maka proses transisinya menjadi lebih cepat,” ungkap Mendikbud.

Nadiem berharap regenerasi guru dapat berjalan baik. Generasi guru mendatang mestinya tidak hanya mengejar status pekerjaan. Generasi guru muda adalah mereka yang memiliki passion mengajar tinggi serta berpihak pada pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di dunia pendidikan.

"Generasi mendatang diharapkan matang, bukan hanya ingin kerja untuk kondisi stabil. Misalnya karena ingin jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Terpenting, guru yang baru masuk ini nanti juga harus matang dan mengenal teknologi,” lanjut Mendikbud yang sering disapa dengan Mas Menteri.

Dia melanjutkan, guru-guru sekarang maupun guru muda yang ada di sekolah saat ini bisa mendorong pendidikan ke arah lebih baik. Pihaknya telah merancang program guru penggerak dan sekolah penggerak. Program ini ke depannya melibatkan organisasi masyarakat (ormas) di bidang pendidikan. Karena itu ormas harus siap mengimplementasikan program-program bidang pendidikan untuk diterapkan pada sekolah-sekolah.

Nadiem menjelaskan, adanya kendala Covid-19 membuat beberapa program tertunda lalu akan terdorong (push) sampai krisis berakhir. Harapannya digitalisasi dan hal terkait lainnya menjadi akselerasi, momentumnya jadi dipercepat. Dari sisi itu dan kecepatan timnya mengeksekusi sudah cukup membuatnya senang.

“Program Merdeka Belajar terdiri dari beberapa seri atau babak episode. Kini sudah ada empat episode yang kami luncurkan, seperti penghapusan UN, mekanisme transfer BOS, sistem zonasi, dan organisasi penggerak. Semuanya itu dimaksudkan untuk memberikan otonomi, transparansi, efisiensi, dan fleksibilitas,” kata Mas Menteri.

Sementara pada sesi diskusi berikutnya turut menjadi pembicara diantaranya adalah: Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya), Sri Mulyani (Menteri Keuangan RI), Iwan Syahril (Staf Khusus Kemendikbud),  Nicholas Saputra (Aktor dan Produser), Yosi Mokalu (Ketua Siberkreasi), Chelsea Islan (Aktris dan aktivis sosial), Najelaa Shihab (Pendiri Semua Murid Semua Guru), Pepita Gunawan (Pendiri REFO Indonesia), serta sejumlah aktivis dan tokoh masyarakat lainnya. (Muf)


share on: