MIKO CAKCOY: Hape Menghambat Imajinasi Anak

share on:
Miko Cakcoy saat memaparkan hasil pengamatannya tentang 'wabah' negatif hape terhadap anak || YP/Mufti

Yogyapos.com (BANTUL) - Mayoritas anak-anak zaman sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya bermain handphone (hape). Karena di hape banyak aplikasi atau konten-konten yang membuat anak-anak merasa senang dan betah. Namun para orangtua tidak menyadari hape dapat menghambat imajinasi anak. Anak-anak tidak terbiasa lagi memainkan dolanan anak bersama teman-temannya. Demikian pula mendengarkan cerita, dongeng, atau lagu dolanan sebagai sarana pembangkit imajinasi mereka.

Miko Cakcoy Pathoknegoro menyampaikan paparan itu saat bertindak selaku narasumber dalam Forum Komunikasi (Forkom) Perpustakaan dan Kearsipan DIY, Selasa (4/2/2020) di Omah Kampung, Bantul. Kegiatan rutin dua bulanan tingkat DIY ini mengangkat tema ‘Menangkal Pengaruh Gadget Pada Anak’. Forkom dihadiri oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan se-DIY beserta jajarannya, pustakawan, arsiparis, dan sejumlah personil lainnya.

Cakcoy menyatakan keprihatinannya bahwa hape membuat anak-anak enggan bermain di alam bebas. Mereka jarang bergaul atau bersosialisi di dunia luar. Hal itu jelas berdampak tidak baik bagi perkembangan jiwa mereka kelak. Anak-anak cenderung egois tidak peduli lingkungan sekitarnya.

“Selain anak sendiri, di sekelliling kita ada keponakan atau anak-anak family, juga tetangga. Terlebih guru selalu berinteraksi bersama siswa-siswanya. Para orangtua mestinya mampu mengantisipasi dampak yang ditimbulkan hape,” ungkapnya.

Fenomenahape, terang Cakcoy, begitu menghantui kehidupan anak-anak dan remaja. Hape membuat orang di tempat jauh terasa dekat, sedangkan yang dekat terasa jauh oleh adanya aplikasi chat seperti Whatsapp. Di samping itu, perangkat terhubung internet ibarat teman sejati dalam aktivitas keseharian. Tidurpun terasa lebih nyenyak bila menyanding hape. Apalagidi kamar mandi dipastikan betah berlama-lama.

“Saat berada di suatu tempat, selfi merupakan hal wajib dilakukan. Lebih mendahulukan memotret dari pada menolong orang ketika ada kecelakaan,” kata pria yang juga mampu mendongeng di hadapan anak-anak.

Dalam forum cukup menyenangkan bagi para pesertaini, tak lupa Cakcoy menyampaikan bahaya dan pengaruh buruk hape terhadap anak. Diantaranya hape mengganggu pertumbuhan otak, membuat anak kurang tidur, rentan radiasi karena pancaran sinarnya. Hape menyebabkan anak jadi malas bergerak, hanyaterpaku di tempatsehinggaberpotensimengalamiobesitassampai kecanduan.

“Tips mengatasi kecanduan yang bias dilakukan antara lain membatasi penggunaan hape, menjadwalkan anak bermain hape, kemudian memberikan contoh-contohbaik. Misalnya ketikab ersama anak-anak di rumah, orangtua jangan sampai terlihat berlama-lama denganhape,” jelas dia sambil melontarkan guyonan.

Adanya hape disinyalir menjadi salah satu faktor rendahnya minat baca Indonesia. Rilist erbaru 2019 dari survey ba dan dunia menunjukkan kemampuan membaca pelajar Indonesia menempati peringkat 72 dari 78 negara. Meskipun hape cukup fenomenal, namun sebagai seorang motivator dia mengingatkan agar tetap mengutamakan buku apa pun keadaannya. Membaca buku dapat mengembangkan imajinasi serta kemampuan berpikir secara kritis.

“Membaca buku membuka peluang menyerap sebanyak mungkin pengetahuan bermanfaat bagi kehidupan. Selainitu, mencerdaskan intelektual, emosional, dan kepercayaan diri berpadu dengan kerendahan hati,” tambah Ki Dalang Wayang Dakwah Walisongo Reborn ini.

Pria yang sering membawakan acara ‘PengajianSeneng Takon’ ini memberikan strategi bagaimana meningkatkan minat baca keluarga terutama kepada anak-anak. Khususnya para orangtua agar mengajak anak meluangkan waktunya membaca. Lalu biarkan anak memilih sendiri buku bacaannya. Orangtua boleh memberikan tantangan agar anak terpancing terus membaca.

Pria bernama asli Miftahul Khoirini menyarankan untuk melibatkan seluruh keluarga dalam kegiatan membaca. Menumbuhkan minat baca guna menangkal pengaruh buruk hape pada anak harus diawali oleh orangtua. Contoh nyata yang dilakukan orangtua di rumah cenderung diikuti anak.

“Satu jangan sampai terlupa adalah berdoa. Semua orangtua pasti berdoa demi kebaikan anaknya. Kalau upaya dan doa sudah dilakukan maka tinggal tunggu hasilnya. Bila kita menanam kebaikan, insha Allah akan menuai kebaikan pula,” pungkas Cakcoy, MC sekaligus penyiar di sebuahs tasiun radio Yogyakarta. (Muf)


share on: