Yogyapos.com (SLEMAN) – Ada suasana yang berbeda dalam Upacara Puncak Acara Dies Natalies UNY ke-59 yang berlangsung di Auditorium UNY Kampus Karang Malang, Senin (22/5/2023).
Sebanyak 2000 lebih peserta upacara yang terdiri dari dosen, tenaga Pendidikan dan perwakilan Organisasi Kemahasiswaan mengenakan busana lurik dan blangkon khas Mataraman.
Upacara ditandai dengan pemberian penghargaan kepada para dosen dan tenaga Pendidikan berprestasi serta pemaparan pidato ilmiah Gubernur DIY Sri Sultan HB X yang kali ini dibacakan oleh GKR Mangkubumi.
Menurut Rektor UNY Prof Dr Soemaryanto MKes AIFO, pemilihan tema Busana Lurik dan penutup kepala blankon itu mengandung filosofi dan makna yang sangat dalam bagi masyarakat Yogyakarta, Indonesia. Kedua benda ini merupakan ikon dari budaya Mataraman yang melambangkan sikap religius dan persatuan.
Putri Sulung Keraton Yogyakarta GKR Mangkubumi saat membacakan pidato ilmiah Gubernur DIY Sultan HB X || YP- Sulistyawan Ds
”Busana ini penuh makna yang sangat dalam dan hal ini sangat sesuai dengan visi dan misi yang diemban oleh UNY dalam upaya mengembangkan diri,” ujar Sumaryanto kepada sejumlah awak media usai kegiatan.
Dijelaskan Sumaryanto, secara filosofis kain lurik melambangkan kekuatan, keberanian, dan keuletan. Tenunan tangan yang rumit dan teliti dalam pembuatan kain lurik mencerminkan ketekunan dan keuletan masyarakat Yogyakarta dalam menghadapi tantangan dan menjaga kelestarian budaya mereka.
“Kain lurik juga melambangkan keberagaman, karena terdiri dari banyak benang yang berbeda yang saling terjalin, mewakili keragaman masyarakat Yogyakarta yang bersatu dalam keberagaman,” ujar Sumaryanto.
Ditambahkan Sumaryanto, Blangkon, sebagai penutup kepala yang terbuat dari kain lurik, melambangkan identitas dan kebanggaan. Blangkon telah menjadi simbol kejantanan dan keberanian pria Yogyakarta selama berabad-abad. Dalam budaya Jawa, blangkon juga melambangkan status sosial dan keluarga seseorang. Bentuk lipatan blangkon yang khas menggambarkan keindahan dan keunikan dari kain lurik itu sendiri.
“Kain lurik dan blangkon juga mencerminkan nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan dalam masyarakat Yogyakarta. Proses pembuatan kain lurik dan blangkon sering melibatkan banyak orang, baik dalam penenunan kain maupun dalam penggunaannya dalam acara-acara tradisional. Ini menunjukkan kolaborasi dan solidaritas dalam menjaga dan memperkuat budaya lokal,” tegas Sumaryanto.
Selanjutnya Sumaryanto mengungkapkan, untuk selanjutnya pemakaian busana Lurik dan Blankon ini akan menjadi pakaian yang dikenakan setiap Kamis Pahing. Hal ini guna melestarikan nilai kearifan lokal terutama dalam berbusana tradisional.
”Jadi nanti para dosen akan mengajar dengan mengenakan busana lurik dan blangkon, sedangkan para tenaga pendidikan juga akan bertugas dengan mengenakan pakaian serupa,” ujarnya.
Para dosen dan tenaga pendidikan UNY mengenakan kain lurik sebagai simbol persatuan || YP- Sulistyawan Ds
Sementara itu, GKR Mangkubumi menyambut baik kebijakan kampus untuk mengenakan busana lurik dan blangkon pada hari-hari tertentu. Selain sebagai upaya pelestarian busana tradisional, hal tersebut juga secara langsung maupun tak langsung akan berdampak pada peningkatan perekonomian UMKM di DIY, khususnya bagi perajin kain lurik dan blangkon.
Bahkan GKR Mangkubumi berpesan, sebagai salah satu lembaga pengembang kebudayaan dan tradisi, lembaga kampus seperti UNY dapat mengajukan dana penelitian kepada Pemda DIY untuk mendapatkan supporting anggaran dari Dana Keistimewaan.
”Bisa saja itu diajukan. Tadi juga saya baru saja bicara dengan Pak Rektor mengenai hal tersebut,” tandas Mangkubumi. (Sds)
