Yogyapos.com (YOGYA) - Desa wisata Pampang, Paliyan, Gunungkidul berhasil masuk 10 besar untuk maju ke lomba tingkat nasional sebagai desa rintisan wisata. Ini tak terlepas dari pendampingan Civitas Akademika STIE Pariwisata "API" Yogyakarta.
Kepastian tersebut berdasarkan penilaian Tim Juri Nasional Kementerian Pariwisata Republik Indonesia melakukan visitasi di Desa Ekowisata Pampang. Tim juri dari Kemenpar dan Akademisi STIE Pariwisata API Yogyakarta diterima oleh pihak desa dan pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Ekowisata Pampang, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka adalah M. Husen Hutagalung dan Santi Palupi dari Kementrian Pariwisata RI. Sedangkan dari kampus STIE Pariwisata API Yogyakarta dihadiri oleh Susilo Budi Winarno, SH MH, Dra Endang Widayati MM, Yitno Purwoko SE MSc dan Drs Endro Isnugroho MSi serta mahasiswa yang ikut dalam kegiatan pendampingan desa.
“Pendampingan yang kami lakukan sejak 2017 tidak hanya sekedar menyadarkan masyarakat tentang pariwisata yang berasal dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Namun pendampingan yang kami lakukan juga memberikan beberapa pelatihan kepada masyarakat. Salah satunya pelatihan mengolah minyak jelantah agar dapat mempunyai nilai lebi,” ujar Ketua LPPM STIE Pariwisata API Yogyakarta, Dra Endang Widayati MM kepada yogyapos.com, Rabu (25/9/2019).
Sedangkan Husein Hutagalung dalam sambutannya menegaskan, prestasi yang diraih oleh STIE Pariwisata API Yogyakarta sangat luar biasa, karena perkembangan Desa Ekowisata Pampang yang hanya dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun sudah berkembang begitu pesat.
“Fasilitasi STIE Pariwisata API Yogyakarta ini luar biasa, mampu masuk sepuluh besar dari 1.750 pendampingan yang diajukan ke Kementrian Pariwisata. Apalagi dalam waktu yang hanya singkat perkembangan Desa Pampang ini begitu pesat” pujinya.
Setelah pertemuan di aula Kantor Desa Pampang dilanjutkan kunjungan lapangan. Lokasi yang dikunjungi yaitu Omah Jamu, Kampung Perak, Wisata Petik Semangka, Camping Ground, dan Taman Bendowo. Penilaian diakhiri di Taman Bendowo dengan diskusi antara Tim Juri Kementrian Pariwisata, Dosen dan mahasiswa STIE Pariwisata API Yogyakarta, Pokdarwis Desa Pampang dan masyarakat. Diskusi menguraikan manfaat adanya Desa Ekowisata Pampang bagi masyarakat dan peran STIE Pariwisata API Yogyakarta dalam pendampingannya serta apa saja yang telah dilakukan oleh mahasiswa yang melakukan pendampingan di Desa Ekowisata Pampang.
Husen Hutagalung juga memberikan motivasi dan semangat kepada pengelola dan masyarakat Desa Pampang. Anugrah alam di Desa Pampang tersebut sangat luar biasa, sehingga diimbau untuk jaga. “jagalah dan manfaatkan dengan bijak serta kembangkan menjadi sebuah daya tarik. Pariwisata tak selalu berhubungan dengan suatu objek menarik, namun masyarakat yang ramah itu bisa mendapatkan segmen pasar tersendiri,” pesannya.
Sementara itu Ketua STIE Pariwisata API Yogyakarta, Susilo Budi Winarno SH MH menjelaskan program pendampingan baik desa wisata maupun pelaku pariwisata.
"Hal ini sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan pengajaran, Penelitian dan pengembangan, serta Pengabdian kepada masyarakat. Pendampingan yang dilakukan oleh STIE Pariwisata API Yogyakarta salah satunya diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat dan mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan. Mulai tahun ini kami akan memperluas pendampingan di wilayah lain di Indonesia yang masuk dalam kategori 3 T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), sehingga bisa berkontribusi lebih luas lagi.” tandas Susilo . (Iud)
