Yogyapos.com (SLEMAN) - Meningkatnya aktivitas Gunung Merapi yang kini dalam status siaga atau level III, berdampak pula pada kunjungan peziarah yang menyambangi makam Mbah Maridjan, di Padukuhan Srunen, Kelurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman.
Tempat peristirahatan Mbah Maridjan atau Raden Ngabehi Surakso Hargo kini suasananya sangat sepi. Padahal biasanya makam ini menjadi salah satu wisata religi yang selalu ramai dikunjungi peziarah, karena almarhum Mbah Marijan dikenal sebagai juru kunci Gunung Merapi kala masih hidup, namanya makin populer lagi lantaran dirinya didapuk menjadi bintang iklan salah satu produk minuman energi.
“Ya kalau dulu mulai tahun 2011 sampai 2014 itu yang ziarah sangat banyak sekali, sampai harus mengantri, berurutan sesuai yang datang duluan,”tutur Juru Kunci Makam Mbah Maridjan, M Wiyono saat berbincang dengan yogyapos.com beberapa saat yang lalu di lokasi makam.
Selain terdampak oleh peningkatan aktifitas Gunung Merapi, ungkap dia, merebaknya Covid-19 menjadi musabab makin sepi peziarah yang menyambangi makam yang lokasinya berjarak sekitar 8,5 km dari puncak gunung Merapi ini.
“Selama kenaikan status Merapi ini yang ziarah ke makam Mbah Maridjan sudah tidak ada lagi, sebetulnya sepinya sudah sejak ada berita merebaknya Corona, kemarin sempat buka selama 5 hari mengikuti obyek wisata lainnya yang sudah mulai buka juga, karena ada erupsi gunung merapi ini sekarang mulai ditutup lagi,” ungkapnya.
Wiyono pun hanya bisa pasrah, dan berharap semoga ancaman erupsi Gunung Merapi tidak menimbulkan sesuatu hal yang sangat buruk dan tetap memberikan berkah. ”Kami hanya bisa mengikuti rekomendasi dari pemerintah, apabila suatu saat nanti diperintahkan untuk mengungsi ya tetap siap, saat ini tempat tinggal kami masih dalam radius aman lebih dari 5 km,” katanya.
Dalam catatan yang dihimpun yogyapos.com, Raden Ngabehi Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan lahir di Padukuhan Kinahrejo Sleman, 5 Februari 1927. Meninggal usia 83 tahun, saat terjadi erupsi besar Gunung Merapi pada 26 Oktober 2010. Amanah sebagai juru kunci ini diperoleh dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX. (Eko Purwono)
