Panen Raya Mbako Tali Abang, Sahun Buka Lapangan Pekerjaan

share on:
Sahun menata tembakau di rumahnya || YP-Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (KEBUMEN) - Jangan pernah menyerah pada nasib. Selagi Tuhan masih menganugerahi hidup, mengolah kesempatan adalah tugas mulia. Kemudahan dan keberkahan pasti akan datang dalam kehidupan kita.

Bisa jadi itu yang diyakini Sahun, petani tembakau di perbukitan Watulawang, Pejagoan, Kebumen. Ketekunan dan keikhlasan dalam menjalani hidup di daerah bebatuan dengan tanah yang gersang, tak pernah menyurutkan semangat dan daya hidupnya. Melangkah dan terus melangkah untuk mengolah tanah diniati sebagai ibadah. Hasilnya, panen tembakau yang melimpah ruah.

Menempati rumah yang sederhana di tepi jalan Pengaringan - Watulawang, Sahun benar-benar menjelma menjadi sosok yang teguh, tangguh dan inspiratif. Tak sebanding dengan tubuhnya yang relatif kecil. Jiwanya melampaui raga, terbang tinggi bersama angan dan cita-citanya. Sebuah teladan yang mewah dan berharga dari sosok tak banyak bicara yang tinggal di sebuah desa di pedalaman Bumi Panjer Nagari (Kebumen) ini.

Jemuran tembakau Watulawang milik Sahun || YP-Wahjudi Djaja

Di luar dugaan, Sahun seolah menjadi visualisasi sosok seperti yang dikehendaki sastrawan WS. Rendra. “Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh. Hidup adalah untuk mengolah hidup, bekerja membalik tanah, memasuki rahasia langit dan samodra, serta mencipta dan mengukir dunia,” tulis Rendra dalam Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya. 

Hari-hari ini seolah tak ada waktu bagi Sahun untuk beristirahat. Tembakau yang dia tanam bersama warga Watulawang memasuki musim panen. Dinamika seperti ini akan dia alami selama dua bulan. Panen tembakau datang silih berganti dari tanahnya sendiri maupun milik warga Watulawang. Area di sekitar rumahnya akan menjadi tempat menjemur tembakau. Sebuah pemandangan yang menggetarkan dada.

Sahun dan warga terlihat begitu semangat dan tak kenal lelah merajang, menata, menjemur dan membolak-balik jemuran tembakau. Sehari semalam setelah tembakau terkena sinar matahari dan embun pagi, Sahun kemudian mengolahnya menjadi Mbako Tali Abang khas Watulawang yang memiliki keunikan dan cita rasa yang tinggi.

Tentang rencana dan harapannya, Sahun yang berkehidupan penuh kesahajaan tak mau muluk-muluk. “Harapan ke depan yang penting apa yang kami miliki bisa berjalan dan para petani semakin semangat. Mudah-mudahan bisa semakin meningkat dan bisa mengurangi pengangguran di wilayah Watulawang,” katanya pelan tapi mendalam kepada yogyapos.com, Kamis (24/8/2023).

Salah seorang pemuda Watulawang, Ji Pek, menyampaikan, untuk menampung tembakau kiriman baru, Sahun mendirikan tenda di depan rumahnya. “Mas Sahun menggilir tembakau. Yang baru datang dari bawah ditaruh bawah tenda, yang sudah matang atau jadi disimpan di gudang. Untuk pekerjaan ini seperti kekurangan tenaga, sampai ibu-ibu juga terjun membantu Sahun,” jelasnya.

Ibu-ibu bekerja di rumau Sahun || YP-Wahjudi

Kepala Desa Watulawang Wasita menyampaikan harapannya, hasil dari tanaman tembakau tersebut bisa menghasilkan keberkahan. “Hasil jerih payah petani tembakau bisa untuk menopang ekonomi kehidupan petani tembakau dan sekaligus bisa untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar,” tandasnya.

Kami berharap, lanjut Wasita, hasil olahan tembakau dari Watulawang semakin banyak peminatnya dan lebih dikenal kalangan luas. “Kami selalu mendukung apa yang dilakukan Sahun. Walaupun zaman sudah berkembang masih bisa memberdayakan warga dan masyarakat sekitar untuk mengolah tembakau,” pungkasnya. (*/Iud)

 

 

 

 

 

 

 


share on: